INDOPOSCO.ID – Management Walkthrough (MWT) Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan di Jawa Timur tak sekadar menjadi agenda peninjauan lapangan. Kunjungan tersebut membawa pesan yang sama kuatnya bagi layanan kesehatan maupun program pemberdayaan masyarakat: inovasi, profesionalisme, dan empati harus menjadi fondasi dalam menghadirkan manfaat nyata bagi publik.
Saat mengunjungi RS IHC Perkebunan Jember Klinik di Jember, Kamis (2/7/2026), Iriawan menegaskan bahwa mutu layanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitas, tetapi juga oleh sikap para tenaga medis dalam melayani pasien.
Di rumah sakit yang berada di Jalan Bedadung, Kaliwates, itu, Iriawan meninjau sejumlah layanan, mulai dari Medical Check Up (MCU), Instalasi Gawat Darurat (IGD) 24 jam, ruang rawat inap, poliklinik spesialis, laboratorium, hingga instalasi farmasi.
Pria yang akrab disapa Iwan Bule tersebut mengapresiasi kinerja seluruh jajaran rumah sakit karena mampu memadukan standar pelayanan profesional dengan pendekatan yang humanis.
“RS IHC Perkebunan Jember Klinik telah menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas lahir dari profesionalisme, dedikasi, dan ketulusan seluruh insan rumah sakit. Pertahankan kepercayaan masyarakat yang telah dibangun dengan kerja keras selama ini,” kata Iriawan.
Ia menilai tantangan dunia kesehatan akan terus berkembang sehingga peningkatan sarana harus diimbangi dengan penguatan kualitas sumber daya manusia.
“Teruslah berinovasi, tingkatkan kompetensi, serta jaga keramahan dan empati kepada setiap pasien. Keramahan adalah jiwa pelayanan kesehatan, sedangkan profesionalisme menjadi fondasi dalam memberikan layanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Iriawan, budaya kerja yang mengedepankan ketulusan, inklusivitas, kesiapsiagaan, dedikasi, dan profesionalisme menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
“Nilai-nilai inilah yang menjadikan rumah sakit tidak hanya unggul dari sisi fasilitas, tetapi juga dipercaya masyarakat,” jelas Iriawan.
Sebelum mengakhiri kunjungannya, ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan yang setiap hari berada di garis depan pelayanan.
“Terima kasih kepada seluruh pejuang kesehatan di RS IHC Perkebunan Jember Klinik. Tetaplah semangat dalam mengabdi karena saudara-saudara adalah pahlawan nyata yang menjaga kesehatan masyarakat Jember dan Indonesia,” tambahnya.
Sehari sebelumnya, Rabu (1/7/2026), Iriawan meninjau pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina di Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Di lokasi tersebut, ia melihat langsung program Kalanganyar Circular Living Initiative (KANG ILING) yang dikembangkan Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda.
Program berbasis ekonomi sirkular itu mengolah limbah cabut duri ikan bandeng dan minyak jelantah menjadi produk bernilai ekonomi. Inisiatif tersebut tak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha bagi perempuan mantan buruh tambak, pelaku UMKM, dan kelompok masyarakat lainnya.
Hingga kini, program telah menjangkau 550 kepala keluarga dengan melibatkan 79 anggota aktif, termasuk 42 perempuan mantan buruh tambak. Dalam setahun, KANG ILING membukukan omzet sebesar Rp788,4 juta.
Iriawan menilai program tersebut membuktikan bahwa TJSL perusahaan harus mampu menciptakan dampak berkelanjutan.
“Program seperti ini menunjukkan, CSR Pertamina tidak hanya berorientasi pada bantuan semata, tetapi mampu membangun kemandirian masyarakat melalui inovasi, pemberdayaan ekonomi, serta pelestarian lingkungan. Saya berharap program ini terus berkembang sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Iriawan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan program bersama masyarakat. “Lanjutkan dan bina terus. Apa yang sudah dibangun, jangan ditinggalkan, karena biar Pertamina semakin jaya,” tuturnya.
Salah seorang penerima manfaat, Solikha, mengatakan perubahan di kampungnya terasa nyata sejak program berjalan. Dahulu limbah rumah tangga maupun limbah pengolahan ikan dibuang ke saluran air, sedangkan kini kawasan tersebut berkembang menjadi lokasi edukasi dan wisata lingkungan.
“Pertama kali di sini kampung ini kumuh. Sebelum ada Pertamina, limbah semuanya biasanya dibuang di selokan. Kami kemudian dibuatkan tempat seperti ini, yakni Anaerobic Biofilter. Kampung kami sekarang jadi semakin dikenal. Ada edukasi, wisata, bahkan anak-anak akademi sering datang ke sini untuk belajar,” urai Solikha.
Rangkaian MWT di Jawa Timur menjadi bagian dari upaya Pertamina memastikan layanan publik, operasional bisnis, dan program pemberdayaan masyarakat berjalan optimal sekaligus menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan. (her)


















