INDOPOSCO.ID – Satuan pendidikan yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai kembali menggelar pembelajaran tatap muka secara normal. Berdasarkan data hingga 10 September 2026, sebanyak 487 satuan pendidikan sudah menjalankan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas.
Pernyataan tersebut diungkapkan Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Saryadi secara daring, Senin (14/9/2026). Ia menuturkan, meski demikian, proses pemulihan belum sepenuhnya tuntas.
Sebanyak 2.443 satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA, SMK, dan SLB tercatat terdampak bencana.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 330 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat. Sementara dari 13.750 ruang kelas yang telah dilaporkan, sebanyak 8.398 ruang kelas dinyatakan rusak,” ungkapnya.
Ia menuturkan, angka tersebut masih dapat berubah seiring pendataan dan verifikasi yang terus dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama pemerintah daerah.
“Tim verifikasi dari berbagai direktorat telah diterjunkan untuk memastikan kondisi satuan pendidikan terdampak. Tim tersebut melibatkan unsur PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), hingga bidang pendidikan lainnya,” ujarnya.
Di sisi lain, ribuan satuan pendidikan masih harus menjalankan pembelajaran dengan kondisi darurat. Kegiatan belajar mengajar dilakukan di tenda, ruang terbuka, maupun ruang kelas sementara akibat fasilitas sekolah yang belum sepenuhnya dapat digunakan.
Ia mengatakan, pemerintah memastikan proses pemulihan pendidikan terus dilakukan secara bertahap. Sekolah yang mengalami kerusakan akan mendapatkan pendampingan agar kegiatan pembelajaran dapat kembali berlangsung secara normal.
“Kami menyampaikan duka cita mendalam atas korban jiwa dari lingkungan satuan pendidikan dalam bencana tersebut, 6 siswa dan seorang guru,” ungkapnya.
“Kami mengapresiasi kerja sama kepala sekolah, guru, pemerintah daerah, serta seluruh mitra di daerah yang terus berupaya menjaga kegiatan belajar mengajar tetap berjalan di tengah kondisi bencana,” imbuhnya. (nas)















