INDOPOSCO.ID – Pergerakan rupiah membuka awal pekan dengan performa yang lebih meyakinkan. Pada perdagangan Senin (29/6/2026), mata uang Garuda dibuka menguat tajam ke level Rp17.840 per dolar Amerika Serikat (AS), meski kondisi ekonomi global masih dibayangi berbagai ketidakpastian.
Konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda hingga tensi perang dagang yang kembali meningkat belum sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap pasar keuangan. Namun, pelaku pasar justru memberikan respons positif terhadap sejumlah langkah pemerintah yang dinilai memperkuat fondasi ekonomi domestik.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, ada tiga faktor utama yang menopang penguatan rupiah berasal. Pertama yakni komitmen pemerintah menjaga kesehatan fiskal, termasuk melalui penyesuaian anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, keputusan memangkas alokasi anggaran MBG dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun menjadi pesan penting bahwa pemerintah mengutamakan disiplin anggaran.
“Pemotongan anggaran sebesar Rp50 triliun ini menunjukkan pemerintah serius memperkuat kondisi keuangan negara,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Tak hanya itu, rencana restrukturisasi badan usaha milik negara (BUMN) juga dinilai menjadi katalis positif bagi kepercayaan investor. Pemerintah sebelumnya mengungkapkan target untuk merampingkan jumlah BUMN dari sekitar 1.000 perusahaan menjadi sekitar 250 entitas agar lebih efisien dan tidak membebani keuangan negara.
Ibrahim menilai kebijakan tersebut akan berdampak langsung terhadap pengelolaan anggaran negara dalam jangka panjang.
“Ini juga menjadi salah satu yang akan mempengaruhi defisit anggaran. Artinya pemerintah ini benar-benar serius bahwa defisit APBN itu harus dijaga di bawah 3 persen,” jelasnya.
Sentimen positif ketiga datang dari keputusan pemerintah yang memilih tidak menerima tawaran bantuan dana sebesar USD30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF). Langkah tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pemerintah memiliki keyakinan terhadap kemampuan ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan global.
Bagi pelaku pasar, keputusan tersebut mempertegas optimisme pemerintah terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia, meski pasar saham domestik masih berada dalam tekanan.
“Penolakan IMF menjadi sentimen positif, karena pemerintah menunjukkan keyakinan pada pertumbuhan ekonomi yang masih solid di kisaran 5,61 persen,” tambahnya.
Dengan kombinasi disiplin fiskal, restrukturisasi BUMN, dan sikap pemerintah yang mengandalkan kekuatan ekonomi domestik, rupiah berhasil mencatat penguatan signifikan pada awal pekan. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen dari dalam negeri masih menjadi penopang utama stabilitas nilai tukar di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya kondusif.(her)


















