INDOPOSCO.ID – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, perekonomian Indonesia kembali menunjukkan ketahanannya. Aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi, inflasi bergerak turun ke level yang lebih terkendali, sementara konsumsi masyarakat dan aktivitas produksi tetap menunjukkan tren positif.
Meski demikian, pemerintah tetap mencermati perkembangan perdagangan global, dinamika harga energi, serta meningkatnya impor yang membuat neraca perdagangan pada Juni 2026 mengalami defisit tipis.
Direktur Jenderal (Dirjen) pada Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu mengatakan bahwa pemulihan mulai terlihat dari sektor manufaktur nasional.
“Pada Juli 2026, PMI (Purchasing Managers’ Index) Manufaktur Indonesia meningkat ke level 50,2 dari 46,9 pada bulan sebelumnya. Perbaikan tersebut didorong oleh kembali meningkatnya produksi dan penambahan tenaga kerja merespons kebutuhan operasional perusahaan,” kata Febrio dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, capaian tersebut menjadi sinyal dunia usaha kembali meningkatkan aktivitas produksi. Namun, pemulihan permintaan masih berlangsung secara bertahap sehingga perlu terus diperkuat.
“Namun demikian, pemulihan permintaan masih berlangsung secara bertahap, sehingga penguatan aktivitas manufaktur perlu terus didukung oleh terjaganya daya beli masyarakat, peningkatan daya saing industri, dan keberlanjutan permintaan ekspor,” ujarnya.
Optimisme juga datang dari membaiknya aktivitas manufaktur di sejumlah mitra dagang Indonesia. PMI manufaktur Thailand tercatat 54,2, Jepang 54,5, Amerika Serikat 53,8, Vietnam 52,9, dan Malaysia 50,7. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendorong permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.
Dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia pada Juni 2026 mencapai USD25,46 miliar atau tumbuh 8,84 persen secara tahunan, terutama didorong ekspor nonmigas seperti batu bara serta minyak kelapa sawit dan turunannya. Sementara impor naik 34,27 persen menjadi USD25,91 miliar, didominasi bahan baku, bahan penolong, dan barang modal, sehingga neraca perdagangan mengalami defisit tipis sebesar USD0,45 miliar. Meski begitu, secara kumulatif Januari hingga Juni 2026 Indonesia masih membukukan surplus sebesar USD3,58 miliar.
Dari sisi harga, inflasi tahunan Juli 2026 turun menjadi 2,88 persen dari 3,34 persen pada Juni 2026.
Febrio menjelaskan penurunan inflasi terutama dipengaruhi melimpahnya pasokan hasil panen hortikultura yang menekan inflasi kelompok harga bergejolak.
“Melandainya inflasi Juli terutama disebabkan oleh penurunan inflasi komponen harga bergejolak di tengah tetap stabilnya komponen inti,” tutur Febrio.
Inflasi volatile food turun menjadi 2,52 persen dari 5,58 persen, sedangkan inflasi inti tetap stabil di level 2,76 persen. Di sisi lain, inflasi komponen harga yang diatur pemerintah naik tipis menjadi 3,58 persen akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi dan tarif angkutan udara.
Prospek ekonomi nasional juga tercermin dari sejumlah indikator domestik. Penjualan mobil tumbuh 32,9 persen, penjualan sepeda motor naik 1,1 persen, konsumsi bahan bakar minyak meningkat 6,5 persen, penjualan semen tumbuh 13,5 persen, dan penjualan listrik naik 10,8 persen. Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen tetap berada di level optimistis sebesar 117,8.
Febrio menegaskan pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan melalui kebijakan yang adaptif.
“Pemerintah terus berkomitmen menjaga stabilitas makroekonomi dan momentum pertumbuhan melalui kebijakan yang responsif dan terukur. Pengendalian inflasi dilakukan dengan menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga pangan, sekaligus mengantisipasi dampak gejolak harga energi global dan El Nino untuk mendukung ketersediaan pasokan,” tegasnya.
Selain menjaga inflasi, pemerintah juga akan terus memperkuat daya beli masyarakat, meningkatkan daya saing industri manufaktur, mempercepat hilirisasi sumber daya alam, memperluas pasar ekspor melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional, serta memastikan impor tetap mendukung kegiatan produksi dan investasi.
Dengan inflasi yang semakin terkendali, manufaktur yang kembali berekspansi, dan konsumsi domestik yang tetap kuat, pemerintah optimistis fondasi ekonomi Indonesia akan tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global. (her)


















