INDOPOSCO.ID – Ketua Umum (Ketum) PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin diminta tidak terlalu lengket dengan penguasa setelah resmi terpilih memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
Pernyataan tersebut diungkapkan Pengamat Politik Saiful Huda Ems (SHE) melalui gawai, Senin (31/8/2026). Menurut dia, Gus Kikin perlu menjaga independensi NU, agar organisasi tersebut tetap memiliki kewibawaan dan mampu menjalankan fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah.
“Saran saya untuk Gus Kikin, tolong mulai sekarang jangan lagi mengumbar pernyataan tentang kesamaan Gus Kikin dengan Presiden Prabowo Subianto,” kata SHE.
Dia menilai, jika kedekatan dengan pemerintah terlalu ditonjolkan, hal tersebut dikhawatirkan justru dapat menggerus wibawa NU sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang memiliki pengaruh luas.
“NU harus menjaga diri sebagai ormas Islam independen terbesar di dunia, yang seharusnya memiliki pengaruh luas dan memiliki fungsi kontrol yang baik terhadap berbagai kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Menurut, NU dapat mengambil peran lebih besar dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat, terutama warga Nahdliyin. Hal itu dinilai semakin penting ketika fungsi pengawasan lembaga legislatif terhadap pemerintah dianggap belum berjalan maksimal.
“Ketika DPR hanya bisa menjadi lembaga negara yang menerima gaji tiap bulan, namun tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik sebagai checks and balances eksekutif, maka sebaiknya NU mengambil peran untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, khususnya warga Nahdliyin,” tegasnya.
SHE juga mengingatkan PBNU agar tidak terseret oleh dinamika politik pemerintahan. Dia menilai, organisasi sebesar NU harus mampu menjaga jarak yang proporsional dengan kekuasaan.
Dia bahkan mengaitkan hal tersebut dengan tingkat elektabilitas Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya mengalami penurunan. Karena itu, apabila PBNU terlalu dekat dengan pemerintah, dia khawatir NU ikut terkena dampak persepsi negatif masyarakat terhadap penguasa.
“Saat ini tingkat elektabilitas Prabowo Subianto di mata rakyat sudah anjlok, tinggal 30-an persen lebih. Kalau PBNU di bawah kepemimpinan Gus Kikin masih menempel ke Prabowo dan tidak bisa menjaga jarak dengan baik, sebagaimana Ketum PBNU sebelumnya, Gus Yahya, maka NU akan terkena imbasnya,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kritik yang disampaikannya bukan karena persoalan pribadi dengan Gus Kikin. Sebaliknya, dia mengaku justru merasa bangga karena Gus Kikin yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng terpilih sebagai Ketum PBNU.
“Saya pribadi tidak mempunyai kepentingan apa-apa, tidak memiliki persoalan apa-apa dengan Gus Kikin,” katanya.
Sebagai alumnus Tebuireng, SHE mengatakan, memiliki ikatan emosional dengan pesantren yang menjadi salah satu pusat penting sejarah NU tersebut. Dia mengaku ketika masih menjadi santri pada 1985-1991, hampir setiap pagi dan malam berdoa serta mengaji Al-Qur’an di kompleks makam pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, yang merupakan buyut Gus Kikin.
Saiful menyebut terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketum PBNU merupakan kebanggaan tersendiri bagi dirinya. Dia berharap kepemimpinan Gus Kikin mampu membawa nama Tebuireng, santri, serta warga Nahdliyin semakin maju.
Namun, dia mengingatkan agar NU tidak terjebak dalam kepentingan politik kekuasaan. “Gus Kikin sebaiknya fokus untuk menjadikan NU sebagai wadah perjuangan bagi kemajuan perekonomian, pendidikan dan dakwah Islam Jam’iyah Nahdliyin,” ujarnya.
Saiful juga mengingatkan agar PBNU tidak dimanfaatkan sebagai ruang bagi kepentingan bisnis dan politik kelompok tertentu. “Jangan sampai PBNU dijadikan markas para makelar tambang dan makelar politik penguasa,” tegasnya.
Dia berharap Gus Kikin mampu menjaga marwah dan cita-cita para pendiri NU selama menjalankan amanah sebagai Ketum PBNU.
“Jangan pernah tergoda oleh silaunya istana, sebab jika panjenengan sampai tergoda, maka para Muassis (pendiri) NU akan sangat bersedih di alam kuburnya,” ujarnya. (nas)























