INDOPOSCO.ID – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah cara masyarakat memperoleh informasi sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi industri media dan profesi komunikasi. Menghadapi perubahan tersebut, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) menekankan pentingnya penguatan etika, kemampuan berpikir kritis, serta kepercayaan publik.
Ketua Umum ISKI Atwar Bajari menyampaikan hal tersebut dalam peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-43 ISKI di Universitas Tarumanagara (Untar), Jakarta. Menurutnya, momentum peringatan ini tidak sekadar menjadi ajang merayakan perjalanan organisasi, tetapi juga memperkuat kontribusi ilmu komunikasi dalam menjawab tantangan zaman.
“Pada ulang tahun ke-43 ini, saya mengajukan sebuah tesis: ISKI harus mengubah besarnya komunitas menjadi besarnya kontribusi,” ujar Atwar melalui keterangan pers, Jumat (16/10/2026).
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran tersebut menilai, lulusan ilmu komunikasi perlu memiliki kompetensi yang lebih luas daripada sekadar memproduksi pesan. Kemampuan penalaran, riset, pemahaman terhadap manusia, dan penerapan etika menjadi bekal penting di tengah perkembangan teknologi.
Karena itu, ISKI mendorong penguatan kapasitas anggota, peningkatan kompetensi, serta kolaborasi antara akademisi, praktisi, industri, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Zaman terus berganti. Tanggung jawab kita terhadap manusia harus semakin besar,” tegas Atwar.
Tantangan ilmu komunikasi di era AI juga menjadi pembahasan dalam diskusi HUT ke-43 ISKI bertajuk “Ketika AI Mengubah Komunikasi: Apa yang Harus Kita Kuatkan?” yang berlangsung di Universitas Tarumanagara pada Senin (12/10/2026).
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rama Kertamukti, mengatakan pemanfaatan AI membuka peluang untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi proses komunikasi. Namun, perkembangan tersebut juga memunculkan persoalan terkait autentisitas informasi, bias, privasi, kepengarangan, dan akuntabilitas.
Menurutnya, pengguna teknologi dan pelaku komunikasi perlu memahami bukan hanya kemampuan AI, melainkan juga konteks penggunaannya, aspek etika, serta tanggung jawab manusia atas informasi yang dihasilkan.
Penggunaan AI, terutama untuk informasi yang berdampak pada masyarakat, tetap membutuhkan penilaian dan pengawasan manusia. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak menghilangkan tanggung jawab dalam memastikan informasi yang disampaikan dapat dipercaya.
Dari sisi industri media, perkembangan AI turut mengubah pola masyarakat dalam mencari dan mengonsumsi informasi. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi trafik kunjungan ke situs berita hingga pendapatan perusahaan media.
Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika menjelaskan, industri media kini menghadapi pergeseran dari search economy menuju answer economy. Jika sebelumnya masyarakat mengandalkan mesin pencari untuk menemukan artikel, kini mereka semakin terbiasa memperoleh jawaban langsung melalui layanan berbasis AI.
Perubahan pola konsumsi informasi tersebut berpotensi mengurangi kunjungan ke situs berita dan berdampak pada pendapatan media yang bergantung pada trafik digital.
Sebagai salah satu alternatif, Wahyu mengusulkan agar perusahaan media mempertimbangkan pengembangan small language models (SLM), yakni model bahasa berukuran lebih kecil yang dirancang untuk kebutuhan tertentu.
Menurutnya, media tidak harus membangun model AI berskala besar seperti large language models (LLM), tetapi dapat mengembangkan teknologi yang berfokus pada informasi spesifik, kebutuhan audiens, dan konteks lokal.
“Layanan AI seperti ChatGPT, Gemini merupakan bentuk large language models (LLM). Media tidak perlu membuat LLM, tetapi mengembangkan SLM yang berisi informasi spesifik dan benar-benar dibuatkan audiens-nya,” ujar Wahyu.
Pendekatan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu pilihan bagi perusahaan media untuk mengembangkan layanan informasi yang lebih terarah sekaligus mempertahankan relevansi konten bagi pembacanya.
Rektor Universitas Tarumanagara, Amad Sudiro, menekankan bahwa komunikasi yang jelas, jujur, dan bertanggung jawab semakin penting di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Menurutnya, komunikasi berperan dalam membangun kepercayaan, menjembatani perbedaan, dan memperkuat kehidupan bersama. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi komunikasi diperlukan untuk mengembangkan ilmu sekaligus memperkuat penerapannya di masyarakat.
Amad mengatakan dukungan Untar sebagai tuan rumah peringatan HUT ke-43 ISKI merupakan bagian dari upaya mempererat hubungan antara dunia akademik dan organisasi profesi. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka ruang bagi pengembangan ilmu, praktik, dan ekosistem komunikasi Indonesia.
Peringatan HUT ke-43 ISKI juga ditandai dengan peluncuran situs web resmi organisasi sebagai sarana memperkuat penyebaran informasi dan komunikasi dengan anggota maupun publik.
Selain itu, acara diisi dengan penayangan video ucapan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang menyampaikan pesan mengenai pentingnya peran komunikasi dalam menghadapi perkembangan teknologi dan dinamika ruang informasi.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan penyerahan potongan tumpeng kepada Ketua ISKI DKI Jakarta Anita Wulandari Prasojo, Ketua Dewan Guru Besar ISKI Dadang Rahmat Hidayat, serta tokoh ISKI Atie Rahmiatie.
ISKI berdiri pada 12 Oktober 1983. Memasuki usia ke-43, organisasi ini menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan ilmu komunikasi dan memperkuat kontribusi para anggotanya bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi perubahan ekosistem informasi di era AI. (her)

















