INDOPOSCO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan keberhasilan Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 tidak sekadar diukur dari kenaikan posisi dalam peringkat antarnegara. Hal yang lebih penting adalah semakin kuatnya kemampuan murid dalam bernalar, memecahkan masalah, serta memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat.
“Bukan sekadar naiknya posisi Indonesia di dalam peringkat PISA, melainkan semakin kuatnya kemampuan murid kita di dalam bernalar, memecahkan masalah dan juga belajar sepanjang hayat,” ujar Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen Rahmawati saat temu media di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Ia menjelaskan, PISA 2025 merupakan bagian dari siklus studi yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengevaluasi sistem pendidikan. Studi tersebut telah dilaksanakan sejak 2000 dan digelar setiap tiga tahun.
“Target PISA adalah murid berusia 15 tahun. Di Indonesia, kelompok usia tersebut mayoritas berada di kelas IX jenjang SMP dan MTs serta kelas X jenjang SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah,” terangnya.
Ia menyebut, pada PISA 2025 sebanyak 91 negara atau ekonomi berpartisipasi. Jumlah tersebut menjadi yang terbesar sepanjang penyelenggaraan PISA sejak 2000, terdiri atas 38 negara anggota OECD dan 53 negara non-OECD.
“Secara global, lebih dari 760 ribu murid terlibat sebagai sampel. Jumlah tersebut mewakili sekitar 33 juta murid berusia 15 tahun,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, pelaksanaan PISA dilakukan melalui dua moda, yakni berbasis komputer atau Computer-Based Test (CBT) dan berbasis kertas dan pensil atau Paper-Based Test (PBT). Setiap negara peserta harus menentukan salah satu moda yang digunakan.
“Jadi tidak bisa sebagian sekolah pakai CBT, sebagian sekolah lainnya menggunakan PBT,” jelasnya.
Pemilihan moda tersebut, menurutnya, turut berpengaruh terhadap konstruk soal yang diberikan kepada peserta. Karena itu, soal dalam PISA berbasis CBT dan PBT tidak dapat disebut persis sama karena terdapat perbedaan yang cukup signifikan dalam penyajiannya.
“Selain mengukur kemampuan murid dalam membaca, matematika, dan sains, PISA juga mengumpulkan informasi melalui kuesioner yang diberikan kepada kepala sekolah dan murid,” katanya.
Kuesioner tersebut, masih ujar dia, digunakan untuk memperoleh gambaran lebih luas mengenai latar belakang murid, kebiasaan, persepsi, sikap, serta berbagai faktor lain yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
Pada PISA 2025, ia menambahkan, terdapat pula domain inovatif baru yakni Learning in Digital World. Indonesia, menurutnya, turut mengikuti domain tersebut untuk melihat kemampuan murid dalam menavigasi proses belajar secara mandiri di dunia digital.
“Kemendikdasmen menilai berbagai data tersebut penting untuk memahami hasil PISA secara lebih menyeluruh. Sebab, PISA tidak hanya mengukur penguasaan pengetahuan, tetapi juga kemampuan murid memahami, menggunakan, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks kehidupan,” ujarnya.
Karena itu, dikatakan dia, hasil PISA diminta tidak hanya dilihat berdasarkan angka maupun tabel peringkat antarnegara, daerah, ataupun sekolah. Setiap capaian harus dibaca dengan mempertimbangkan konteks pendidikan, seperti perluasan akses, keragaman latar belakang murid, dan kondisi pembelajaran.
“Kami mengajak media ataupun publik untuk tidak menjadikan hasil PISA ini sebagai perlombaan yang bisa menimbulkan sesuatu yang negatif,” katanya.
Menurut dia, hal yang lebih penting adalah melihat apa yang telah membaik, tantangan yang masih dihadapi, serta langkah konkret yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Hasil PISA 2025 juga, lanjut dia, disebut menunjukkan arah kebijakan Kemendikdasmen telah berada di jalur yang tepat. Berbagai program prioritas dan strategi peningkatan mutu pendidikan yang tengah dijalankan dinilai selaras dengan kebutuhan peningkatan kompetensi murid.
Program tersebut, masih ujar dia, mencakup penguatan kompetensi guru, implementasi pembelajaran mendalam, penguatan literasi, numerasi, dan sains. Pemerintah juga mendorong pembelajaran coding dan kecerdasan artifisial (AI), penyempurnaan PKA dan Asesmen Nasional, serta penjaminan mutu pendidikan berbasis data.
Ia mengatakan, hasil PISA 2025 selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi dan dasar tindak lanjut pemerintah dalam memperkuat mutu pendidikan nasional. Langkah tersebut dilakukan bersama Kemendikdasmen dan Kementerian Agama (Kemenag).
“Jadi pada kesempatan ini kami akan menyampaikan makna di balik berbagai temuannya serta langkah apa, follow up atau tindak lanjut dari hasil ini yang akan dilakukan oleh kita, baik Kementerian Pendidikan Dasar Menengah maupun Kementerian Agama, di dalam memperkuat mutu pendidikan di tanah air kita,” katanya.
Hasil PISA 2025 diharapkan tidak berhenti pada persoalan peringkat Indonesia dalam pemetaan pendidikan global. Lebih dari itu, hasil asesmen menjadi pijakan untuk memperbaiki pembelajaran dan memastikan murid memiliki kemampuan bernalar, memecahkan masalah, serta mampu belajar secara mandiri di tengah perubahan zaman,” imbuhnya.
Diketahui, hasil PISA Indonesia 2025 di domain sains skor 389 peringkat 73 dari 91. Domain membaca skor 365 peringkat 74 dari 90 dan domain matematika skor 364 peringkat 78 dari 90 negara. (nas)























