INDOPOSCO.ID – Suara mesin dan deretan peralatan berbalut hard case menyambut langkah para jurnalis ketika memasuki kawasan Ware House BSD, Tangerang Selatan, pada Kamis (13/8/2026).
Di tempat itu, benda-benda yang selama ini mungkin hanya terdengar namanya dalam laporan industri energi berdiri dalam wujud nyata. Ada perangkat yang bekerja menentukan posisi dengan presisi, alat yang digunakan untuk memetakan permukaan bumi dari udara, hingga sebuah kendaraan besar yang memiliki fungsi jauh lebih penting daripada sekadar berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.
Di balik semua peralatan itu, ada satu kesamaan, yakni data.
Data menjadi bahasa yang digunakan untuk membaca kondisi lapangan, menentukan posisi, memetakan wilayah, hingga membantu pekerjaan eksplorasi dan engineering. Namun, untuk memahami bagaimana data itu diperoleh, terkadang angka dan laporan saja tidak cukup.
Itulah yang coba dibuka PT Elnusa Tbk kepada para jurnalis melalui Media Visit Warehouse BSD. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Elnusa Journalistic Award (EJA) 2026, sekaligus memberikan kesempatan kepada media untuk melihat lebih dekat teknologi dan aktivitas operasional yang mendukung industri energi nasional.
Ketika Bumi Dibuat Bergetar
Di antara berbagai peralatan yang diperlihatkan, Vibroseis menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Bentuknya menyerupai truk besar. Namun, kendaraan tersebut bukan kendaraan angkut biasa. Ia merupakan perangkat khusus untuk menghasilkan gelombang seismik melalui gerakan yang dikendalikan.
Manager Asset Productivity GRS PT Elnusa, Kun Hendarso, menjelaskan bahwa dalam pengoperasiannya Vibroseis tidak bekerja sendirian.
“Ini biasanya digunakan secara bersamaan tiga unit Vibroseis. Jadi disinkronkan tiga unit, bukan satu per satu. Getarannya dibuat bersamaan dan sinkron,” ujar Kun saat menjelaskan fungsi peralatan tersebut kepada para jurnalis.
Elnusa saat ini memiliki sejumlah unit Vibroseis yang digunakan untuk mendukung kegiatan di lapangan. Dalam operasi normal, tiga unit dapat digunakan secara bersamaan untuk menghasilkan energi seismik yang dibutuhkan. Cara kerja inilah yang membuat Vibroseis menarik.
Pada survei seismik konvensional, terutama pada kondisi tertentu seperti wilayah hutan, energi dapat dihasilkan melalui metode impuls, termasuk penggunaan bahan peledak. Energi tersebut kemudian direkam oleh perangkat penerima untuk menghasilkan informasi mengenai kondisi bawah permukaan.
Vibroseis menggunakan pendekatan berbeda. Alih-alih menghasilkan satu hentakan energi yang bersifat impulsif, perangkat ini menghasilkan getaran dengan karakter tertentu. Getaran tersebut kemudian dikirimkan ke permukaan bumi dan responsnya direkam untuk memperoleh informasi seismik.
“Kalau seismik konvensional atau seismik di hutan, kita menggunakan energi impuls atau bahan peledak. Sekali bekerja, langsung direkam. Kalau Vibroseis, kita memanfaatkan getaran yang kita buat sendiri,” kata Kun.
Perbedaan karakter energi itu membuat teknologi Vibroseis memiliki keunggulan dalam menghadapi gangguan suara atau noise.
“Karakter getarannya berbeda. Makanya dengan Vibroseis, dia lebih tahan terhadap noise atau bisa dibilang anti-noise,” jelasnya.

Dari Baseplate, Getaran Menjalar ke Bumi
Penjelasan kemudian mengarah kepada bagian yang menjadi salah satu kunci dari Vibroseis: baseplate.
Komponen berbentuk pelat bundar tersebut menjadi penghubung antara mesin dan permukaan tanah. Ketika Vibroseis beroperasi, baseplate diturunkan hingga menyentuh permukaan. Dari sanalah energi getaran disalurkan ke tanah.
“Baseplate Vibroseis ini nanti saat bekerja akan turun ke bawah. Komponen tersebut kemudian digetarkan dengan frekuensi tertentu,” tutur Kun.
Frekuensi getaran dapat berada dalam rentang yang cukup luas. Menurut Kun, perangkat tersebut mampu bekerja mulai sekitar 6 hertz hingga 100 atau bahkan 250 hertz. Namun, penggunaan yang menjadi basis operasi berada pada rentang 6 hingga 100 hertz.
Bagi orang awam, angka-angka itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di lapangan, setiap frekuensi menjadi bagian dari proses untuk mendapatkan respons bumi yang kemudian diterjemahkan menjadi data.
Pada titik inilah sebuah truk yang tampak seperti kendaraan berat berubah fungsi menjadi “alat untuk berbicara dengan bumi”.
Getaran dikirimkan ke dalam tanah. Responsnya diterima. Data dikumpulkan. Kemudian, data itu diproses untuk membantu memberikan gambaran mengenai kondisi bawah permukaan.
Proses tersebut memperlihatkan satu hal penting, yakni pencarian dan pengelolaan energi modern tidak hanya bergantung pada sumber daya yang berada di bawah bumi, tetapi juga pada kemampuan manusia membaca informasi yang diberikan oleh bumi.
Dari Langit, Posisi, hingga Titik di Peta
Jika Vibroseis bekerja dengan getaran, perangkat lain yang ditampilkan di Warehouse BSD bekerja dengan cara berbeda. Sebuah drone atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) menjadi salah satu perangkat yang digunakan untuk melihat wilayah dari udara.
