INDOPOSCO.ID – Upaya mengubah stigma menjadi harapan membuahkan hasil. JEC Eye Hospitals & Clinics berhasil meraih penghargaan Marketeers OMNI Brands of the Year 2026 untuk kategori Impactful Omnichannel Social Campaign, berkat kampanye edukasi bertajuk “Strabismus: From Stigma to Confidence.” Penghargaan ini menjadi pengakuan atas komitmen JEC dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai strabismus atau mata juling melalui pendekatan komunikasi yang terintegrasi, konsisten, dan relevan dengan kebutuhan publik.
Selama ini, strabismus atau mata juling masih kerap dipandang sebatas persoalan estetika. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap kondisi tersebut akan membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Padahal, anggapan itu keliru.
Secara medis, strabismus merupakan kondisi ketika posisi kedua mata tidak sejajar, yang dapat dialami baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Jika tidak ditangani secara tepat, kondisi ini berpotensi mengganggu fungsi penglihatan, mulai dari kemampuan melihat secara tiga dimensi, memperkirakan jarak, hingga meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas.
Melalui kampanye “Strabismus: From Stigma to Confidence,” JEC berupaya mengedukasi masyarakat, terutama para orang tua, agar lebih peka terhadap tanda-tanda awal mata juling pada anak.
Pada bayi, posisi mata yang tampak belum sejajar memang bisa terjadi akibat koordinasi saraf mata yang belum matang. Namun, jika kondisi tersebut masih menetap setelah usia enam bulan, orang tua dianjurkan segera memeriksakan anak ke dokter mata.
Deteksi dini menjadi faktor penting untuk mengetahui penyebab strabismus secara akurat, baik akibat gangguan otot mata, saraf, faktor genetik, maupun kelainan refraksi seperti mata minus, plus, atau silinder yang tidak terkoreksi.
Menariknya, gejala mata juling tidak selalu terlihat setiap saat. Pada sebagian kasus, kondisi ini tampak terus-menerus. Namun pada kasus lain, gejala hanya muncul sesekali, misalnya ketika anak lelah, mengantuk, melamun, atau sedang kurang sehat.
Ada pula kasus strabismus yang nyaris tak terlihat dalam aktivitas sehari-hari dan baru terdeteksi melalui pemeriksaan mata yang lebih detail. Karena itu, edukasi menjadi krusial agar masyarakat tidak menunggu hingga gejala memburuk atau mulai mengganggu aktivitas anak.
Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, Direktur Pengembangan & Pendidikan JEC Group, mengatakan penghargaan ini menjadi motivasi bagi JEC untuk terus memperluas edukasi kesehatan mata di Indonesia.
“Penghargaan ini kami maknai sebagai dorongan untuk terus memperluas edukasi kesehatan mata kepada masyarakat. Melalui kampanye strabismus ini, JEC ingin mengajak orang tua dan masyarakat memahami bahwa mata juling bukan sekadar persoalan estetika, melainkan kondisi medis yang perlu diperiksa,” ujarnya.
Menurutnya, semakin dini kondisi ini diketahui, semakin besar peluang pasien terutama anak-anak untuk mendapatkan penanganan optimal.
Untuk memperluas jangkauan edukasi, JEC menjalankan kampanye ini melalui berbagai kanal, mulai dari media sosial, platform digital, seminar kesehatan mata, talkshow radio, podcast, publikasi media, hingga aktivitas offline seperti skrining mata dan program operasi mata juling gratis.
Strategi omnichannel tersebut membuat pesan edukasi hadir secara konsisten di berbagai titik interaksi masyarakat, sehingga informasi mengenai strabismus lebih mudah diakses dan dipahami.
Di sisi layanan medis, JEC menerapkan tata laksana strabismus secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Pemeriksaan komprehensif menjadi langkah awal untuk menentukan penyebab utama.
Pada beberapa kasus, penggunaan kacamata sudah cukup membantu memperbaiki fokus dan posisi mata. Sementara pada kondisi lain, dokter dapat merekomendasikan terapi patching untuk melatih mata yang lebih lemah, vision therapy untuk meningkatkan koordinasi otot dan saraf mata, hingga tindakan operasi apabila diperlukan.
Dampak kampanye ini juga terlihat dari meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kondisi mata lebih dini. Berdasarkan data JEC, tindakan penanganan strabismus meningkat 29 persen sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa edukasi yang berkelanjutan mampu mendorong masyarakat lebih berani mencari informasi, melakukan pemeriksaan, dan memahami pilihan terapi yang tersedia.
“Bagi kami, edukasi kesehatan mata tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga membantu masyarakat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kualitas penglihatan. Kami berharap kampanye ini dapat terus mendorong deteksi dini, mengurangi stigma, dan membantu lebih banyak pasien mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan medisnya,” tambah Prof. Tjahjono.
Penghargaan Marketeers OMNI Brands of the Year 2026 menjadi pengingat bahwa edukasi kesehatan mata harus terus dilakukan secara konsisten, terutama untuk kondisi yang masih sering disalahpahami seperti strabismus.
Dengan dukungan layanan klinis terintegrasi serta jaringan 16 cabang di Jabodetabek dan berbagai wilayah Indonesia, JEC terus memperluas akses masyarakat terhadap informasi, pemeriksaan, dan penanganan kesehatan mata yang tepat.
Komitmen tersebut juga diperkuat melalui pengembangan JEC Bali @ Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur yang mengusung konsep Blue Hospital mengintegrasikan lingkungan penyembuhan yang nyaman, teknologi medis modern, serta sistem bangunan yang efisien dan berkelanjutan.(ibs)

















