• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Headline

Saut Situmorang Soroti Carut-Marut Program Pemerintah: Dari Niat Jahat hingga Korupsi Sistemik yang Seret Presiden

Nelly Marinda Situmorang Editor Nelly Marinda Situmorang
Minggu, 21 Juni 2026 - 14:05
in Headline
Saut

Mantan Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang / istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

​INDOPOSCO.ID – Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Thony Saut Situmorang, angkat bicara mengenai berbagai kejanggalan dan potensi pelanggaran hukum dalam pelaksanaan program strategis pemerintah yang tengah berjalan. Menurutnya, seperti program Makan Begizi Gratis (MBG) misalnya, sejak awal dirancang secara serampangan, tidak masuk akal, serta sarat akan indikasi penyelewengan yang mengarah pada tindak pidana korupsi.

​Saut menilai setidaknya ada lima akar masalah utama yang melilit program ini. Persoalan tersebut mencakup perencanaan yang terlalu ambisius, lemahnya sistem pengawasan, masalah keamanan pangan dan logistik yang berdampak buruk pada kualitas menu, hingga tata kelola anggaran dan pengadaan yang jauh dari prinsip dasar tata kelola yang baik. Terlebih lagi, risiko korupsi serta konflik kepentingan dalam program ini dinilai sangat tinggi.
​Mantan pimpinan KPK tersebut menegaskan bahwa kesimpulan mengenai buruknya program ini dapat dilihat dari proses awal penyusunannya. Saut mengkritik keras dasar perencanaan program yang dianggapnya mengabaikan logika berpikir yang sehat demi mengejar target yang tidak realistis.

BacaJuga:

Pascaputusan MK, DKPP Belum Terima Aduan Terkait KPU Soal Syarat Pendidikan Gibran

DPR dan Pemerintah Tetapkan BPIH 2027 Rp98,46 Juta, Biaya Pelunasan Jemaah Haji Turun

Soal Bursa Panglima TNI, Maruli Tegaskan Seluruh Kepala Staf Berpeluang Sama

​”Kesimpulan itu dibuat dari bagaimana mereka dari awal menyusun program ini. Yang menurut saya terlalu ambisius, akal sehatnya enggak jalan. Banyak ternyata memang ya tidak terbukti kalau itu dilakukan dengan transparan,” ujar Saut dengan nada tegas.

​Lebih lanjut, Saut mencium adanya aroma konspirasi dan iktikad buruk dari para pembuat kebijakan sejak program ini digulirkan. Baginya, ketidaktransparanan dan pengabaian terhadap asas akuntabilitas merupakan bukti nyata bahwa program ini sengaja didesain untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu dengan mengorbankan kepentingan publik.

​”Jadi kalau ini bicara niat jahat dari awal niat jahatnya udah kelihatan kalau dalam bahasa saya itu. Nah, terbukti kan kalau mereka empat orang udah ditangkap itu kan ada niat jahat,” lanjutnya, merujuk pada penangkapan sejumlah oknum yang telah dilakukan oleh aparat penegak hukum.

​Namun, Saut juga mengkhawatirkan keberlanjutan dari penuntasan kasus hukum ini. Ia mempertanyakan keseriusan aparat penegak hukum dalam membongkar skandal tersebut hingga ke akar-akarnya. Jika proses hukum dijalankan secara setengah hati, ia pesimis permasalahan serupa bisa diselesaikan di masa mendatang.

​”Pertanyaannya kembali lagi, bagaimana kalau umpamanya ini tidak dilakukan dengan benar pengadilannya, peradilannya, penyelidikannya, penuntasan kasusnya? Ya akan begini aja terus gitu,” cetusnya.

​Bukan tanpa alasan Saut menyebut perencanaan program ini terlalu ambisius. Dari hasil analisisnya, ambisi yang dipaksakan tersebut berujung pada tabrakan regulasi yang masif. Ia memperkirakan ada belasan sektor hukum yang dilabrak demi memuluskan jalannya program non-transparan ini.
​”Paling tidak ada 11 kelompok undang-undang yang berpotensi dilanggar. Undang-Undang Tenaga Kerja, Undang-Undang Keuangan Negara, Hukum Administrasi Negara, dan seterusnya. Banyak itu yang dilanggar, yang menurut saya itu bagian dari ambisius tadi,” urainya panjang lebar.

​Dampak dari pemaksaan program ini diprediksi tidak hanya menjerat para pejabat di tingkat pusat, melainkan berpotensi menyeret aparatur di tingkat bawah secara massal. Saut memberikan analogi konkret mengenai keterlibatan pihak sekolah dalam rantai distribusi yang bermasalah, di mana kepatuhan buta terhadap perintah yang salah bisa dikategorikan sebagai bentuk persekongkolan pidana.

