INDOPOSCO.ID – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperluas pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi terbarukan. Tak hanya digunakan sebagai bahan bakar co-firing pembangkit listrik, biomassa kini dikembangkan menjadi BioCNG (Compressed Biomethane Gas) dan bahan baku hidrogen hijau.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan dua nota kesepahaman (MoU) bersama mitra strategis dalam ajang The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat bauran energi terbarukan sekaligus mendukung percepatan pencapaian target net zero emission (NZE).
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop TI Situngkir mengatakan, pengembangan biomassa merupakan bagian dari strategi PLN Group dalam meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus membangun rantai nilai bioenergi yang lebih luas.
“Pada dasarnya, konsepnya adalah co-firing. Bahan-bahan hayati kita kumpulkan, kita ambil, kemudian kita deploy ke pembangkit milik kita,” katanya.
Menurut dia, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) menjadi salah satu pembangkit yang paling siap memanfaatkan biomassa melalui skema co-firing. Namun, pemanfaatan biomassa tidak berhenti pada substitusi sebagian batu bara, melainkan terus dikembangkan menjadi berbagai produk energi terbarukan bernilai tambah.
“Jadi perjuangannya masih panjang sampai 2030. Kita sudah agendakan pemanfaatan biomassa di PLN,” ujar Hokkop.
Salah satu langkah hilirisasi biomassa dilakukan melalui kerja sama PLN EPI dengan PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) dan PT Kis Biofuels Indonesia untuk mengembangkan BioCNG dan/atau gas berbasis biomassa.
Kerja sama tersebut memanfaatkan berbagai limbah organik, termasuk Palm Oil Mill Effluent (POME) dan limbah peternakan, sebagai bahan baku produksi biometana. Selanjutnya, biometana tersebut diolah menjadi BioCNG yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi rendah karbon.
Dalam skema kerja sama ini, PGN Gagas berperan sebagai off-taker atau pihak yang menyerap produk BioCNG.
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir, Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan, serta Direktur PT Kis Biofuels Indonesia KR Ragunath Kandikeri.
Hokkop mengatakan pengembangan BioCNG membutuhkan teknologi pengolahan yang mampu menangkap metana dari limbah organik untuk kemudian diolah menjadi produk energi.
“Metananya kita ambil, kemudian kita ciptakan reaktor dan segalanya. Tentunya dengan kerja sama dengan pihak teknologi, baru nanti kita bisa bertransaksi dengan PT Gagas,” jelasnya.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pemanfaatan limbah sebagai sumber energi, tetapi juga menciptakan rantai pasok bioenergi dari hulu hingga hilir.
Selain BioCNG, PLN EPI juga mengembangkan biomassa untuk mendukung ekosistem hidrogen hijau di Indonesia.
Untuk itu, PLN EPI menandatangani MoU Pengembangan Ekosistem Hidrogen Hijau Berbasis Biomassa di Indonesia bersama CISRI HY&POR Technology Co., Ltd. dan PT Pupuk Kujang Cikampek.
Kerja sama tersebut ditandatangani oleh Direktur Biomassa PLN EPI, Mr Gu Hu selaku General Manager CISRI HY&POR Technology Co., Ltd., serta Direktur Utama PT Pupuk Kujang Cikampek Panji Winanteya Ruky.
Hokkop menjelaskan, biomassa dapat melalui proses gasifikasi untuk menghasilkan gas yang mengandung hidrogen. Hidrogen tersebut kemudian dapat ditangkap dan dikembangkan untuk kebutuhan industri.
“Kita tahu kalau biomassa sudah digasifikasi, tentu ada hidrogen yang lepas di situ. Itu ditangkap dan akan dipakai oleh Pupuk Kujang sebagai off-taker,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan off-taker menjadi elemen penting dalam pengembangan bioenergi. Dengan adanya kepastian pengguna atau pembeli produk, pengembangan energi terbarukan dapat bergerak dari sekadar tahap produksi menuju ekosistem industri yang berkelanjutan.
“Harapan kita, dua kerja sama ini bisa memperbesar bioenergi dan mempercepat cita-cita yang sudah dicanangkan dalam Permen ESDM dan juga secara internal di PLN Group,” jelas Hokkop.
Saat ini, PLN EPI terus mengembangkan pemanfaatan biomassa yang berasal dari berbagai residu pertanian, perkebunan, dan limbah organik.
Selain mendukung program co-firing pada pembangkit PLN, biomassa diarahkan menjadi bahan baku berbagai produk energi rendah karbon yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Strategi tersebut membuat pemanfaatan biomassa tidak hanya berorientasi pada substitusi batu bara, tetapi juga diarahkan untuk membangun ekosistem bioenergi yang lebih terintegrasi.
Melalui pengembangan BioCNG dan hidrogen hijau, PLN EPI menargetkan peningkatan nilai tambah biomassa nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pencapaian target net zero emission Indonesia. (rmn)























