INDOPOSCO.ID – PT Selatox Bio Pharma meresmikan fasilitas manufaktur Botulinum Toxin Type A berstandar Good Manufacturing Practice (GMP) di Cikarang, Jawa Barat. Peresmian pabrik tersebut menjadi langkah strategis perusahaan dalam memperkuat industri biofarmasi nasional sekaligus menargetkan pasar global melalui produk biologis berkualitas.
Peresmian dihadiri CEO Selatox Bio Pharma Joh Young Hoon, CEO Daewoong Pharmaceutical Park Seongsoo, perwakilan Korea Ministry of Food and Drug Safety (MFDS) Ahn Young Jin, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., serta perwakilan Kementerian Kesehatan RI Agus Tjahajana Wirakusumah.
Pada kesempatan tersebut, Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. menyerahkan sertifikat Good Manufacturing Practice (GMP) atau Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) kepada fasilitas manufaktur Selatox. Menurutnya, sertifikasi tersebut menandakan fasilitas telah memenuhi standar mutu yang diakui secara internasional.
“Hari ini kita resmikan dan kita berikan sertifikat Good Manufacturing Practice atau sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Sebagai lembaga negara yang telah mendapatkan WHO Listed Authority (WLA), standar yang kita berikan bukan lagi standar lokal, tetapi standar global,” kata Taruna.
Taruna mengatakan BPOM akan terus mengawal pengembangan industri biofarmasi nasional agar mampu menghasilkan produk yang memenuhi standar internasional dan memiliki daya saing di pasar dunia.
“Harapannya produk dari dalam negeri ini juga nanti bisa diekspor sehingga Indonesia menjadi hub internasional, khususnya di kawasan Asia,” ujarnya.
Ia menegaskan, sertifikat GMP diberikan setelah BPOM melakukan proses asesmen dan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap fasilitas manufaktur Selatox.
“Kami ingin memastikan semua produk yang sampai ke masyarakat aman, berkhasiat, dan telah melalui proses asesmen serta pengecekan yang sangat ketat terhadap standar GMP. Kami yakin semuanya telah berjalan sesuai aturan dan standar yang berlaku,” tuturnya.
Taruna turut menyampaikan apresiasi kepada Selatox atas keberhasilannya memperoleh sertifikat GMP.
“Selamat kepada Selatox Bio Pharma yang telah berhasil mendapatkan sertifikat ini. Kami berharap produk-produknya dapat dinikmati masyarakat luas dan menjadi salah satu produk botulinum toxin yang memperkuat posisi Indonesia sebagai hub industri biofarmasi di Asia Tenggara,” ucapnya.
Sementara itu, CEO Selatox Bio Pharma Joh Young Hoon mengatakan peresmian fasilitas tersebut merupakan tonggak penting bagi perusahaan dalam mewujudkan visi sebagai perusahaan biofarmasi berkelas dunia.
“Fasilitas ini bukan sekadar infrastruktur, tetapi fondasi kepercayaan yang dibangun melalui standar internasional dan dedikasi lokal. Setiap produk yang kami hasilkan mengedepankan keamanan, konsistensi, dan kualitas,” ujar Joh.
Menurut Joh, Selatox mengusung filosofi Pursuing the Highest Quality, Delivering the Finest Beauty sebagai landasan dalam seluruh proses bisnis, mulai dari penelitian dan pengembangan hingga manufaktur serta pengendalian mutu.
“Kami bangga membangun fasilitas ini bersama Indonesia. Kami ingin berkontribusi bagi pengembangan industri biofarmasi nasional dan pertumbuhan ekonomi melalui ekspor,” katanya.
Joh juga menyampaikan apresiasi kepada Daewoong Pharmaceutical, Kementerian Kesehatan RI, BPOM, serta Korea Ministry of Food and Drug Safety (MFDS) atas dukungan terhadap pembangunan fasilitas tersebut.
“Bersama-sama kami berkomitmen menjadi perusahaan biofarmasi global yang tepercaya serta menghadirkan produk berkualitas bagi tenaga kesehatan dan masyarakat di seluruh dunia,” pungkasnya.
Selatox yang berdiri pada 2022 mengembangkan ekosistem terintegrasi yang mencakup fasilitas manufaktur di Cikarang dan pusat penelitian serta pengembangan (Research and Development/R&D) di Depok. Fasilitas tersebut dirancang khusus untuk memproduksi Botulinum Toxin Type A dengan sistem manufaktur aseptik, penerapan Quality Management System (QMS), prinsip Good Manufacturing Practice (GMP), serta sistem cold chain guna menjaga kualitas dan stabilitas produk biologis.
Perusahaan menyebut fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 6,5 juta vial per tahun dengan dukungan sistem produksi yang sebagian besar telah terotomatisasi. Produk utamanya, SELATOXIN, saat ini masih menjalani pengembangan klinis sebagai bagian dari proses menuju komersialisasi setelah memenuhi seluruh persyaratan regulasi.
Melalui fasilitas tersebut, Selatox menargetkan Indonesia tidak hanya menjadi pasar produk biofarmasi, tetapi juga berkembang sebagai basis produksi yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus menembus pasar global.
Sebagai catatan editor, naskah ini sudah memiliki struktur berita yang kuat: judul yang fokus pada peristiwa utama, lead yang menjelaskan nilai berita, kutipan regulator sebagai penguat kredibilitas, kutipan perusahaan untuk menjelaskan tujuan dan komitmen, lalu penutup yang memberikan konteks mengenai kapasitas dan target perusahaan.(ibs)


















