INDOPOSCO.ID – Di era digital saat ini, tantangan yang dihadapi remaja tidak lagi sebatas persoalan akademik atau pergaulan. Arus informasi tanpa batas, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), dan dinamika sosial di ruang digital menuntut generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi digital yang kuat, serta karakter yang kokoh. Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas Genre Nasional (Adujaknas) 2026 hadir sebagai ruang pembelajaran sekaligus kolaborasi yang mendorong remaja memanfaatkan teknologi secara positif, kreatif, dan bertanggung jawab.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd menilai pesatnya perkembangan teknologi telah melahirkan peradaban baru yang tidak bisa dihindari. Kehadiran AI, menurutnya, adalah peluang besar yang harus dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas dan inovasi — bukan sebaliknya, membuat manusia kehilangan kendali atas hidupnya. Karena itu, penguatan kesehatan mental, kemampuan beradaptasi, dan daya lenting menjadi bekal penting agar remaja Indonesia tetap tumbuh dan unggul di tengah perubahan, jelasnya saat Kick off Adujaknas 2026 di Kantor Kemendukbangga/BKKBN pada Senin (15/6/2026).
“Mereka perlu pegangan supaya nanti terarah ke depan, mengetahui secara komprehensif. Jadi, lebih siap hidup,” tegas Menteri Wihaji.
Ia menekankan bahwa tugas Kemendukbangga/BKKBN adalah memastikan penduduk usia produktif memperoleh penguatan kualitas sumber daya manusia sejak dini hingga dewasa. Ia juga mengingatkan para anggota Genre (Generasi Berencana) agar tidak pernah lelah mencintai Indonesia. Menurutnya, generasi muda perlu dibekali “senjata” berupa ilmu pengetahuan, pedoman, dan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi pegangan dalam menentukan arah masa depan.
Semangat itu pun bergema hingga ke barisan paling depan gerakan Genre. Ketua Forum Genre Indonesia, I Putu Arya Aditia Utama menegaskan bahwa cita-cita Indonesia Emas bukan sesuatu yang jatuh dari langit — ia dibangun di atas tiga modal dasar yang harus dimiliki setiap anak muda. “Indonesia Emas itu membutuhkan tiga modal dasar, yakni visi, aksi, dan frekuensi,” ujarnya. Adujaknas 2026, dalam konteks ini, bukan sekadar ajang — ia adalah titik temu frekuensi jutaan remaja Indonesia yang bergerak dalam satu arah: mewujudkan Indonesia yang maju, sehat, dan berdaya
Kehadiran Adujaknas bukan tanpa alasan kuat. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, penduduk Indonesia didominasi oleh generasi muda — Gen Z, Milenial, dan Post-Gen Z — yang secara kolektif mencapai 68,92 persen dari total populasi 284,67 juta jiwa. Angka ini menempatkan Indonesia dalam posisi strategis menghadapi bonus demografi, sekaligus menjadi pengingat bahwa investasi pada kualitas remaja hari ini adalah investasi langsung pada nasib bangsa di masa depan.
Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, generasi muda Indonesia dituntut bukan sekadar hadir, tetapi tangguh dan siap memimpin. Kick Off Apresiasi Duta dan jambore Ajang Kreativitas Genre Nasional (Adujaknas) 2026 sebagai wadah bagi remaja untuk berkumpul, berdiskusi, dan beradu konsep.
“Untuk ke depan kita butuh resilience, bagaimana anak-anak remaja kita punya kesiapan mental untuk bangkit,” tutup Menteri Wihaji.
Adujaknas 2026 hadir bukan sekadar sebagai perayaan. Mengusung tema “Gen Z Impact: Gerak Nyata untuk Indonesia”, ajang ini sekaligus menjadi momen bersejarah dalam memperingati Hari Lahir Generasi Berencana (Genre) Indonesia yang ke-16. Selama satu setengah dekade lebih, Genre telah tumbuh menjadi gerakan kepemudaan yang mencetak pemimpin-pemimpin muda dari berbagai penjuru Nusantara. Kini, Adujaknas hadir sebagai kelanjutan dari semangat itu — sebuah panggung nyata bagi remaja untuk mengembangkan kepemimpinan, kreativitas, inovasi, dan partisipasi aktif dalam pembangunan bangsa. (ney)











