INDOPOSCO.ID – Di tengah gejolak geopolitik, disrupsi rantai pasok global, pesatnya kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), hingga transisi energi, risiko bisnis kini tak lagi berhenti di batas negara. Lanskap yang kian rumit ini menuntut transformasi besar di tubuh korporasi: in-house counsel tidak lagi sekadar menjadi penjaga gerbang kepatuhan (gatekeeper), melainkan pengemudi navigasi strategi bisnis.
Isu krusial ini menjadi sorotan utama dalam Indonesian In-House Counsel Summit & Awards (IHCSA) 2026 yang diselenggarakan oleh Hukumonline bekerja sama dengan Indonesian Corporate Counsel Association (ICCA) pada 8-9 Oktober 2026 di Nusa Dua, Provinsi Bali.
Mengusung tema “Unlocking Growth in the Age of Complexity 2027”, gelaran bertaraf regional Asia Pasifik ini mempertemukan para pimpinan hukum perusahaan, general counsel, praktisi hukum, hingga regulator dari berbagai negara.
Navigasi Risiko Lintas Yurisdiksi
Presiden ICCA sekaligus Sekretaris Jenderal Asia Pacific Corporate Counsel Alliance (APCCA), Seradesy Sumardi, mengungkapkan kompleksitas dunia usaha saat ini jauh melampaui sekadar bertambahnya lembaran regulasi.
Satu keputusan bisnis saat ini dapat memicu rantai dampak multi-sektor mulai dari hukum lintas yurisdiksi, perlindungan data, hak kekayaan intelektual (HKI), standar Environmental, Social, and Governance (ESG), hingga risiko reputasi.
Oleh karena itu, tim legal dituntut memahami motif bisnis di balik setiap keputusan, guna menemukan jalan keluar yang aman tanpa mengorbankan tata kelola korporasi.
Perubahan peta risiko ini menggeser secara mendasar posisi fungsi legal di dalam struktur perusahaan. Chief Executive Officer Hukumonline, Arkka Dhiratara, menyebutkan bahwa pergeseran ini merupakan transformasi terbesar dalam sejarah fungsi hukum korporasi.
Senada dengan hal tersebut, Chief Media & Engagement Officer Hukumonline, Amrie Hakim, mengatakan keterlibatan in-house counsel saat ini sudah masuk ke dalam ruang pengambilan keputusan strategis, manajemen risiko, dan penentuan arah jangka panjang perusahaan.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, Indonesian In-House Counsel Awards (IHCA) 2026 hadir untuk mengapresiasi inovasi dan kepemimpinan tim hukum perusahaan. Tahun ini, penilaian disempurnakan dengan tiga prinsip utama (objectivity, integrity, excellence) melalui survei data primer terhadap entitas korporasi.
Salah satu terobosan penting tahun ini adalah diperkenalkannya kategori baru: Indonesia’s Best Legal Prevention Program, yang menyoroti pentingnya tindakan preventif sebelum risiko berkembang menjadi krisis bisnis.
Kolaborasi Kawasan Asia Pasifik
Melalui kolaborasi Hukumonline, ICCA, APCCA, serta dukungan puluhan institusi korporasi dan kantor hukum terkemuka, IHCSA 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga jembatan memperkuat jejaring profesional lintas negara.
Di tengah dunia yang makin kompleks, hukum tak lagi dipandang sebagai rem yang menghambat laju bisnis, melainkan fondasi kokoh agar ekspansi perusahaan berjalan dengan kepastian, tata kelola yang baik, dan ketahanan tinggi. (rmn)

















