INDOPOSCO.ID – Malam Anugerah Piala Hans Bague (H.B) Jassin 2026 berhasil digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada, Sabtu (17/10/2026). Penyelenggaraannya tidak hanya menjadi panggung penghargaan, melainkan menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk mengenal sastra lebih dekat.
Semangat Hans Bague Jassin dalam menghimpun, mendokumentasikan, dan melestarikan karya sastra Indonesia menjadi landasan penting bagi keberlanjutan kegiatan itu. H.B Jassin yang dikenal dengan julukan “Paus Sastra Indonesia” lahir di Gorontalo pada 31 Juli 1917 dan wafat 11 Maret 2000 di Jakarta
Piala H.B. Jassin berupaya meneruskan semangat tersebut dengan memperluas ruang kreativitas, menggali potensi penulis, dan memperkuat ekosistem kesusastraan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono menegaskan, kegiatan tersebut bukan hanya sebagai kompetisi tahunan, melainkan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengembangkan kesusastraan dan memperluas partisipasi masyarakat dalam kegiatan literasi.
“Kegiatan Piala H.B. Jassin ini merupakan agenda utama dalam rangkaian kegiatan Festival Sastra H.B. Jassin 2026,” kata Nasruddin dalam keterangannya, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Antusiasme terhadap Piala H.B. Jassin 2026 tercermin dari 14.988 partisipasi pendaftaran perseorangan dan grup dalam empat mata lomba. Kompetisi tahun ini mencakup beragam bentuk ekspresi sastra, mulai dari pembacaan puisi, penulisan cerita pendek, kritik sastra, hingga musikalisasi puisi.
Penganugerahan itu mempertemukan dua sisi penting dalam kehidupan sastra: penghormatan kepada mereka yang telah menempuh perjalanan panjang berkarya dan pengakuan terhadap generasi baru yang sedang membangun jalannya sendiri.
Keduanya merupakan bagian dari mata rantai yang membuat sastra terus bergerak, berkembang, dan menemukan relevansinya di tengah perubahan zaman.
Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto menggarisbawahi pentingnya cerita dan pengetahuan dalam perjalanan sebuah kota. Pesan tersebut menjadi landasan bagi Gerakan Literasi 5 Abad Jakarta untuk menjadikan momentum 2027 sebagai kesempatan berkarya bersama.
“Karena Jakarta bukan hanya kota yang terus dibangun, tetapi juga kota yang terus ditulis, diceritakan, dan diwariskan,” jelas Uus dalam kesempatan yang sama.(dan)

















