INDOPOSCO.ID – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan bioenergi akan menjadi salah satu pilar utama ketahanan energi nasional sekaligus motor penggerak transisi energi menuju target Net Zero Emissions (NZE) 2060. Untuk mewujudkan hal tersebut, PLN EPI menargetkan penyerapan biomassa mencapai 10 juta ton pada 2030, hampir tiga kali lipat dibanding target tahun 2026 sebesar 3,65 juta ton.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam audiensi bersama Dewan Energi Nasional (DEN) di Jakarta, Jumat (19/6/2026). Menurutnya, Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar, namun pemanfaatannya untuk kebutuhan domestik masih jauh dari optimal.
Hokkop mengungkapkan potensi biomassa nasional yang berasal dari limbah agro mencapai sekitar 80 juta ton per tahun. Namun hingga saat ini, baru sekitar 20 juta ton yang dimanfaatkan, sementara sebagian besar justru terserap untuk kebutuhan ekspor dan industri.
“Pada 2025, PLN hanya menyerap sekitar 2,35 juta ton biomassa untuk kebutuhan pembangkit. Sementara ekspor biomassa sudah mencapai sekitar 8,5 juta ton dan sisanya digunakan sektor industri. Ini menunjukkan potensi bioenergi nasional masih sangat besar untuk dioptimalkan bagi kepentingan domestik,” katanya.
Pengembangan biomassa menjadi semakin strategis mengingat pemerintah telah menetapkan energi baru terbarukan sebagai tulang punggung sistem energi masa depan melalui PP Nomor 40 Tahun 2025. Dalam skenario transisi energi nasional, biomassa diproyeksikan menjadi salah satu sumber energi utama bersama tenaga surya dan gas bumi.
Anggota Dewan Energi Nasional, Johni Jonathan Numberi, menilai pemanfaatan biomassa melalui skema cofiring pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) menjadi solusi realistis untuk menurunkan emisi tanpa mengganggu keandalan sistem kelistrikan nasional.
“PLTU kita rata-rata masih memiliki umur operasi yang panjang. Karena itu, cofiring biomassa menjadi langkah penting untuk mengurangi emisi sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik nasional,” ujarnya.
Menurut PLN EPI, pencapaian target penyerapan 10 juta ton biomassa pada 2030 berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hampir Rp4 triliun serta menurunkan emisi karbon hingga sekitar 11 juta ton karbon ekuivalen. Selain manfaat lingkungan, program tersebut juga diproyeksikan menciptakan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Berdasarkan perhitungan perusahaan, setiap pemanfaatan 100 ribu ton biomassa per tahun dapat melibatkan sekitar 500 petani dan 18 kelompok tani. Program ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat hingga Rp450 ribu per bulan.
Saat ini PLN EPI telah mengembangkan fasilitas produksi biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis melalui kolaborasi dengan petani, koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta mitra swasta. Untuk memenuhi kebutuhan biomassa tahun lalu, perusahaan bekerja sama dengan sekitar 150 mitra di berbagai daerah.
Tidak hanya biomassa, PLN EPI juga mulai mempercepat pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) yang berasal dari limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Indonesia memiliki hampir 3 ribu pabrik kelapa sawit yang menghasilkan sekitar 130 juta metrik ton POME setiap tahun.
Hokkop menjelaskan uji coba pemanfaatan CBG pada salah satu pembangkit milik PT Nusantara Power menunjukkan hasil yang menjanjikan. Ke depan, CBG diharapkan dapat menggantikan sebagian kebutuhan energi pada pembangkit berbasis gas.
“Kami berharap kalau biomassa bisa menggantikan sekitar 10 persen kebutuhan energi PLTU, maka CBG juga bisa menggantikan sekitar 10 persen kebutuhan energi di PLTG, PLTMG maupun PLTGU,” ucapnya.
PLN EPI juga mulai mengembangkan biohidrogen sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menangkap peluang pasar energi bersih global. Dengan ketersediaan biomassa dan limbah organik yang melimpah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain penting dalam industri biohidrogen di masa depan.
Secara keseluruhan, PLN EPI memperkirakan pengembangan bioenergi hingga 2030 dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp5,1 triliun, tambahan penerimaan negara sebesar Rp670 miliar, pemanfaatan limbah hingga 20 juta ton, serta menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau.
Meski demikian, pengembangan industri bioenergi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kepastian harga dan penguatan ekosistem industri. Untuk menjawab tantangan tersebut, PLN EPI mengusulkan pembentukan Indonesian Bioenergy Index (IBI) sebagai acuan harga nasional bioenergi yang independen dari harga energi fosil.
Usulan tersebut mendapat respons positif dari DEN. Dalam audiensi tersebut, DEN menyampaikan tiga langkah strategis percepatan pengembangan industri bioenergi nasional, yakni mendorong dukungan kebijakan lintas sektor termasuk kajian pembentukan Indonesian Bioenergy Index, mempercepat sinkronisasi pembangunan infrastruktur energi dan logistik biomassa, serta membentuk forum koordinasi strategis dari hulu hingga hilir.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi bioenergi nasional. Dengan sumber daya yang melimpah dan dukungan kebijakan yang tepat, bioenergi berpeluang menjadi penggerak utama ketahanan energi, ekonomi hijau, sekaligus akselerator pencapaian target NZE Indonesia pada 2060. (rmn)
















