INDOPOSCO.ID – Kehadiran Pusat Logistik Berikat (PLB) di Gorontalo menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem logistik yang lebih efisien di kawasan tengah dan timur Indonesia. Fasilitas yang dioperasikan oleh TransContinent tersebut menjadi PLB pertama di wilayah yang selama ini kerap dianggap berada di pinggiran peta logistik nasional.
Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (Sulbagtara), Zaky Firmansyah, mengatakan pembangunan PLB di Gorontalo dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya fasilitas logistik di daerah yang sebenarnya memiliki potensi ekonomi besar.
“Bea Cukai melihat adanya kesenjangan antara potensi ekonomi daerah yang cukup besar dengan ketersediaan fasilitas logistik yang masih terbatas,” katanya, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, keterbatasan tersebut selama ini menyebabkan barang yang menuju kawasan timur harus melalui pelabuhan hub di wilayah barat terlebih dahulu. Kondisi itu berdampak pada meningkatnya biaya logistik dan waktu distribusi yang lebih panjang bagi pelaku usaha.
Maka dalam hal ini, ujar Zaki, PLB menawarkan skema yang berbeda dibandingkan gudang konvensional. Barang impor dapat disimpan hingga tiga tahun tanpa harus langsung membayar bea masuk dan pajak. Selain itu, barang dapat dikemas ulang dan didistribusikan kembali sesuai kebutuhan industri.
“Pelaku usaha tidak perlu langsung menanggung beban biaya impor di awal, sehingga arus kas lebih terjaga. Di saat yang sama, distribusi menjadi lebih cepat dan efisien karena barang sudah berada lebih dekat dengan pasar di kawasan Sulawesi dan sekitarnya,” jelas Zaky.
Pembangunan fasilitas tersebut tidak berlangsung singkat. Prosesnya memerlukan waktu sekitar satu tahun, mulai dari penjajakan investor, koordinasi lintas instansi, harmonisasi regulasi, hingga pemenuhan berbagai persyaratan teknis dan administratif.
Sektor pertambangan, khususnya emas, menjadi salah satu sektor yang diproyeksikan memperoleh manfaat besar dari keberadaan PLB. Gorontalo diketahui memiliki cadangan emas yang cukup signifikan, sementara kebutuhan logistik industri pertambangan selama ini masih menghadapi tantangan biaya dan waktu distribusi.
“Dengan adanya PLB di Gorontalo, rantai pasok kegiatan pertambangan emas dapat diperkuat baik untuk penyediaan barang penunjang operasional maupun distribusi hasil produksi,” ujar Zaky.
Saat ini, operasional PLB telah didukung oleh sedikitnya dua tenant aktif. Ke depan, fasilitas tersebut diharapkan juga dapat dimanfaatkan oleh sektor perkebunan, perikanan, serta komoditas unggulan lainnya di Sulawesi.
Untuk menjamin pemanfaatan fasilitas berjalan sesuai ketentuan, Bea Cukai menerapkan pengawasan berbasis teknologi melalui sistem IT Inventory dan penggunaan e-seal pada sarana pengangkut barang.
“Semua terhubung ke sistem nasional Bea Cukai. Setiap pergerakan barang di PLB Gorontalo tercatat melalui sistem dan dapat ditelusuri,” kata Zaky.
Selain pengawasan, Bea Cukai juga melakukan pendampingan kepada pelaku usaha melalui edukasi kepabeanan, klinik ekspor, pendampingan UMKM, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai instansi terkait.
“Fokus utamanya adalah memastikan pelaku usaha tidak hanya mengetahui keberadaan PLB, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara efektif,” tegasnya.
Di sisi lain, Kanwil Bea Cukai Sulbagtara juga tengah menguji coba jalur pelayaran langsung atau direct call dari Bitung ke Tiongkok. Uji coba yang dilakukan pada 9 Maret dan 8 April 2026 menunjukkan efisiensi waktu tempuh dan biaya logistik serta mendapat respons positif dari pelaku usaha.
Menutup keterangannya, Zaky mengajak pelaku usaha di kawasan timur untuk memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia guna meningkatkan daya saing.
“Kami mengajak pelaku usaha di kawasan tengah dan timur Indonesia untuk melihat fasilitas kepabeanan sebagai peluang strategis, bukan sekadar kewajiban administratif,” pungkasnya. (ipo)

















