INDOPOSCO.ID – Mengembalikan peran strategis organisasi di tengah Gereja dan kehidupan kebangsaan menjadi salah satu agenda utama Yohanes Tola setelah ditetapkan sebagai Mandataris MPA/Formatur Tunggal/Ketua Presidium Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) periode 2026–2028.
Usai terpilih, Yohanes menyerukan seluruh kader mengakhiri sekat akibat dinamika persidangan. Energi organisasi, kata dia, harus diarahkan kembali pada konsolidasi dan perjuangan PMKRI.
“Dinamika yang kita lalui dari Ruteng hingga Bandung adalah bukti ketangguhan dan kedewasaan berorganisasi seluruh kader PMKRI. Perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah, namun komitmen terhadap pembinaan dan perjuangan organisasi adalah yang utama. Hari ini, tidak ada lagi sekat,” ujar Yohanes dalam keterangan, Kamis (20/8/2026).
Dia menegaskan, kepemimpinan baru akan memperkuat tiga nilai utama PMKRI, yakni Fraternitas, Kristianitas, dan Intelektualitas. Ketiga nilai tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai prinsip organisasi, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata di tengah Gereja, masyarakat, dan kehidupan kebangsaan.
Menurut Yohanes, berakhirnya MPA XXXIII harus menjadi momentum rekonsiliasi nasional. Seluruh cabang dan kader PMKRI di berbagai daerah diharapkan kembali bersatu untuk memperkuat kaderisasi, pengabdian masyarakat, serta perjuangan menghadapi berbagai persoalan bangsa.
“Setelah melewati perjalanan panjang dari Ruteng hingga Bandung, pekerjaan utama PMKRI kini bukan lagi mempertahankan perbedaan, melainkan membangun kembali persatuan dan memastikan organisasi hadir secara nyata bagi Gereja, masyarakat, dan bangsa,” tegasnya.
Di tengah momentum rekonsiliasi organisasi, Yohanes juga menyampaikan keprihatinan terhadap masyarakat Flores yang terdampak gempa bumi. Dia mengajak seluruh kader PMKRI menunjukkan solidaritas melalui tindakan nyata.
“Saya menyampaikan duka yang mendalam kepada seluruh masyarakat Flores yang terdampak gempa. Tidak boleh ada satu pun masyarakat yang merasa sendirian dalam situasi seperti ini. Mereka membutuhkan kehadiran dan bantuan kita,” katanya.
Yohanes menegaskan, solidaritas tidak cukup diwujudkan melalui pernyataan belasungkawa. PMKRI bersama cabang-cabang di berbagai daerah akan berupaya memberikan bantuan sesuai kebutuhan dan kemampuan di lapangan.
“Solidaritas tidak cukup berhenti pada pernyataan belasungkawa. PMKRI bersama cabang-cabang di berbagai daerah akan bergerak untuk membantu masyarakat terdampak sesuai kemampuan dan kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Diketahui, Yohanes terpilih dalam lanjutan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII PMKRI di Bandung. Sebelumnya, Kongres XXXIV dan MPA XXXIII yang berlangsung di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 19-25 Juli 2026 belum menghasilkan keputusan final terkait kepemimpinan nasional PMKRI.
Dinamika persidangan di Ruteng berlangsung cukup panjang. Perbedaan pandangan mengenai mekanisme persidangan, legitimasi keputusan, penerapan AD/ART, hingga tata tertib MPA membuat sejumlah agenda strategis, termasuk penetapan ketua presidium, belum dapat diselesaikan.
Forum kemudian dilanjutkan di Bandung sebagai ruang penyelesaian agenda yang masih tertunda. Setelah melalui berbagai argumentasi dan adu gagasan, peserta MPA akhirnya menetapkan Yohanes Tola sebagai pemimpin nasional PMKRI untuk periode 2026-2028.(nas)























