INDOPOSCO.ID – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) pagi tidak hanya meninggalkan kerusakan, tetapi juga trauma bagi warga yang mengalaminya. Di tengah situasi tersebut, sejumlah pekerja layanan publik tetap berupaya menjalankan tugas untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Salah satunya Valentinus Jantur (39), operator Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Mbaumuku 54.865.01, Ruteng. Saat gempa terjadi sekitar pukul 05.46 WITA, Valentinus tengah bersiap berangkat bekerja. Namun, kuatnya guncangan membuatnya spontan menggendong anak dan berlari keluar rumah bersama keluarganya.
“Kami langsung keluar rumah, tidak pakai lama. Besar sekali guncangannya. Kami langsung menggendong anak, lari keluar rumah,” kenang Valentinus, di Kampung Mando, Kelurahan Compang Carep, Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT, Rabu (19/8/2026).
Pada hari itu, Valentinus memilih tidak berangkat bekerja karena keselamatan keluarga menjadi prioritas. Bersama keluarganya dan lima keluarga lainnya, ia sementara tinggal di tenda sederhana yang didirikan di depan rumah. Anak-anaknya pun belum kembali bersekolah.
Rasa takut akibat gempa masih membekas. Bahkan, untuk kembali beraktivitas di dalam rumah, Valentinus dan keluarganya masih diliputi kekhawatiran.
“Gempa sekarang ini yang terbesar, yang paling parah. Kami masih takut, mau ke kamar mandi saja takut, masih trauma,” ujarnya.
Namun, sehari setelah gempa, Valentinus kembali mengenakan seragam kerjanya. Ia kembali bertugas di SPBU Mbaumuku 54.865.01 untuk melayani masyarakat yang juga tengah berupaya bangkit dari dampak bencana.
Bagi Valentinus, kebutuhan energi masyarakat tidak berhenti meski bencana terjadi. Bahan bakar minyak (BBM) tetap dibutuhkan untuk menunjang mobilitas warga serta berbagai aktivitas pemulihan pascagempa.
“Sudah kewajiban melayani masyarakat. Tugas kami memang harus seperti itu, untuk melayani masyarakat terdampak,” katanya.
Keputusan Valentinus untuk kembali bekerja mendapat dukungan dari keluarganya. Ia menyadari ada dua tanggung jawab yang harus dijalankan secara bersamaan, yakni memastikan keluarganya tetap aman sekaligus menjalankan tugas melayani masyarakat.
“Keluarga mendukung. Harus melayani walaupun dalam keadaan begini. Ada tanggung jawab untuk keluarga dan anak,” tuturnya.
Dukungan dari Pertamina kepada operator SPBU yang terdampak gempa juga menjadi salah satu penyemangat bagi Valentinus dan rekan-rekannya untuk kembali menjalankan aktivitas pelayanan.
Valentinus mengatakan bantuan yang diberikan Pertamina membantu para operator melewati masa pemulihan setelah bencana.
“Kami juga mendapat bantuan dari Pertamina. Kami berterima kasih atas bantuan yang diberikan sehingga kami sebagai operator tetap bisa melayani dan bertugas,” ucapnya.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan, operator SPBU memiliki peran penting sebagai garda terdepan pelayanan energi karena berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Menurut dia, kondisi bencana membuat para operator menghadapi tantangan berlapis. Selain harus memastikan layanan energi tetap berjalan, mereka juga harus memulihkan kondisi keluarga masing-masing yang turut terdampak.
“Kami turut prihatin atas kondisi yang dialami teman-teman operator dan keluarganya. Pertamina hadir memberikan bantuan, dukungan, dan semangat agar mereka dapat melewati masa pemulihan, sekaligus tetap menjalankan perannya dalam menjaga layanan energi bagi masyarakat,” ujar Arya.
Arya menilai dedikasi para operator seperti Valentinus menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran layanan energi di wilayah terdampak bencana.
Di balik operasional SPBU yang tetap berjalan, kata dia, terdapat para pekerja yang juga tengah berjuang menghadapi dampak gempa bersama keluarga masing-masing.
Bagi Valentinus, tugas tersebut kini dijalani dari hari ke hari. Setelah memastikan keluarganya berada di tempat yang lebih aman, ia kembali berdiri di SPBU dan melayani masyarakat yang sama-sama tengah berusaha bangkit dari bencana.
Kisah Valentinus menjadi gambaran bahwa di tengah situasi darurat, keberlangsungan layanan energi juga ditopang oleh para pekerja yang tetap hadir menjalankan tugas, meski mereka sendiri belum sepenuhnya pulih dari dampak bencana. (rmn)





