Dengan teknologi tersebut, tim dapat memperoleh gambaran kondisi dan kontur wilayah dengan lebih cepat. UAV dapat mendukung pemetaan area kerja, jalur jalan maupun pipa, serta membantu inspeksi lokasi yang sulit dijangkau secara langsung.
Pandangan dari udara kemudian dilengkapi dengan perangkat yang bekerja sangat dekat dengan tanah: Global Navigation Satellite System (GNSS).
Perangkat ini digunakan untuk menentukan posisi atau koordinat sebuah titik dengan tingkat ketelitian tinggi. Dalam pekerjaan survei, ketepatan posisi bukan sekadar persoalan angka di layar.
Satu titik koordinat dapat menjadi dasar bagi penentuan lokasi wellsite dan rig, titik kontrol geodetik, maupun berbagai pekerjaan pengukuran lainnya.
Di sisi lain, terdapat total station, perangkat yang digunakan untuk mengukur sudut, jarak, posisi, hingga elevasi secara presisi.
Dengan bantuan prisma atau reflector, surveyor dapat menentukan posisi suatu titik secara akurat. Hasilnya dapat digunakan untuk kebutuhan pemetaan topografi, penentuan posisi fasilitas, konstruksi, hingga pekerjaan engineering.
“Semua perangkat tersebut kemudian terhubung dengan satu kebutuhan yang sama, yakni bagaimana memastikan kondisi di lapangan dapat diterjemahkan menjadi data yang akurat,” ungkapnya.

Ketika Data Lapangan Menjadi Keputusan
Di meja kerja, data mungkin hanya tampak sebagai angka, koordinat, garis atau titik. Namun, bagi pekerjaan di lapangan, data tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar.
Karena itu, terdapat pula data collector atau controller yang digunakan untuk mengendalikan instrumen survei sekaligus merekam dan menyimpan hasil pengukuran.
Perangkat tersebut membantu surveyor mengelola koordinat dan data lapangan secara lebih sistematis sebelum kemudian diolah menjadi informasi geospasial.
“Dari sana, data dapat digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan, mulai dari eksplorasi hingga pekerjaan engineering dan operasional. Perjalanan data itu bahkan dimulai dari cara peralatan disimpan,” jelas Kun memaparkan.
Berbagai perangkat elektronik dan perlengkapan akuisisi data ditempatkan dalam hard case khusus. Bukan semata agar terlihat rapi, tetapi untuk menjaga instrumen tetap aman selama penyimpanan maupun mobilisasi menuju lokasi proyek.
Bagi sebuah pekerjaan yang menuntut ketelitian, kesiapan alat menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hasil akhir. Sebab ketika instrumen tiba di lokasi, perangkat tersebut harus siap bekerja.
Teknologi yang Tidak Berhenti di Perusahaan
Ada cerita lain yang melengkapi kunjungan tersebut. Teknologi dan peralatan yang digunakan industri tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan perusahaan. Sebagian pengetahuan dan perangkat juga dapat menjadi jembatan untuk menyiapkan generasi yang akan melanjutkan pekerjaan tersebut.
Pada 19 Desember 2025, Elnusa memberikan hibah peralatan kepada Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR). Hibah tersebut berupa dua unit GPS, dua unit total station, serta 500 string geophone.
Saat itu, Vice President Asset Reliability and Productivity PT Elnusa, Nur Kholis, menegaskan bahwa kerja sama antara dunia industri dan perguruan tinggi penting untuk membangun ekosistem pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Kolaborasi antara dunia industri dan perguruan tinggi merupakan jembatan dalam menciptakan inovasi berkelanjutan serta ekosistem pembelajaran yang relevan dengan tantangan masa depan,” ujar Nur Kholis dikutip dari laman resmi FMIPA Unpad.
Apa yang terlihat di Warehouse BSD pada akhirnya bukan hanya deretan kendaraan, perangkat survei, drone, atau alat ukur. Ada sebuah ekosistem teknologi di baliknya.
Ada Vibroseis yang mengirimkan getaran ke bumi. Ada geophone yang menangkap respons. Ada GNSS yang memastikan posisi. Ada total station yang mengukur jarak, sudut dan elevasi. Ada drone yang memberikan perspektif dari udara. Ada data collector yang menyimpan hasil pengukuran.
Dan di belakang semuanya, ada manusia yang menerjemahkan data menjadi informasi.
Bumi, Teknologi, dan Cerita yang Lebih Utuh
Menjelang akhir kunjungan, kawasan Warehouse BSD kembali tampak seperti tempat penyimpanan peralatan. Tetapi setelah melihat cara setiap perangkat bekerja, pandangan itu berubah.
Truk tidak lagi sekadar truk. Pelat bundar bukan sekadar komponen besi. Titik koordinat bukan sekadar angka. Drone bukan sekadar kamera yang terbang.
Semuanya merupakan bagian dari proses panjang untuk memahami medan, membaca kondisi bawah permukaan, memastikan posisi, dan menghasilkan data yang dapat dipercaya.
Di situlah pentingnya sebuah kunjungan lapangan bagi jurnalis. Sebab industri energi tidak selalu dapat diceritakan hanya melalui angka produksi, laporan kinerja, atau siaran pers.
Kadang, cerita itu harus dimulai dengan melihat sendiri sebuah mesin menurunkan baseplate, mendengar penjelasan tentang getaran, menyaksikan perangkat survei bekerja, dan memahami bagaimana satu titik di peta bisa memiliki konsekuensi besar bagi pekerjaan di lapangan.
Dari Warehouse BSD, satu pesan menjadi jelas, di balik setiap data energi, ada teknologi yang bekerja, dan di balik teknologi itu, ada manusia yang berusaha membaca bumi dengan semakin presisi. (her)























