INDOPOSCO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan akan mengguyur kawasan yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari ke depan. Potensi hujan itu diharapkan efektif meredam sebaran abu vulkanik sehingga operasional penerbangan dapat kembali normal.
“Kami sudah memantau bahwa kira-kira di tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini akan ada potensi awan dan juga hujan dengan intensitas ringan hingga sedang khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat perkembangan penanganan bencana alam bersama Presiden Prabowo Subianto, secara daring melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Oleh karena itu, pihaknya akan memperkuat potensi hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Untuk itu nanti akan kami pertebal dengan OMC bersama dengan BNPB, dan untuk lokasi bandaranya juga akan kami bahas setelah ini,” ujar Teuku Faisal Fathani.
Di samping itu, BMKG terus berkoordinasi dengan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) yang ditunjuk oleh International Civil Aviation Organization (ICAO), yakni VAAC Darwin di Australia, untuk menentukan pembukaan kembali bandar udara di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Kemudian kami izin sampaikan Bapak Presiden, bahwa untuk dapat melaksanakan operasi dari operasional bandara kita, maka sesuai dengan ketentuan dari International Civil Aviation Organization,” jelas Teuku Faisal.
“Jadi, nanti untuk dapat pembukaan kembali bandara juga kami berkomunikasi dengan Darwin, Australia agar Significant Meteorological Information dapat disesuaikan,” tambahnya.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, sebaran abu vulkanik terbagi dalam beberapa lapisan ketinggian. Material pada ketinggian hingga 50.000 kaki dilaporkan telah bergerak ke arah Samudra Hindia, sementara abu vulkanik di ketinggian rendah hingga 15.000 kaki masih berkumpul di area terdampak.
“Jadi sekarang anginnya ke sana. Itu adalah untuk yang abu vulkanik di ketinggian yang mencapai 50.000 kaki. Sedangkan yang agak rendah, dari permukaan hingga 15.000 kaki masih berada di sekitar area terdampak,” imbuhnya. (dan)























