INDOPOSCO.ID – Konflik sosial dalam investasi di sektor perkebunan kerap memiliki pola yang hampir sama di berbagai daerah di Indonesia, seperti persoalan tumpang tindih lahan, plasma, batas wilayah antar desa, hingga pembagian sisa hasil usaha.
Untuk mengantisipasi terjadinya konflik terbuka, manajemen Mukti Plantation menggelar kegiatan Coffee Morning di Café Anak Rantau, Kota Baru, Kecamatan Tanah Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat (Kalbar).
Kegiatan yang dipandu oleh Manajer External Relation Mukti Plantation Drs Suhadi Sw MSi tersebut dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) dari Kecamatan Tanah Pinoh, Tanah Pinoh Barat, dan Sokan, serta para kepala desa (kades) yang wilayahnya terdapat perkebunan sawit milik Mukti Plantation Group, yang meliputi PT AAK, PT AHL, PT AKM, dan PT BSU.
Dalam sambutannya, Suhadi menyampaikan bahwa pertemuan dengan para pemangku kepentingan dan stakeholder sangat penting untuk terus dilakukan. Selain mempererat tali silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi sarana membangun kebersamaan sehingga berbagai persoalan sosial kemasyarakatan dapat diselesaikan sejak dini tanpa harus melalui jalur formal.
Suhadi juga mengutip pemikiran filsuf Yunani Kuno, Plato, yang menyatakan bahwa sebuah negara akan menjadi kuat dan maju apabila ditopang oleh tiga kekuatan utama.
Pertama, kaum cendekiawan yang berkontribusi melalui penelitian dan karya ilmiah. Kedua, birokrasi yang kuat dan bersih, yang bekerja sesuai aturan serta bebas dari praktik korupsi, kolusi, nepotisme, gratifikasi, maupun penyalahgunaan kewenangan. Ketiga, para entrepreneur atau pengusaha yang berperan dalam menciptakan lapangan kerja, menyerap tenaga kerja, menyalurkan program Corporate Social Responsibility (CSR), serta membayar pajak yang menjadi sumber pembangunan negara.
“Oleh karena itu, mari kita saling mendukung, saling mengingatkan, dan saling berkontribusi demi kemajuan bangsa. Jika ada persoalan yang perlu dibicarakan, mari diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang lapang tanpa melakukan tindakan yang justru merugikan diri sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Tanah Pinoh, Budiman, yang sebelumnya pernah berkarier sebagai wartawan di Pontianak Post sebelum menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), menyambut baik pelaksanaan Coffee Morning tersebut. Menurutnya, forum seperti ini tidak boleh berhenti pada satu pertemuan saja, melainkan perlu dilakukan secara berkala, misalnya setiap dua atau tiga bulan sekali.
Ia menilai forum tersebut penting sebagai sarana komunikasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Dengan adanya pertemuan rutin, berbagai kebijakan perusahaan dapat disampaikan secara terbuka sehingga dapat meminimalkan kesalahpahaman di lapangan.
Budiman juga menegaskan bahwa forum tersebut dapat menjadi wadah untuk menampung aspirasi dan keluhan masyarakat sekaligus mencari solusi yang konstruktif.
Menurutnya, banyak persoalan sosial yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui pendekatan restorative justice tanpa harus menempuh proses peradilan. Namun demikian, apabila pelanggaran terus berulang dengan pelaku yang sama, pihak kecamatan siap mendukung langkah-langkah yang diambil perusahaan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam kesempatan itu, sejumlah kepala desa dan peserta Coffee Morning lainnya menyampaikan apresiasi kepada Mukti Plantation atas respons cepat perusahaan dalam memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat.
Beberapa program yang mendapat perhatian positif antara lain perbaikan jalan menuju desa, pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Pontianak dan Singkawang, serta bantuan peternakan berupa kambing, babi, dan budidaya ikan.
Para peserta menilai program-program tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Mereka juga menyambut baik tawaran Area Manager Mukti Plantation Melawi, Rudolf Sihombing, yang menawarkan pelatihan budidaya kelapa sawit kepada masyarakat.
Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan petani dalam mengelola kebun sawit secara optimal, termasuk dalam memilih bibit unggul dan menerapkan teknik budidaya yang tepat guna meningkatkan produktivitas. (srv)










