INDOPOSCO.ID – Kementerian Pertahanan (Kemhan) resmi menghapus latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dan menggantinya dengan pembekalan fokus pada bela negara serta kemampuan manajerial.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo mengatakan, pelaksanaan pembekalan bagi peserta program SPPI calon pengelola Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) terus dilakukan evaluasi, menyusul kematian lima orang peserta.
“Sebagai bagian dari evaluasi tersebut format kegiatan yang sebelumnya dikenal sebagai latsarmil tidak lagi dilaksanakan dalam bentuk sebelumnya. Saat ini, kegiatan diarahkan menjadi latihan pembekalan bela negara dan manajerial,” kata Rico Ricardo dalam keterangan video dalam tayangan YouTube Kemhan, Kamis (2/7/2026).
Tujuannya bukan untuk membentuk peserta menjadi prajurit ataupun komcad melainkan membangun karakter disiplin, kepemimpinan, wawasan kebangsaan. “Tanggung jawab, kerja sama serta kesiapan manajerial sebagai calon pengelola koperasi,” ujar Rico.
Dalam penyesuaian itu materi teknis dan taktis militer sudah dihilangkan termasuk kegiatan menembak, taktik regu senapan serta kegiatan taktis dan teknik lainnya. “Tidak ada lagi latihan fisik dalam pengertian latihan militer,” jelas Rico.
Aktivitas yang ada hanya bersifat olahraga ringan untuk menjaga kebugaran seperti senam pagi atau jalan kaki ringan dengan tetap menyesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta.
“Prinsip utama dari seluruh penyesuaian ini adalah keselamatan dan kesehatan peserta,” ujar Rico.
Selain itu, aspek kesehatan peserta diperkuat melalui pemantauan harian profiling kesehatan lanjutan, pemeriksaan bagi peserta yang memiliki faktor risiko, serta penguatan mekanisme pelaporan keluhan dan rujukan medis.
Adapun nama-nama peserta SPPI yang dilaporkan meninggal dunia meliputi Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, serta Nola Dya Sari.
Para peserta itu dilaporkan meninggal dunia dengan rentang waktu kejadian yang dilaporkan sepanjang bulan Juni 2026 akibat kondisi medis tertentu, seperti serangan jantung (cardiac arrest), heat stroke, hingga tuberkulosis. (dan)


















