INDOPOSCO.ID – Informasi tentang vaksin Human Papillomavirus (HPV) tidak selalu sampai kepada masyarakat dalam bentuk yang benar. Di tengah derasnya informasi di ruang digital, sekolah dipandang perlu menjadi salah satu benteng untuk memastikan siswa memperoleh penjelasan yang tepat tentang vaksinasi.
Bukan hanya calon penerima vaksin yang perlu dibekali pengetahuan. Guru juga didorong memiliki pemahaman yang cukup agar mampu menjawab pertanyaan siswa sekaligus meluruskan informasi keliru yang beredar mengenai HPV dan vaksinasi.
Upaya tersebut dilakukan tim dosen dan mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Edukasi Berbasis Wilayah dan Pemetaan Spasial untuk Meningkatkan Literasi dan Penerimaan Vaksin HPV pada Remaja Putri, Orang Tua, dan Guru” di Kelurahan Bojongsari Baru, Depok.
Kegiatan yang berlangsung di SD Negeri Bojongsari 4, Kota Depok, pada Juni 2026 itu dirancang dengan pendekatan yang lebih interaktif. Selain penyuluhan, tim memberikan pelatihan kepada guru dan mengajak siswi belajar mengenai HPV melalui berbagai aktivitas edukatif.
Ketua Tim PKM, Dr. Chandrayani Simanjorang, menilai pemahaman masyarakat mengenai vaksin HPV masih perlu diperkuat. Menurutnya, manfaat vaksinasi belum sepenuhnya dipahami dan sebagian masyarakat masih mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak tepat.
Posisi guru kemudian menjadi penting karena mereka berinteraksi langsung dengan siswa dalam keseharian.
k
“Karena itu, guru perlu dipersiapkan sebagai edukator yang dapat melanjutkan penyampaian informasi mengenai HPV dan vaksinasi di lingkungan sekolah,” kata Chandrayani dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).
Langkah pertama dilakukan dengan melatih 27 guru SD Negeri Bojongsari 4. Mereka mendapatkan materi mulai dari pengenalan HPV, mekanisme vaksinasi, jadwal pemberian vaksin, efek samping, hingga cara menghadapi hoaks dan informasi keliru tentang vaksin.
Pelatihan tersebut tidak berhenti pada teori. Para guru juga diajak mencoba berbagai media promosi kesehatan, seperti flipchart, leaflet, poster, modul, hingga permainan ular tangga edukatif yang dirancang untuk membuat penyampaian pesan kesehatan lebih menarik.
“Melalui praktik tersebut, guru dilatih agar mampu menyampaikan pesan kesehatan dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami siswa. Media yang diserahkan kepada pihak sekolah juga diharapkan dapat terus digunakan setelah kegiatan PKM berakhir,” jelas Chandrayani.
Setelah guru mendapatkan bekal, giliran 29 siswi kelas VI berusia sekitar 11–12 tahun mengikuti sesi edukasi. Materi yang diberikan mencakup HPV, cara penularan, hubungan HPV dengan kanker serviks, manfaat vaksinasi, usia optimal dan jadwal pemberian vaksin, efek samping, serta berbagai mitos dan fakta yang berkembang di masyarakat.
Suasana edukasi dibuat berbeda dari penyuluhan konvensional. Para siswi tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan, tetapi diajak berpartisipasi melalui permainan ular tangga edukatif yang memasukkan pertanyaan-pertanyaan seputar HPV ke dalam permainan.
Setiap kali berhenti pada kotak tertentu, kelompok peserta harus menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan materi. Dengan cara tersebut, pengetahuan mengenai HPV tidak hanya disampaikan, tetapi langsung diuji melalui aktivitas yang membuat peserta lebih aktif mengikuti proses belajar.
Bagi tim PKM, cara tersebut menjadi bagian dari strategi meningkatkan literasi kesehatan sekaligus membangun pemahaman yang lebih tepat mengenai vaksin HPV. Pengetahuan yang memadai diharapkan dapat membuat siswa dan lingkungan sekolah lebih mampu menyaring informasi serta tidak mudah terpengaruh kabar yang keliru.
Edukasi berbasis sekolah juga diharapkan ikut memperkuat upaya pencegahan kanker serviks sejak usia dini. Dengan guru sebagai sumber informasi yang kredibel dan siswa sebagai penerima edukasi yang aktif, sekolah dapat berperan lebih besar dalam membangun pemahaman mengenai pentingnya vaksinasi HPV.
Untuk menjalankan program tersebut, Chandrayani didukung tim dosen dan mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat UPN “Veteran” Jakarta.
“Kegiatan ini menjadi wujud komitmen Fakultas Ilmu Kesehatan UPN Veteran Jakarta dalam mendukung program promosi kesehatan melalui kolaborasi dengan sekolah dan masyarakat. Diharapkan edukasi yang telah diberikan dapat memberikan manfaat berkelanjutan dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya vaksin HPV,” tambahnya. (her)























