INDOPOSCO.ID – PT United Tractors Tbk (UT) membukukan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp58,3 triliun hingga semester pertama 2026, turun 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp68,5 triliun.
Kinerja tersebut disampaikan United Tractors dalam Paparan Publik yang merupakan bagian dari rangkaian Public Expose Live 2026 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Senin (7/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, perseroan memaparkan perkembangan bisnis, kinerja keuangan dan operasional hingga Juli 2026, serta pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan.
Presiden Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro bersama jajaran direksi hadir dalam paparan publik tersebut. Manajemen menjelaskan, penurunan pendapatan terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya penjualan emas PT Agincourt Resources serta pelemahan kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal dan metalurgi.
Tekanan pada bisnis batu bara tidak terlepas dari alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah. Namun, dampak tersebut sebagian berhasil diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari bisnis kontraktor penambangan, yang terutama didorong oleh penguatan kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih United Tractors, tidak termasuk pos non-recurring items, tercatat Rp4,3 triliun, atau turun 48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan laba tersebut terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya penjualan emas Agincourt Resources dan penurunan pendapatan yang berkaitan dengan penyesuaian RKAB batu bara nasional. Penjualan emas dari Tambang Emas Martabe juga terdampak penghentian sementara kegiatan operasional tambang. Namun, operasional tambang tersebut telah kembali berjalan pada kuartal kedua 2026.
Sementara itu, sepanjang semester pertama 2026, perseroan mencatat non-recurring items sebesar Rp3,3 triliun. Pos tersebut terutama berasal dari penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Salah satu bisnis yang mengalami tekanan adalah segmen alat berat. Hingga Juli 2026, penjualan alat berat Komatsu United Tractors turun 23 persen menjadi 2.393 unit.
Penurunan terutama terjadi pada penjualan alat berat berukuran besar atau big machine untuk sektor pertambangan yang turun 49 persen menjadi 405 unit. Kondisi tersebut sejalan dengan lebih rendahnya alokasi RKAB batu bara nasional tahun ini.
Meski penjualan unit alat berat melemah, bisnis layanan purna jual masih menunjukkan pertumbuhan. Hingga semester pertama 2026, pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat meningkat 1 persen menjadi Rp5,5 triliun.
Namun, secara keseluruhan pendapatan bersih segmen Alat Berat turun 28 persen menjadi Rp15 triliun.
United Tractors juga terus mengembangkan bisnis pendukung untuk memperkuat layanan purna jual dan rantai pasok komoditas. Bisnis tersebut mencakup layanan engineering, manufaktur komponen dan attachment alat berat, hingga layanan logistik maritim serta pembuatan dan pemeliharaan kapal.
Berbeda dengan alat berat, segmen kontraktor penambangan masih mencatat pertumbuhan pendapatan. Bisnis yang dijalankan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) tersebut membukukan pendapatan bersih Rp27,2 triliun hingga semester pertama 2026, naik 4 persen.
Namun dari sisi operasional, volume pekerjaan pemindahan tanah PAMA dan KPP Mining hingga Juli 2026 turun 10 persen menjadi 573 juta bank cubic meter (bcm). Sementara volume produksi batu bara untuk para klien turun 3 persen menjadi 80 juta ton, dengan rata-rata stripping ratio sebesar 7,1 kali.
Penyesuaian tersebut mengikuti target produksi para klien berdasarkan RKAB yang telah disetujui.
Di tengah perubahan lanskap industri pertambangan, PAMA dan KPP Mining juga memperkuat ekspansi ke komoditas mineral selain batu bara, khususnya emas dan nikel. Diversifikasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk membangun portofolio bisnis yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat sumber pertumbuhan jangka panjang.
Sementara itu, segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung atau Turangga Resources turut mengalami tekanan.
Hingga Juli 2026, volume penjualan batu bara Turangga Resources tercatat 6,5 juta ton, termasuk 1,8 juta ton batu bara metalurgi. Angka tersebut turun 18% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Penurunan volume penjualan tersebut turut berdampak pada pendapatan. Hingga semester pertama 2026, pendapatan segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi turun 4% menjadi Rp12,9 triliun.
Tekanan lebih dalam terjadi pada segmen pertambangan emas dan mineral lainnya. Pendapatan segmen ini turun 66 persen menjadi Rp2,4 triliun, terutama akibat penurunan penjualan emas sebesar 82 persen.
Bisnis emas United Tractors yang dijalankan melalui PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencatatkan total penjualan setara emas sebesar 32 ribu ons hingga Juli 2026, jauh lebih rendah dibandingkan 143 ribu ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, United Tractors terus memperluas portofolio bisnis mineral. PT Stargate Pasific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 973 ribu wet metric ton (wmt) hingga Juli 2026, yang terdiri atas 316 ribu wmt saprolit dan 657 ribu wmt limonit.
United Tractors juga memiliki kepemilikan sebesar 20,13 persen di Nickel Industries Limited (NIC), perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama di Indonesia.
Kontribusi NIC kepada United Tractors diakui dengan periode enam bulan tertinggal berdasarkan kinerja NIC pada kuartal keempat 2025 dan kuartal pertama 2026. Pada periode tersebut, operasional Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) NIC mencatat penjualan nickel metal sebanyak 61.622 ton.
Strategi diversifikasi juga diperkuat melalui akuisisi. Pada 11 Februari 2026, United Tractors melalui PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara menyelesaikan akuisisi 100 persen saham PT Arafura Surya Alam, perusahaan pertambangan emas yang berlokasi di Provinsi Sulawesi Utara.
Langkah tersebut mempertegas strategi UT untuk memperbesar eksposur pada komoditas mineral sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap siklus bisnis batu bara.
Dari sisi neraca, per 30 Juni 2026 United Tractors mencatat utang bersih Rp9,4 triliun, dengan rasio gearing sebesar 8,5 persen.
Posisi tersebut berubah dibandingkan akhir 2025 ketika perseroan masih mencatat posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun. Perubahan terutama mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas serta pelaksanaan program pembelian kembali saham.
Dalam aksi korporasi lainnya, United Tractors telah menyelesaikan program buyback saham yang berlangsung 1 April hingga 30 Juni 2026 sebanyak 35,5 juta saham.
Perseroan kemudian kembali menjalankan program pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp2 triliun untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026.
Secara akumulatif, sejak Juli 2022 hingga 30 Juni 2026, United Tractors telah melakukan pembelian kembali sebanyak 239 juta saham dengan total nilai sekitar Rp7,1 triliun.
Manajemen menyatakan program tersebut dijalankan dengan mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi.
Program buyback sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek perseroan dan kemampuannya menghasilkan arus kas berkelanjutan. Di sisi lain, aksi tersebut diharapkan turut mendukung upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal nasional. (rmn)























