• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

FTA Kecam Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Alarm Bahaya bagi Demokrasi dan Kebebasan Bersuara

Dilianto Editor Dilianto
Minggu, 21 Juni 2026 - 17:31
in Nasional
Roy Suryo. Foto: Istimewa

Roy Suryo. Foto: Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa dalam kasus yang berawal dari polemik keaslian ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, memicu reaksi keras dari Forum Tanah Air (FTA). Organisasi diaspora Indonesia yang tersebar di 26 negara dan lima benua itu menilai langkah hukum tersebut dapat menjadi preseden buruk bagi demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia.

Dalam pernyataan resminya, FTA menyebut penahanan terhadap pihak yang mempertanyakan dokumen publik telah menggeser substansi persoalan.

BacaJuga:

Inflasi Juli 2,88 Persen, Mendagri Tito Nilai Masih dalam Rentang Ideal

Wamendagri Bima Arya Dukung Penguatan Sistem Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Perkuat Layanan Pertanahan, Mendagri dan Menteri ATR/BPN Teken SEB tentang Layanan BPHTB

Menurut mereka, isu yang semula berkaitan dengan kebenaran sebuah dokumen kini berubah menjadi perdebatan mengenai hak warga negara untuk mengkritisi dan mempertanyakan kekuasaan.

Ketua Umum FTA, Tata Kesantra, menegaskan bahwa negara harus berhati-hati agar proses hukum tidak menimbulkan kesan digunakan untuk melindungi elite politik dari kritik publik.

“Kami menghormati proses hukum. Namun negara harus memastikan hukum tidak dipersepsikan sebagai alat untuk melindungi reputasi penguasa. Demokrasi membutuhkan ruang bagi pertanyaan, kritik, dan pengujian terhadap setiap klaim yang menyangkut kepentingan publik,” ujar Tata dalam keterangannya, Minggu (21/6/2026).

FTA menilai persoalan yang berkembang seharusnya dapat diselesaikan melalui mekanisme pembuktian yang terbuka, transparan, dan dapat diakses publik. Penggunaan instrumen pidana dalam kasus yang sarat kepentingan publik justru dikhawatirkan memperlebar jurang ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Menurut FTA, kepercayaan publik merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas pemerintahan. Ketika masyarakat merasa ruang bertanya dan menyampaikan pendapat dibatasi, legitimasi kebijakan pemerintah berpotensi ikut tergerus.

“Indonesia saat ini menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan geopolitik yang tidak ringan. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan adalah memperkuat kepercayaan rakyat, bukan menambah kecurigaan publik terhadap proses penegakan hukum,” tegasnya.

FTA bahkan menyebut penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa sebagai momentum yang patut menjadi perhatian seluruh elemen bangsa.

Mereka mengingatkan bahwa semakin sempit ruang kebebasan berekspresi, semakin besar pula risiko penyalahgunaan kekuasaan dan melemahnya fungsi kontrol masyarakat terhadap pemerintah.

Dalam sikap resminya, FTA menyampaikan lima tuntutan, mulai dari penolakan terhadap kriminalisasi pencarian kebenaran, dorongan agar sengketa dokumen publik diselesaikan secara terbuka dan independen, hingga ajakan kepada perguruan tinggi, media, dan masyarakat sipil untuk menjaga ruang dialog yang sehat serta bebas intimidasi.

FTA juga meminta pemerintah memastikan penegakan hukum tidak menimbulkan persepsi bahwa negara lebih sigap melindungi kekuasaan dibanding menjawab keraguan yang berkembang di tengah masyarakat.

Bagi FTA, demokrasi yang sehat tidak dibangun dengan membungkam pertanyaan, melainkan dengan keberanian menjawabnya secara terbuka.

“Negara yang kuat bukanlah negara yang mampu membungkam kritik dan pertanyaan. Negara yang kuat adalah negara yang mampu menjawab pertanyaan rakyat dengan transparan, jujur, dan tanpa rasa takut,” demikian pernyataan FTA.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya perdebatan politik, kepercayaan publik tetap menjadi aset terpenting yang harus dijaga oleh setiap institusi negara. (dil)

Tags: dr TifaForum Tanah AirJokowiKasus Ijazah PalsuRoy Suryo

Berita Terkait.

Wamendagri Bima Arya Dukung Penguatan Sistem Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Nasional

Inflasi Juli 2,88 Persen, Mendagri Tito Nilai Masih dalam Rentang Ideal

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:00
Wamendagri Bima Arya Dukung Penguatan Sistem Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Nasional

Wamendagri Bima Arya Dukung Penguatan Sistem Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Senin, 10 Agustus 2026 - 19:45
Perkuat Layanan Pertanahan, Mendagri dan Menteri ATR/BPN Teken SEB tentang Layanan BPHTB
Nasional

Perkuat Layanan Pertanahan, Mendagri dan Menteri ATR/BPN Teken SEB tentang Layanan BPHTB

Senin, 10 Agustus 2026 - 19:30
budi
Nasional

Praperadilan Ketum Kesthuri Ditolak, KPK: Prosedur Penggeledahan Sah dan Sesuai Hukum

Senin, 10 Agustus 2026 - 19:09
bnpb
Nasional

Karhutla Meluas di Sejumlah Daerah di Indonesia, Bromo Terbakar 520 Hektare

Senin, 10 Agustus 2026 - 18:08
gkr
Nasional

GKR Hemas Dorong Budidaya Ikan Darat Tematik Perkuat Ketahanan Pangan

Senin, 10 Agustus 2026 - 17:57

BERITA POPULER

  • Erick-Thohir

    PSSI Ubah Haluan Piala Presiden, Turnamen Kini Diproyeksikan untuk Timnas

    2464 shares
    Share 986 Tweet 616
  • Dugaan Penyalahgunaan Dapodik Ditelusuri, Kemendikdasmen Siap Tindak Tegas

    2202 shares
    Share 881 Tweet 551
  • Erick Thohir Angkat Suara Soal John Herdman Usai Indonesia Dibekuk Vietnam

    1995 shares
    Share 798 Tweet 499
  • Bea Cukai Tanjung Priok Gagalkan Penyelundupan Motor Harley-Davidson Bekas Asal Tiongkok

    1379 shares
    Share 552 Tweet 345
  • Honda Scoopy Modifikasi Jadi Magnet di Jakarta Sneakers Day 2026, Booth Honda Sedot Ratusan Pengunjung

    1279 shares
    Share 512 Tweet 320
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.