INDOPOSCO.ID – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong perguruan tinggi mencetak wirausaha muda yang mampu menembus pasar internasional. Langkah ini dilakukan untuk memperluas basis eksportir nasional sekaligus meningkatkan kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap ekspor Indonesia hingga 40 persen dalam jangka panjang.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendag Isy Karim mengatakan, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional saat ini masih berkisar 15-16 persen. Karena itu, diperlukan upaya serius untuk memperkuat kapasitas UMKM agar mampu menjadi eksportir maupun pemasok bagi industri berorientasi ekspor.
“Dalam jangka menengah, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional diharapkan mencapai 30 persen dan meningkat menjadi 40 persen dalam jangka panjang,” ujar Isy dalam keterangan, Sabtu (17/10/2026).
Isy menjelaskan, kinerja perdagangan Indonesia masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada Januari-Agustus 2026 mencapai USD 193,64 miliar atau tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus USD 7,25 miliar.
Menurut dia, capaian tersebut perlu diikuti dengan peningkatan partisipasi UMKM dalam perdagangan internasional. Untuk mencapai target itu, Kemendag menargetkan pengembangan sedikitnya empat juta UMKM dalam lima tahun ke depan agar mampu menjadi eksportir aktif atau pemasok industri berorientasi ekspor.
Target tersebut, menurutnya, setara dengan pengembangan sekitar 800 ribu UMKM setiap tahun. Upaya ini membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi yang dinilai memiliki potensi besar dalam mencetak wirausaha muda. “Perguruan tinggi memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan wirausaha muda nasional,” katanya.
“Melalui pengembangan kewirausahaan di lingkungan kampus, kita mengharapkan lahirnya generasi muda yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memiliki kesiapan untuk menjadi eksportir maupun pemasok bagi industri berorientasi ekspor,” sambung Isy.
Untuk mendukung target tersebut, Kemendag mengoptimalkan Program Campuspreneur yang diluncurkan Menteri Perdagangan. Program ini, menurutnya, dirancang untuk mengembangkan potensi kewirausahaan mahasiswa melalui penguatan kapasitas usaha, pendampingan produk.
“Ini untuk memenuhi standar pasar ekspor, perluasan jejaring perdagangan internasional, serta fasilitasi akses permodalan bagi perusahaan rintisan,” ungkapnya.
Hingga saat ini, sebanyak 27 perguruan tinggi telah bergabung dalam Program Campuspreneur. Kemendag berharap program tersebut dapat menghubungkan inovasi mahasiswa dengan kebutuhan pasar global sekaligus memperluas lahirnya eksportir baru dari kalangan generasi muda.
“Melalui Program Campuspreneur, kami ingin membangun ekosistem yang menghubungkan inovasi mahasiswa dengan kebutuhan pasar global,” ujarnya.
“Sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi kunci untuk melahirkan wirausaha muda yang berdaya saing dan mampu membawa produk Indonesia menembus pasar internasional,” imbuhnya.(nas)

















