INDOPOSCO.ID – Teknologi nuklir tak melulu soal energi atau reaktor. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memanfaatkan teknologi ini untuk meneliti jejak perjalanan air di bawah permukaan tanah yang selama ini sulit diamati secara langsung.
Melalui pemanfaatan isotop dan radioisotop sebagai penanda (tracer), BRIN dapat menelusuri asal-usul sumber air, jalur aliran, waktu tempuh, hingga mengetahui daerah imbuhan (recharge area). Teknologi tersebut dinilai penting untuk memperkuat pengelolaan sumber daya air nasional.
Kepala Pusat Riset Akselerator, Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), BRIN Muhammad Rifai mengatakan, air ternyata menyimpan jejak perjalanan hidrologinya. Jejak tersebut dapat ditelusuri melalui analisis isotop tertentu.
“Perlu dipahami bahwa teknologi nuklir tidak hanya berkaitan dengan energi. Teknologi ini juga memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya air melalui pemanfaatan isotop dan radioisotop sebagai penanda (tracer) alami maupun buatan,” ujar Rifai dalam keterangan, Senin (31/8/2026).
Menurut Rifai, sejumlah isotop seperti oksigen-18 (¹⁸O), deuterium (²H), dan karbon-14 (¹⁴C) dapat digunakan untuk menelusuri perjalanan air.
Analisis isotop tersebut memungkinkan peneliti mengetahui asal air sekaligus melihat hubungan antara air hujan, mata air, air tanah, dan air permukaan. Data itu kemudian dapat digunakan untuk memahami dinamika sistem hidrologi di suatu wilayah.
“Air menyimpan jejak perjalanan hidrologinya. Dengan memanfaatkan isotop tertentu, para peneliti dapat melacak asal-usul air, jalur alirannya, waktu tempuhnya, hingga mengetahui lokasi daerah imbuhan (recharge area),” jelasnya.
Tak hanya melacak asal-usul air, menurutnya, teknologi nuklir juga bisa “mengintip” usia air tanah. Pemanfaatan karbon-14 (¹⁴C) dengan dukungan fasilitas Accelerator Mass Spectrometry (AMS) memungkinkan peneliti mengetahui berapa lama air tersimpan di dalam akuifer sebelum dimanfaatkan manusia.
Ia menyebut, kajian mengenai umur air tanah tersebut telah dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta. Informasi mengenai usia air tanah menjadi penting untuk mengetahui kondisi serta keberlanjutan cadangan air tanah.
“Jadi, bukan sekadar mengetahui dari mana air berasal. Teknologi isotop juga membantu mengetahui berapa lama air berada di dalam sistem akuifer,” terangnya.
Ia menambahkan, pemanfaatannya pun tidak berhenti pada penelusuran sumber dan umur air tanah. Teknologi isotop dapat digunakan untuk mendeteksi kebocoran bendungan, menelusuri konektivitas sungai bawah tanah, serta mengkaji sistem panas bumi dan reservoir.
Dikatakan dia, BRIN juga memanfaatkan gas radon untuk membantu memetakan sumber air. Pendekatan berbasis teknologi isotop bahkan dikembangkan untuk menelusuri pencemaran mikroplastik di lingkungan perairan.
Berbagai penelitian tersebut, menurutnya, dilakukan BRIN bersama kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga mitra industri. Kolaborasi lintas disiplin dinilai menjadi kunci untuk menghasilkan data yang lebih komprehensif mengenai kondisi sumber daya air.
Rifai menegaskan, pengelolaan sumber daya air ke depan membutuhkan pendekatan yang semakin terpadu. Karena itu, BRIN merekomendasikan penggabungan berbagai disiplin, mulai dari hidrologi, geologi, geofisika, isotop, hingga teknologi nuklir.
“Ke depan, BRIN merekomendasikan penguatan kajian terpadu yang menggabungkan pendekatan hidrologi, geologi, geofisika, isotop, dan teknologi nuklir untuk mendukung sistem pemantauan nasional sumber daya air, konservasi, serta mitigasi berbagai risiko lingkungan,” ujarnya. (nas)























