INDOPOSCO.ID – Perusahaan penyedia solusi pertambangan global asal Australia, Orica, menegaskan komitmennya untuk terus berinvestasi di Indonesia seiring peringatan 25 tahun PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI), perusahaan patungan dengan PT Armindo Prima yang kini menjadi produsen amonium nitrat terbesar di Tanah Air.
Selama seperempat abad terakhir, KNI berperan penting dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor amonium nitrat, bahan baku utama pembuatan bahan peledak industri yang digunakan sektor pertambangan.
Didirikan pada 2001 melalui kemitraan strategis antara PT Armindo Prima dan Orica, KNI berkembang menjadi fasilitas produksi berstandar internasional yang mendukung ketahanan pasokan domestik sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
Managing Director dan CEO Orica, Sanjeev Gandhi, mengatakan pencapaian tersebut menunjukkan keberhasilan kolaborasi antara keahlian global dan kemitraan lokal dalam membangun kapasitas industri strategis Indonesia.
“Selama lebih dari 25 tahun, KNI telah berkontribusi dalam mentransformasi industri sumber daya di Indonesia, dari yang sebelumnya bergantung pada impor menjadi memiliki pasokan domestik yang tangguh untuk produk dan layanan penting bagi industri pertambangan,” kata Gandhi.
Menurut dia, perjalanan KNI menjadi bukti bahwa kerja sama industri yang berkelanjutan mampu memperkuat perekonomian nasional sekaligus mendukung pertumbuhan sektor sumber daya alam.
“Perjalanan ini menunjukkan apa yang dapat dicapai ketika keahlian global dipadukan dengan kemitraan lokal yang kuat guna mendukung pembangunan nasional dan pertumbuhan industri. Kami berkomitmen untuk terus berinvestasi di Indonesia guna mendukung kemajuan industri sumber daya alam,” ujarnya.
Sejak memulai produksi komersial pada 2012 hingga akhir 2025, KNI telah memproduksi lebih dari 3,9 juta metrik ton amonium nitrat dan mengekspor lebih dari 670 kiloton ke berbagai pasar internasional. Capaian tersebut turut menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir amonium nitrat di kawasan.
Fasilitas KNI memiliki kapasitas terpasang sebesar 366 kiloton per tahun dan mempekerjakan tenaga kerja yang mayoritas berasal dari Kalimantan Timur, dengan sekitar 85 persen karyawan berdomisili di Bontang.
Selain memperkuat pasokan domestik bagi industri bahan peledak pertambangan, KNI juga memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, pengadaan barang dan jasa lokal, serta berbagai program sosial kemasyarakatan.
Direktur Utama PT Kaltim Nitrate Indonesia, Twedy Nasution, mengatakan transformasi tersebut merupakan hasil dedikasi seluruh insan KNI dalam membangun industri strategis nasional.
“KNI menunjukkan apa yang mampu dicapai Indonesia di sektor industri strategis, dengan mengubah ketergantungan terhadap impor menjadi pasokan domestik yang andal. Setelah 25 tahun, kebanggaan terbesar saya bukanlah jumlah tonase yang telah kami produksi, melainkan tim Indonesia di Bontang yang memungkinkan setiap ton tersebut terwujud,” katanya.
Sepanjang operasinya, KNI terus meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Pada 2024, perusahaan mencatatkan produksi tahunan tertinggi sekitar 347 kiloton, sekaligus menjadi rekor produksi tertinggi sejak fasilitas tersebut beroperasi.
Di sisi keberlanjutan, KNI juga menerapkan teknologi secondary abatement pada 2023 yang berhasil menurunkan emisi sekitar 9,6 persen atau setara 373 kiloton CO₂-ekuivalen per tahun.
Sementara itu, Group Executive dan President–Asia Orica, Rajkumar Mathiravedu, menilai KNI telah berkembang menjadi salah satu tolok ukur kapabilitas industri di kawasan Asia.
“KNI telah menjadi acuan bagi kapabilitas dan ketahanan industri di Asia, menunjukkan bagaimana sebuah negara dapat memperkuat pasokan domestiknya sekaligus bersaing di pasar internasional. Pencapaian ini adalah kisah tentang kemitraan dan kepercayaan yang telah dibangun di Indonesia selama 25 tahun,” ujarnya.
Ke depan, Orica bersama para mitranya akan terus mendukung pengembangan KNI untuk menopang pertumbuhan sektor pertambangan, agenda hilirisasi nasional, serta memperkuat ketahanan pasokan bahan baku strategis bagi pasar domestik. (srv)

















