INDOPOSCO.ID – Siapa sangka pohon nyamplung yang banyak tumbuh di kawasan pesisir ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber energi masa depan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan menyebut minyak dari biji nyamplung bisa diolah menjadi bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar ramah lingkungan yang kini diburu industri penerbangan dunia.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan (PRBT), BRIN Budi Leksono menjelaskan, biji nyamplung mengandung minyak hingga 60-70 persen. Dengan produktivitas yang tinggi, tanaman ini dinilai layak menjadi salah satu tanaman energi berbasis hutan yang menjanjikan.
“Minyak nyamplung berpotensi diolah menjadi biokerosin, biodiesel hingga bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang saat ini menjadi kebutuhan penting dalam agenda transisi energi global,” kata Budi dalam keterangan, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, keunggulan nyamplung tidak hanya terletak pada kandungan minyaknya. Tanaman asli Indonesia itu juga mampu tumbuh di lahan marginal maupun lahan kritis yang kurang cocok untuk tanaman pangan. Dengan begitu, pengembangannya tidak akan bersaing dengan kebutuhan produksi pangan nasional.
Budi mengatakan, pemanfaatan nyamplung juga dapat menjadi bagian dari strategi rehabilitasi lahan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kawasan. Selain itu, tanaman tersebut memiliki kemampuan menyerap karbon yang tinggi sehingga berpotensi mendukung target Net Zero Emission Indonesia.
“Kami juga mengembangkan konsep pemanfaatan terpadu agar seluruh bagian nyamplung bernilai ekonomi,” ungkapnya.
“Tidak hanya minyak bijinya yang diolah menjadi biofuel, tempurung dan ampas biji dapat dimanfaatkan menjadi pelet, biochar, arang aktif hingga pakan ternak berprotein tinggi,” imbuhnya.
Sementara itu, lanjut dia, limbah cair dari proses produksi biodiesel seperti resin dan gliserol juga masih bisa diolah menjadi bahan baku biofarmaka dan sabun. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan konsep ekonomi sirkular karena mampu meminimalkan limbah.
Di sisi lain, masih ujar dia, pengembangan nyamplung diyakini dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya di kawasan pesisir dan lahan kritis. Mulai dari budidaya tanaman, pengumpulan buah hingga pengolahan hasilnya berpotensi menciptakan lapangan kerja sekaligus memperkuat rantai pasok bioenergi nasional.
“Di tengah meningkatnya kebutuhan energi rendah emisi di berbagai negara, termasuk sektor penerbangan yang mulai mengadopsi bahan bakar berkelanjutan. Indonesia memiliki peluang untuk mengoptimalkan sumber daya hayati lokal sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan energi,” ujarnya.(nas)


















