INDOPOSCO.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai kemampuan literasi masyarakat harus terus diperluas seiring perubahan zaman. Literasi tidak cukup hanya diukur dari kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kecakapan memahami informasi, berpikir kritis, serta menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan kehidupan.
Pernyataan tersebut diungkapkan Abdul Mu’ti dalam Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2026 secara daring, Selasa (8/9/2026). Menurutnya, tahun ini menjadi momentum khusus karena menandai 60 tahun sejak Hari Aksara Internasional pertama kali diperingati pada 1966.
“Literasi tidak lagi cukup dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis, tapi memiliki makna yang luas,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurut dia, perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, persoalan lingkungan, hingga hadirnya kecerdasan artifisial (AI) membuat masyarakat membutuhkan kemampuan literasi yang lebih kompleks.
Masyarakat, dikatakan dia, harus mampu memilah dan memahami informasi secara kritis. Selain itu, budaya belajar sepanjang hayat perlu terus dibangun agar pengetahuan yang dimiliki dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
Ia menuturkan, literasi hari ini adalah tentang kemampuan membaca dunia, memahami realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi. Juga bagaimana mengambil tindakan untuk menjadikan dunia lebih baik.
“Perjalanan 6 dekade peringatan Hari Aksara Internasional menjadi pengingat bahwa literasi masih menjadi pekerjaan bersama,” ungkap.
“Kemajuan yang telah dicapai berbagai negara belum sepenuhnya menghapus persoalan rendahnya kemampuan literasi dasar,” imbuhnya.
Berdasarkan data UNESCO yang disampaikan dalam peringatan tersebut, masih terdapat sekitar 739 juta pemuda dan orang dewasa di dunia yang belum memiliki keterampilan literasi dasar. Selain itu, sekitar empat dari 10 siswa dunia belum mencapai tingkat kemahiran minimum membaca pada akhir pendidikan dasar.
Menurut Mu’ti, angka tersebut menunjukkan masih adanya masyarakat yang belum memperoleh kesempatan memadai untuk belajar, memahami informasi, mengembangkan potensi, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial secara bermartabat.
“Hari Aksara Internasional 2026 tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mengevaluasi perkembangan literasi sekaligus merumuskan gerakan yang sesuai dengan tantangan era digital dan AI,” terangnya.
Mu’ti menjelaskan, konsep peringatan hari aksara memiliki tiga pesan utama. Unsur “Sesama” menekankan pentingnya memastikan setiap warga memperoleh kesempatan belajar, termasuk masyarakat di daerah terpencil dan kelompok yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan.
“Literasi diharapkan mampu memperkuat kemampuan berpikir kritis, sekaligus membuka ruang dialog antargenerasi. Sehingga tercipta masyarakat yang lebih inklusif,” katanya.
Sementara, lanjutnya, “Semesta” berkaitan dengan kesadaran terhadap lingkungan. Masyarakat perlu memahami persoalan seperti perubahan iklim, konservasi, dan keberlanjutan. “Pengetahuan ini diharapkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diwujudkan melalui perilaku nyata dalam menjaga lingkungan,” ucapnya.
Sedangkan “Sejahtera”, masih ujar Mu’ti, menghubungkan literasi dengan peningkatan kualitas hidup. Kemampuan literasi dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kecakapan hidup, kemampuan finansial, keterampilan digital, produktivitas, serta kemampuan bekerja dan berkarya.
“Konsep tiga S ini dapat menjadi kerangka sederhana dalam menggerakkan budaya literasi di sekolah, komunitas maupun masyarakat,” ujarnya.
Dia menegaskan, penguatan budaya literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran keluarga, sekolah, pemerintah daerah, PKBM, SKB, taman bacaan masyarakat, komunitas, organisasi masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, media, hingga pegiat literasi sangat dibutuhkan.
“Kami apresiasi para pegiat literasi yang terus bergerak di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah dengan keterbatasan fasilitas pendidikan,” ungkapnya. (nas)























