INDOPOSCO.ID – Sulawesi Utara duduk di posisi strategis dalam peta perdagangan internasional Indonesia. Jepang saja sudah menyumbang devisa ekspor Indonesia senilai sekitar USD22,96 miliar dan menempati peringkat keempat mitra dagang terbesar, sementara ekspor Indonesia ke Hongkong tercatat USD2,29 miliar pada 2025. Dua pasar besar itu kini menjadi fokus Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (Sulbagtara) dalam mendorong UMKM lokal naik kelas ke level ekspor.
Bea Cukai Sulbagtara menggelar dua kegiatan asistensi ekspor secara berturutan, Kamis-Jumat (18-19/6/2026). Hari pertama diisi dengan edukasi daring Klinik Ekspor bertema strategi menembus pasar Hongkong melalui Zoom Meeting, sementara hari berikutnya dilanjutkan dengan forum diskusi luring bersama BNI Regional Office 11 di Manado, membahas akses pasar Osaka, Jepang.
Kepala Kanwil Bea Cukai Sulbagtara, Zaky Firmansyah, menegaskan bahwa Sulawesi Utara bukan daerah yang baru belajar ekspor. Komoditas unggulan seperti hasil perikanan, kelapa dan turunannya, pala, cengkeh, hingga kopi sudah memiliki fondasi ekspor yang kuat. “Sulawesi Utara memiliki posisi strategis di kawasan Pasifik dengan potensi komoditas yang sesuai dengan kebutuhan pasar Hongkong, khususnya produk perikanan, pangan premium, dan rempah-rempah,” ujar Zaky.
Hongkong dipilih sebagai fokus pembahasan bukan tanpa alasan. Konsul Perdagangan KJRI Hongkong, Aldin Jauhari, menjelaskan bahwa lebih dari 95 persen kebutuhan pangan dan barang konsumsi Hongkong berasal dari impor, dan sebagian besar barang yang masuk kembali didistribusikan ke berbagai negara. Artinya, masuk ke Hongkong berarti membuka pintu ke pasar yang jauh lebih luas dari sekadar satu wilayah.
Keuntungan kompetitif lain yang membuat Hongkong menarik adalah kebijakan perdagangannya yang terbuka dengan pembebasan bea masuk untuk sebagian besar produk impor. Aldin juga mengingatkan bahwa Hongkong rutin menjadi tuan rumah pameran dagang internasional, peluang yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha Sulut untuk memperluas jaringan dan menjangkau calon pembeli dari berbagai negara secara langsung.
Namun tantangan di lapangan tetap nyata. Head of BNI Xpora Business and Partnership Department, Rr. Ineswara Trihandia, mengidentifikasi lima hambatan utama yang masih membelit UMKM: daya saing produk, pemahaman prosedur ekspor, keterbatasan pembiayaan, akses pasar internasional, dan kapabilitas digital. Menurutnya, kelima hambatan itu hanya bisa diatasi melalui pendampingan berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi secara serius.
BNI hadir menjawab tantangan tersebut melalui program Xpora dengan pendekatan Go Productive, Go Digital, dan Go Global. Program itu mencakup edukasi usaha, akses platform digital, business matching, hingga solusi pembiayaan yang dirancang khusus untuk membantu UMKM bertransformasi menjadi eksportir berdaya saing global, bukan sekadar pelaku usaha lokal yang sesekali menjual ke luar negeri.
Pada forum luring di Aula BNI Kantor Wilayah 11 yang diikuti eksportir dari Manado dan Bitung, Bea Cukai Sulbagtara memaparkan secara teknis tata laksana ekspor, mekanisme pelayanan kepabeanan, pemenuhan ketentuan larangan dan pembatasan, hingga sanksi yang bisa dikenakan apabila terjadi kesalahan dalam pemberitahuan ekspor. Osaka dipilih sebagai target pasar Jepang karena perannya sebagai salah satu pusat perdagangan dan distribusi terbesar di negara tersebut.
Melalui dua kegiatan ini, Bea Cukai Sulbagtara menegaskan perannya bukan sekadar lembaga pemeriksa barang di perbatasan, melainkan mitra aktif yang mendampingi pelaku usaha dari tahap pemahaman pasar hingga eksekusi ekspor. Sinergi antara pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha diharapkan mampu mendorong peningkatan ekspor daerah sekaligus memperkuat kontribusi Sulawesi Utara dalam perdagangan internasional.(ipo)

















