INDOPOSCO.ID – Pemerintah terus memperkuat peran koperasi sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan. Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) RI Farida Farichah mengajak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk “naik kelas” melalui penguatan ekosistem Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Ajakan tersebut disampaikan Farida saat mengunjungi UMKM Sasak Maiq di Kabupaten Lombok Barat, Sabtu (27/6). Dalam kunjungan itu, ia meninjau proses produksi sekaligus berdialog dengan para pelaku usaha mengenai strategi memperluas akses pasar dan pembiayaan melalui koperasi.
Menurut Farida, KDKMP tidak hanya hadir sebagai bangunan fisik, tetapi menjadi pusat distribusi sekaligus etalase modern bagi produk-produk unggulan daerah.
“Salah satu tujuannya adalah menghadirkan bangunan modern dengan fasilitas lengkap agar produk UMKM seperti Sasak Maiq ini bisa masuk ke etalase Koperasi Desa Merah Putih. Kita ingin produk ini terkonsolidasi dan didistribusikan ke seluruh jaringan koperasi di NTB, bahkan nasional,” ucapnya.
Farida menilai selama ini banyak produk lokal yang hanya mengandalkan penjualan kepada wisatawan. Melalui jaringan KDKMP, produk-produk tersebut diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas secara berkelanjutan.
Farida menjelaskan, KDKMP memiliki dua fungsi utama. Pertama, sebagai pusat distribusi kebutuhan pokok masyarakat desa, seperti beras, minyak goreng, hingga pupuk, dengan harga lebih terjangkau karena memotong rantai distribusi. Kedua, sebagai agregator produk UMKM agar memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar regional maupun nasional.
Selain membuka akses pasar, pemerintah juga menyiapkan dukungan pembiayaan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Pelaku UMKM yang menjadi anggota koperasi dapat memperoleh pembiayaan dengan bunga ringan sebesar 6 persen per tahun.
“Fungsinya, saat bergabung di koperasi, bapak-ibu bisa akses pembiayaan bunga rendah untuk meningkatkan produksi atau membeli alat baru. Ada juga ruang agregasi untuk saling bertukar informasi pasar,” kata Farida.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga bahan baku impor, Wamenkop juga mengingatkan pentingnya memperkuat penggunaan bahan baku lokal. Menurutnya, UMKM memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan industri besar karena lebih fleksibel dan tidak terlalu bergantung pada impor.
Farida menyebut kebijakan pemerintah yang membatasi impor merupakan bentuk perlindungan terhadap produk dalam negeri sekaligus upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
“Presiden Prabowo selalu menekankan pentingnya swasembada pangan. Kita harus kurangi importasi dan memaksimalkan apa yang ada di dalam negeri. Pembatasan impor sebenarnya adalah bentuk perlindungan pemerintah terhadap produk UMKM kita,” tegasnya.
Tak hanya menguasai pasar domestik, Farida juga mendorong pelaku UMKM Lombok mulai membidik pasar ekspor. Ia mencontohkan sejumlah koperasi di daerah lain yang telah berhasil mengekspor produk kuliner khas ke Malaysia dan Singapura.
Menurutnya, Kementerian Koperasi akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Smesco Indonesia dan Kementerian Perdagangan, guna membuka akses promosi dan pemasaran produk UMKM ke pasar internasional.
“Produk berkualitas dari Lombok ini harus terus didorong. Kami di Kementerian Koperasi akan berkomunikasi dengan pihak terkait agar UMKM kita tidak hanya jago kandang, tetapi juga mampu menembus pasar internasional,” pungkasnya.
Kunjungan kerja tersebut ditutup dengan komitmen memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pengelola koperasi agar Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih benar-benar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat dan mendorong UMKM NTB semakin berdaya saing di tingkat nasional maupun global.(her)

















