INDOPOSCO.ID – Di tengah kepanikan pasar setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembap 11,57 persen ke level 5.185, pengusaha senior Mohammad Jusuf Hamka justru melihat peluang berburu saham berharga murah. Tak tanggung-tanggung, ia menyiapkan dana konsorsium sekitar Rp5 triliun untuk masuk ke pasar modal pada Senin (19/10/2026).
“Nah, ini ‘opportunity’ bagi pengusaha. Ini saatnya beli,” kata Babah Alun dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, dikutip pada Senin (19/10/2026).
Pengusaha yang akrab disapa Babah Alun itu menilai kejatuhan harga saham bisa menjadi momentum bagi investor domestik untuk mengakumulasi saham unggulan, terutama emiten berfundamental kuat dan rutin membagikan dividen.
“Di kelompok kita, Rp5 triliun kita akan belanja di market, pada hari Senin (19/10/2026),” jelasnya.
Langkah tersebut sekaligus menjadi ajakan bagi pengusaha nasional agar tidak hanya menjadi penonton ketika pasar modal Indonesia tertekan. Menurutnya, investor dalam negeri perlu berani mengambil keputusan secara mandiri, tanpa terlalu bergantung pada rekomendasi lembaga asing seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Babah Alun menganggap koreksi tajam justru membuka kesempatan untuk membeli saham dengan valuasi lebih menarik. Ia pun membidik sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar yang dinilai memiliki fundamental solid dan potensi dividen menjanjikan.
“Ada Bank Mandiri, ada BRI, ada BNI. Ada Bank BCA, ini harganya Rp3.000, Rp4.000 dan Rp5.000. Tapi dividennya ada yang Rp450, ada Rp350, rata-rata dividennya 8-9 persen. Jadi kita pegang barang ini, dapat dividen setiap tahun. Dividen 8 persen lebih tinggi dari deposito,” ungkap Babah Alun.
Ia mencontohkan saham Bank Mandiri (BMRI), yang menurutnya pernah diperdagangkan di kisaran Rp6 ribu-Rp7 ribu per lembar, sebelum turun ke rentang Rp3.300-Rp3.400. Penurunan harga tersebut dinilai membuka peluang bagi investor yang mengincar potensi pemulihan harga sekaligus pendapatan dividen.
“Bank Mandiri itu, yield dibagi dividen, kalau enggak salah sekitar Rp450. Kalau sekarang Harga sahamnya Rp3.500, maka yield-nya hampir 12 persen setiap tahun. Lebih dari deposito,” imbuhnya.
Selain potensi imbal hasil, Babah Alun menilai kepemilikan pemerintah pada Bank Mandiri menjadi salah satu pertimbangan investasinya. Meski demikian, pergerakan harga saham tetap mengandung risiko dan tidak menjamin keuntungan.
“Sehingga kita akan enak tidur. Makanya Senin ayo cari cuan di pasar modal,” katanya.
Ia juga mengajak pengusaha nasional ikut memperkuat pasar modal sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia.
“Kalau Indonesia sedang sedih atau menderita, kita wajib turun tangan. Yuk bergandengan tangan dengan pemerintah. Kalau kelompok saya saja bisa Rp5 triliun mau belanja, puluhan ribu pengusaha kita yang mampu. Senin kita kita ke bursa,” ucap Babah Alun.
“Ayo teman-teman yang telah sekian lama menikmati hasil alam, hasil bumi. Sekarang waktunya kita berbakti kepada negeri yang sama-sama kita cintai ini,” tambahnya.
Tekanan terhadap IHSG dipicu kekhawatiran investor setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Namun, perubahan status tersebut belum diputuskan. Proses konsultasi dijadwalkan berlangsung hingga 30 April 2027, sementara keputusan final ditargetkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. (her)

















