INDOPOSCO.ID – Prospek energi baru terbarukan (EBT), khususnya panas bumi, dinilai tetap menjanjikan di tengah tekanan pasar saham Indonesia. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dinilai memiliki fondasi bisnis yang kuat berkat kontrak penjualan listrik jangka panjang, pertumbuhan kinerja keuangan, serta potensi pengembangan kapasitas panas bumi nasional.
Tim Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) menilai, investor perlu membedakan tekanan sentimen pasar dalam jangka pendek dengan fundamental perusahaan. Hal ini menyusul pengumuman proposal perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 16 Oktober 2026, dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Proposal tersebut masih dalam tahap konsultasi hingga 30 April 2027, dengan keputusan akhir dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. Pengumuman itu memicu sentimen negatif di pasar saham, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi 11,57 persen.
Dalam kondisi pasar yang cenderung menghindari risiko (risk-off), KISI memperkirakan tekanan dari investor asing berpotensi berlangsung secara bertahap hingga April 2027. Investor pun dinilai makin selektif terhadap emiten yang memiliki arus kas jelas dan tingkat utang rendah.
“Pasar cenderung selektif ke saham arus kas yang jelas dan utang rendah,” ujar Tim Riset KISI, Selasa (20/10/2026).
KISI menekankan pergerakan harga saham akibat aliran dana (fund flow) tidak serta-merta mengubah kondisi fundamental perusahaan. Fundamental bisnis tetap perlu dinilai berdasarkan kontrak, tingkat produksi, laba, dan struktur utang.
Di tengah volatilitas pasar, industri panas bumi dinilai memiliki prospek jangka panjang yang menarik. Indonesia memiliki potensi kapasitas panas bumi sekitar 24 Gigawatt (GW), tetapi baru sekitar 11 persen yang dikembangkan. Sumber energi ini juga memiliki keunggulan karena mampu menyediakan listrik secara berkelanjutan selama 24 jam atau sebagai baseload.
Selain potensi sumber daya yang besar, pengembangan panas bumi mendapat dukungan dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), yang menargetkan tambahan kapasitas panas bumi sekitar 5,2 GW hingga 2034.
Meski demikian, KISI menilai pengembangan industri tersebut masih menghadapi tantangan, terutama terkait keekonomian proyek dan penetapan tarif listrik energi terbarukan.
“Kendala utama pengembangan panas bumi bukan pada geologi, melainkan pada tarif,” jelas Tim Riset KISI.
Bagi PGEO, salah satu katalis yang perlu dicermati adalah penerbitan revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2022 mengenai percepatan pengembangan energi terbarukan untuk penyediaan tenaga listrik. Selain itu, realisasi proyek pengembangan, termasuk Hululais dan proyek co-generation berkapasitas 45 Megawatt (MW), turut menjadi faktor penting bagi pertumbuhan perusahaan.
Investor juga perlu memperhatikan kewajiban peningkatan porsi saham publik (free float) PGEO yang tercatat sebesar 3,9 persen, serta perkembangan suku bunga dan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, pendapatan berbasis USD dan kontrak jangka panjang menjadi salah satu penopang bisnis perusahaan.
“Untuk PGEO, sekitar 96 persen pendapatan terkontrak dengan PLN selama 30 tahun dengan skema take-or-pay 69-90 persen. Artinya, arus kas tidak ikut turun saat indeks jatuh,” kata Tim Riset KISI.
Dari sisi kinerja keuangan, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk membukukan pendapatan sebesar USD235,027 juta pada semester I-2026, tumbuh 14,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Laba bersih perusahaan juga meningkat 15,48 persen YoY menjadi USD79,605 juta.
Kinerja operasional turut menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang Januari hingga September 2026, produksi listrik panas bumi PGE mencapai sekitar 4.114 gigawatt hour (GWh), naik 9,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Equivalent Availability Factor (EAF) kumulatif mencapai 98,51 persen per September 2026, melampaui rencana sebesar 92,20 persen. Capaian tersebut mencerminkan tingkat ketersediaan fasilitas operasi yang berada di atas target perusahaan.
Dari sisi neraca, PGE mencatatkan ekuitas sebesar USD2,006 miliar serta kas dan setara kas USD656,6 juta per Juni 2026. Pada semester I-2026, perusahaan mengelola kapasitas panas bumi sebesar 727 MW secara mandiri, dengan margin Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) 78,3 persen dan rasio net debt terhadap EBITDA sebesar 0,1 kali.
KISI menyarankan investor untuk menilai prospek jangka panjang perusahaan panas bumi melalui sejumlah indikator, antara lain kapasitas terpasang, capacity factor, struktur kontrak dan tarif, margin EBITDA, serta tingkat leverage. Indikator-indikator tersebut dinilai penting untuk melihat kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas dan mendukung ekspansi bisnis.
Untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, PGE tengah mengerjakan sejumlah proyek pengembangan, termasuk Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.
Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 GW pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034. Pencapaian target tersebut akan bergantung pada realisasi proyek, dukungan kebijakan, serta kepastian keekonomian pengembangan panas bumi.
Secara keseluruhan, KISI menilai prospek industri panas bumi tetap menarik, tetapi investor perlu mempertimbangkan peluang dan risiko secara berimbang. Kinerja keuangan, operasional, strategi bisnis, serta prospek industri perlu menjadi dasar penilaian, bukan semata-mata pergerakan harga saham dalam jangka pendek.
Di tengah tekanan sentimen pasar, kontrak jangka panjang dan pertumbuhan operasional dapat menjadi faktor penopang fundamental PGEO. Meski demikian, arah pemulihan harga saham tetap belum dapat dipastikan karena dipengaruhi oleh dinamika aliran dana, kebijakan energi, perkembangan proyek, serta kondisi makroekonomi. (srv)

