​”Jadi, itu yang saya bilang, kepala sekolah itu sebenarnya juga bisa dituntut itu. Jadi, bisa ribuan orang terlibat, karena apa? Kalau kemudian ada orang melakukan perbuatan jahat, kemudian perbuatan jahat itu didukung oleh kepala sekolah menandatangani, memaksakan makanan basi umpamanya, ya itu persekongkolan. Dia masuk dalam perbuatan yang sama gitu,” jelas Saut.

​Oleh karena itu, Saut menyanggah klaim jika kasus ini hanya melibatkan segelintir orang saja. Mengingat luas dan masifnya dampak program, ia meyakini jumlah tersangka yang ada saat ini barulah fenomena gunung es dari sebuah praktik korupsi yang terstruktur dan masif.

​”Jadi, kalau dibilang kemarin ada 26 orang terlibat, itu kurang lebih banyak itu. Ini kan sistem, korupsinya kan sistemik. Enggak ada sistemik hanya berlaku untuk dua, tiga orang,” tegasnya.

​Pada akhir pernyataannya, Saut menekankan bahwa tanggung jawab moral dan hukum tertinggi berada di tangan kepala negara sebagai pemegang kekuasaan eksekutif tertinggi. Ia menceritakan kembali dialognya dengan rekannya untuk menegaskan siapa yang paling harus dimintai pertanggungjawaban atas carut-marut sistemik ini.

​”Makanya waktu saya tanya pimpinan teratasnya siapa? Saya jawab, ya presidennyalah, dia harus bertanggung jawab,” pungkasnya menutup pembicaraan.

​Secara kontekstual, implikasi dari carut-marutnya program ini dinilai tidak terlepas dari sisa-sisa dinamika Pemilu 2024 yang diwarnai politik uang dan merosotnya integritas penyelenggara serta partai politik. Publik kini khawatir, jika akar masalah korupsi sistemik ini tidak segera diputus, hal ini akan menjadi modal politik buruk yang memicu proyeksi carut-marut serupa pada Pemilu 2029, yang proses tahapannya diprediksi akan segera dimulai tahun depan. (ney)

Tags: korupsimbgThony Saut Situmorang

Berita Terkait.

gibrann
Headline

Pascaputusan MK, DKPP Belum Terima Aduan Terkait KPU Soal Syarat Pendidikan Gibran

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:02
Wamendagri Dorong Percepatan Pemenuhan Hak Anak atas Akta Kelahiran
Headline

DPR dan Pemerintah Tetapkan BPIH 2027 Rp98,46 Juta, Biaya Pelunasan Jemaah Haji Turun

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:53
maruli
Headline

Soal Bursa Panglima TNI, Maruli Tegaskan Seluruh Kepala Staf Berpeluang Sama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:32
gibran
Headline

MK Sebut Dokumen Pendidikan Gibran Hanya Bukti Kehadiran, Bukan Ijazah Kelulusan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:36
gibran
Headline

Meski Tak DItemukan Ijazah Setara SMA, MK Tak Bisa Diskualifikasi Status Wapres Gibran

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:00
suhartoyo
Headline

Dinilai Tak Miliki Legal Standing, MK Tolak Gugatan Ijazah Gibran

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:32

OLAHRAGA

bri
Olahraga

Jelang MotoGP Mandalika, BRI Latih 500 Volunteer Kelola Sampah

Editor Dilianto
Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:19

INDOPOSCO.ID – Menjelang ajang MotoGP Mandalika 2026 pada 9–11 Oktober, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melatih 500...

SelengkapnyaDetails
Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid

Sentuhan Magis Pertamina di Bandara Lombok: Antarkan Semarak MotoGP Langsung Saat Mendarat

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:23
novendra

Novendra Priasmoro Berjaya, Percasi DKI Siapkan Skuad Terbaik untuk Kejurnas 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 23:13
PB FORKI

GGK Indonesia Diperkuat, PB FORKI Siapkan Program Bela Diri untuk Perempuan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:35
elkan

Elkan Baggott Usai Indonesia Juara: Kami adalah Raja Asia Tenggara

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:07

BERITA POPULER

  • Todotua

    Asian Games 2026 Ditutup Manis, Kontingen Indonesia Bawa Pulang 39 Medali dan Catat Hasil Optimal

    2714 shares
    Share 1086 Tweet 679
  • Cetak 5 Gol ke Gawang Bangladesh, Mitchell Baker Samai Rekor Iswadi Idris

    1212 shares
    Share 485 Tweet 303
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    980 shares
    Share 392 Tweet 245
  • Firli Bahuri Raih Doktor, Tawarkan Model Baru Penyelesaian Konflik Sosial

    974 shares
    Share 390 Tweet 244
  • Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    945 shares
    Share 378 Tweet 236
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.