INDOPOSCO.ID – Tidak ada gunting pita ataupun seremoni mewah saat Ruang Setara resmi dibuka di Pekanbaru. Sebagai penanda dimulainya operasional, seorang barista penyandang disabilitas hanya dipasangkan apron kerja. Simbol sederhana itu justru membawa pesan besar: penyandang disabilitas hadir bukan lagi sebagai objek bantuan, melainkan pelaku utama dalam aktivitas ekonomi.
Ruang Setara yang mengusung konsep Coffee, Social, and Study Space menjadi bagian dari Program Pemko Pesmina (Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas Pertamina). Kehadirannya menawarkan ruang yang tidak hanya ramah bagi penyandang disabilitas, tetapi juga menyediakan kesempatan bekerja, belajar, dan membangun usaha secara mandiri.
Nuansa inklusi langsung terasa sejak pengunjung memasuki area kafe. Sebelum memesan makanan atau minuman, tamu diajak menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan para barista. Pengalaman tersebut menghadirkan perspektif berbeda, di mana masyarakat diajak menyesuaikan diri dan merasakan langsung pentingnya komunikasi yang setara.
Program Pemko Pesmina sendiri telah melibatkan sebanyak 195 penyandang disabilitas. Mereka memperoleh pelatihan sekaligus pendampingan untuk menjalankan berbagai aktivitas ekonomi produktif, mulai dari menjadi barista, pelaku usaha kuliner, pengelola jasa laundry sepatu, hingga layanan pijat tuna netra.
Tak berhenti pada pelatihan keterampilan, program tersebut juga membangun ekosistem pemberdayaan melalui penguatan operasional usaha hingga pembentukan koperasi disabilitas agar keberlanjutan usaha dapat terus terjaga.
Corporate Secretary Pertamina Hulu Rokan (PHR), Eviyanti Rofraida, mengatakan pendekatan tersebut dirancang untuk mengubah paradigma pemberdayaan penyandang disabilitas.
“Melalui Ruang Setara, kami ingin memastikan bahwa inklusi tidak hanya berhenti pada akses, tetapi berlanjut pada kesempatan nyata untuk bekerja, berinteraksi, dan mandiri. Penyandang disabilitas bukan objek program, melainkan subjek yang berdaya dan berkontribusi,” kata Eviyanti dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, membangun masyarakat yang inklusif tidak cukup melalui kampanye atau slogan. Pengalaman berinteraksi secara langsung menjadi cara efektif untuk menumbuhkan empati sekaligus menghapus stigma yang masih melekat.
“Inklusi perlu dirasakan, bukan hanya dibicarakan. Karena itu, kami mendorong interaksi langsung agar masyarakat melihat kemampuan, bukan keterbatasannya,” tambahnya.
Inisiatif tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Sosial Provinsi Riau, Zulfadli. Ia menilai langkah PHR telah sejalan dengan amanat Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2025 yang mendorong dunia usaha memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina Hulu Rokan yang telah mengimplementasikan amanat Perda Nomor 9 Tahun 2025,” ungkap Zulfadli.
“Melalui Kafe Ruang Setara, PHR telah melangkah lebih maju dalam membuka kesempatan kerja bagi teman-teman disabilitas. Ini menjadi contoh nyata bahwa dunia usaha dapat berperan aktif menciptakan lingkungan kerja yang inklusif,” tutupnya.
Harapan itu juga tercermin dari wajah Cici, salah satu kru dapur penyandang disabilitas. Dengan bahasa isyarat, ia memperkenalkan diri di hadapan para tamu dan menyampaikan rasa syukur karena akhirnya memperoleh kesempatan bekerja.
Bagi Cici, pekerjaan tersebut bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi menjadi awal untuk mewujudkan mimpi yang selama ini sulit diraih. Ia berharap semakin banyak penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang sama untuk berkarya dan hidup mandiri.
Program Pemko Pesmina melibatkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, SKK Migas, sekolah luar biasa, komunitas, hingga koperasi disabilitas. Sinergi tersebut diharapkan mampu menjadikan Ruang Setara sebagai model pemberdayaan yang berkelanjutan.
Melalui ruang ini, pesan yang ingin dibangun bukan sekadar menghadirkan fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas. Yang lebih penting adalah membuka kesempatan yang sama, sehingga setiap orang dapat bekerja, belajar, dan tumbuh bersama tanpa dibatasi oleh perbedaan. (her)


















