INDOPOSCO.ID – Sampah dapur yang selama ini menjadi persoalan lingkungan ternyata bisa diubah menjadi sumber penghasilan. Melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), Universitas Terbuka (UT) mendorong warga RW 04 Kelurahan Cipayung, Jakarta Timur (Jaktim), mengolah sampah organik menjadi pakan ternak bernilai ekonomi sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar Tim Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UT tersebut mengintegrasikan dua persoalan yang dihadapi permukiman padat perkotaan, yakni kerawanan bencana dan pengelolaan sampah organik rumah tangga.
Di kawasan dengan gang-gang sempit dan bangunan yang saling berhimpitan, kebakaran menjadi ancaman serius. Di sisi lain, sampah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan limbah dapur masih menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Melihat kondisi tersebut, Tim PkM UT menghadirkan pendekatan pemberdayaan berbasis masyarakat melalui penyusunan peta mitigasi bencana secara partisipatif dan pelatihan budidaya maggot BSF. Program ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi keluarga.
Dalam pelatihan budidaya maggot, UT menghadirkan Umar Hamzah, praktisi yang memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun dalam mengembangkan budidaya larva BSF.
Maggot BSF dikenal memiliki kemampuan mengurai limbah organik dengan cepat. Larva ini juga mengandung protein sekitar 40–48 persen dan lemak 25–32 persen sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak dan ikan.
“Dengan pengelolaan yang tepat, hasil budidaya dapat dijual atau diolah menjadi tepung pakan untuk memenuhi kebutuhan secara mandiri,” ungkap Umar dalam keterangan, Sabtu (17/10/2026).
Menurutnya, siklus budidayanya pun relatif singkat. Telur menetas dalam waktu sekitar tiga hari, dilanjutkan fase larva selama kurang lebih 15 hari. Dengan tahapan pembesaran yang sesuai, maggot dapat dipanen sekitar hari ke-20.
“Dengan kandang berukuran 2 x 7 meter yang dibangun menggunakan rangka kayu, waring hijau, dan atap plastik UV disebut mampu menghasilkan sekitar 200 kilogram maggot dalam satu siklus produksi,” ujarnya.
Potensi tersebut, menurutnya, membuka peluang bagi warga untuk memulai usaha dari skala kecil, termasuk memanfaatkan pekarangan terbatas atau area atap rumah dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan budidaya.
“Maggot BSF adalah solusi yang selama ini ada di depan mata tapi tidak pernah dilihat. Limbah dapur yang selama ini menjadi masalah bisa menjadi aset. Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun, saya bisa membuktikan bahwa ini bukan teori, ini praktik nyata yang bisa dijalankan siapa saja,” kata Umar.
Ketua Tim PkM PWK UT Mirza Permana menyerahkan alat pencacah pakan maggot kepada pengurus wilayah RW 04. Peralatan tersebut diharapkan membantu mempercepat proses pengolahan limbah organik menjadi media budidaya.
Mirza juga mengatakan, pada kesempatan tersebut tim juga menyerahkan peta rencana infrastruktur mitigasi bencana yang disusun melalui proses diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) bersama warga.
“Warga dilibatkan untuk mengidentifikasi titik-titik rawan, menyepakati jalur evakuasi, serta menentukan lokasi penempatan alat pemadam api ringan (APAR),” katanya.
Dengan pendekatan ini, menurutnya, peta mitigasi tidak sekadar menjadi dokumen perencanaan, tetapi juga menjadi panduan yang disusun berdasarkan kebutuhan dan pengetahuan masyarakat setempat. “Kami tidak datang dengan jawaban yang sudah jadi. Kami datang dengan proses,” ujar Mirza.
“Peta ini adalah hasil dari warga yang duduk bersama, menunjuk gang mana yang paling berbahaya, dan merencanakan sendiri bagaimana mereka akan selamat jika situasi atau bencana datang mengancam,” sambung Mirza.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan permukiman, terutama di kawasan padat yang memiliki keterbatasan infrastruktur dan akses penanganan darurat.
Ia menuturkan, program di RW 04 Kelurahan Cipayung tersebut menjadi salah satu upaya UT mengintegrasikan mitigasi bencana, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu kegiatan berbasis komunitas.
Ia menambahkan, pendekatan ini juga berpotensi direplikasi di kawasan permukiman padat lainnya di Jakarta maupun kota-kota besar di Indonesia yang menghadapi persoalan serupa. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda riset dan pengabdian jangka panjang PWK UT bertema Penguatan Resiliensi Permukiman Padat Perkotaan melalui Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dan Perencanaan Partisipatif Kampung Kota.
“Melalui program ini kami mendorong masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat aktif dalam merancang solusi bagi lingkungannya sendiri,” ungkapnya.
“Sehingga upaya menciptakan kampung yang lebih aman dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan sampah yang lebih produktif dan peluang ekonomi baru bagi warga,” imbuhnya. (nas)
Caption:
Tim PkM UT bekali masyarakat di Cipayung pengolahan limbah organik untuk budidaya Maggot. Foto: Dok UT

















