INDOPOSCO.ID – Penguatan kemampuan pengeboran menjadi salah satu kunci bagi Pertamina dalam menjaga ketahanan sekaligus kedaulatan energi Indonesia. Karena itu, PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) dinilai tidak cukup hanya berperan sebagai penyedia rig, tetapi harus diperkuat sebagai pusat kompetensi drilling Pertamina.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Serikat Pekerja Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI) Rahmat Wijaya, dalam Sarasehan Energi HUT ke-16 Serikat Pekerja PT Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI) di Indonesia Drilling Training Center (IDTC) PDSI, Kecamatan Mundu, Kabupaten Indramayu, Provinisi Jawa Barat, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, perjalanan 16 tahun SP PDSI telah melalui berbagai fase transformasi. Namun, satu hal yang harus tetap dipertahankan adalah komitmen pekerja untuk memperkuat perusahaan sekaligus mendukung Pertamina.
“Perusahaan adalah tempat kita bekerja dan harus kita perkuat,” jelas Rahmat.
Ia menilai perusahaan yang kuat harus ditopang oleh pekerja yang kompeten, terlindungi, serta memiliki rasa kepemilikan terhadap perusahaan. Hal itu menjadi semakin penting di tengah proses transformasi dan streamlining yang berlangsung di lingkungan Pertamina.
Rahmat menegaskan, pekerja tidak menolak perubahan. Namun, setiap perubahan harus diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat daya saing, dan menciptakan nilai bagi perusahaan.
“Transformasi atau streamlining harus memastikan bahwa kapabilitas strategis yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak melemah, tetapi harus diperkuat,” tuturnya.
Rahmat mengatakan, salah satu kapabilitas strategis yang harus dijaga Pertamina adalah kemampuan di bidang drilling. Menurutnya, bisnis pengeboran tidak dapat hanya diukur dari jumlah rig yang dimiliki maupun dioperasikan.
“Di balik setiap rig kita yang beroperasi, ada kompetensi, ada pengalaman, ada keberlanjutan produksi serta ada ketahanan energi di sana,” terangnya.
Karena itu, keberadaan IDTC dinilai memiliki peran penting dalam memastikan keberlanjutan kompetensi sumber daya manusia di bidang pengeboran.
Rahmat menilai masa depan bisnis drilling tidak hanya ditentukan oleh jumlah rig yang beroperasi, tetapi juga kualitas dan kompetensi tenaga profesional yang mengelolanya.
“Seberapa kompeten drilling engineer yang kita lahirkan dari sini, seberapa kompeten rig superintendent dan tool pusher yang kita lahirkan dari Indonesia Drilling Training Center. Inilah aset yang harus kita jaga,” ujarnya.
Atas dasar itu, SP PDSI mendorong penguatan PDSI sebagai pusat kompetensi drilling Pertamina.
“PDSI bukan hanya perusahaan yang menyediakan rig. PDSI harus semakin kuat dalam menguasai people, technology, equipment, knowledge, dan operational excellence di bidang drilling dan well services,” ungkap Rahmat.
Pada momentum HUT ke-16 SP PDSI, Rahmat juga mengajak seluruh pekerja melakukan introspeksi terhadap kontribusi mereka bagi perusahaan.
Ia berharap paradigma hubungan pekerja dan perusahaan tidak lagi sebatas mempertanyakan apa yang diberikan perusahaan kepada pekerja. Sebaliknya, pekerja perlu memikirkan kontribusi yang dapat diberikan untuk memperkuat perusahaan.
“Kita tidak lagi bertanya apa yang diberikan perusahaan buat kita. Tapi kita harus bertanya apa yang pekerja berikan untuk membuat perusahaan kita semakin kuat?” katanya.
Menurut Rahmat, pekerja harus mampu membuktikan bahwa mereka tidak sekadar menjaga perusahaan tetap beroperasi, tetapi juga berperan dalam meningkatkan daya saing dan menciptakan nilai bagi Pertamina.
Dalam menghadapi proses transformasi Pertamina, SP PDSI menyatakan siap menjadi mitra strategis sekaligus kritis bagi manajemen.
Rahmat mengatakan, pihaknya mendukung perubahan yang mampu menciptakan nilai serta efisiensi yang berdampak langsung terhadap peningkatan daya saing perusahaan.
Namun, ia mengingatkan agar setiap agenda reformasi tetap memperhatikan keselamatan operasi, keberlangsungan bisnis, kompetensi strategis, dan keberlanjutan pekerja.
“Kita mendukung perubahan yang menciptakan nilai. Kita mendukung efisiensi yang benar-benar meningkatkan daya saing,” tegasnya.
“Namun kita juga akan terus mengingatkan bahwa setiap ada reformasi harus mempertimbangkan keselamatan operasi, keberlangsungan bisnis, perlindungan kompetensi strategis, serta keberlanjutan para pekerjanya,” sambungnya.
Rahmat menegaskan, persoalan PDSI tidak semata-mata berkaitan dengan perubahan struktur atau bentuk organisasi. Lebih jauh, yang harus dijaga adalah kemampuan Pertamina dalam mempertahankan dan meningkatkan kapasitas pengeboran nasional.
“Yang kita bicarakan bukan sekadar bentuk organisasi. Yang kita bicarakan adalah bagaimana menjaga dan memperkuat kemampuan Pertamina dalam melakukan pengeboran demi kedaulatan energi Indonesia,” ujarnya.
Rahmat pun mengajak seluruh pekerja PDSI untuk terus memperkuat perusahaan melalui kinerja, profesionalisme, keselamatan, integritas, dan persatuan.
Menurutnya, PDSI yang kuat tidak hanya memberikan manfaat bagi keberlangsungan perusahaan, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya Indonesia menjaga ketahanan dan kedaulatan energi nasional. “PDSI kuat, Indonesia berjaya,” pungkasnya. (her)





















