INDOPOSCO.ID – Di tengah upaya Indonesia mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih, limbah kelapa sawit kini dipandang bukan lagi sebagai persoalan lingkungan semata. Di tangan teknologi, limbah tersebut justru berpotensi menjadi sumber energi baru yang mampu menopang kebutuhan listrik nasional sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
Peluang itulah yang tengah dikembangkan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) melalui pemanfaatan Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas bauran energi hijau dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Komitmen tersebut ditegaskan Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, saat menghadiri kegiatan Diseminasi Pengembangan Biometana di Indonesia yang digelar Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM di Medan, Sumatera Utara, Kamis (4/6/2026).
Menurut Hokkop, limbah sawit menyimpan potensi besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui proses pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat menghasilkan biometana yang selanjutnya dimurnikan menjadi Bio-CNG untuk kebutuhan energi pembangkit.
“PLN EPI terus mendorong pemanfaatan limbah sawit menjadi sumber energi yang bernilai tambah. Melalui kerja sama dengan pemilik konsesi dan pabrik kelapa sawit, Palm Oil Mill Effluent (POME) dapat diolah menjadi biometana yang kemudian dimurnikan menjadi Bio-CNG untuk mendukung kebutuhan energi pembangkit listrik,” ujar Hokkop.
Sumatera Utara menjadi salah satu wilayah yang dinilai paling prospektif untuk pengembangan proyek ini. Sebagai salah satu pusat industri sawit nasional, provinsi tersebut memiliki ratusan perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang dapat menjadi pemasok bahan baku biometana.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan terdapat 327 perusahaan perkebunan sawit dan 237 pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Sumatera Utara. Besarnya ekosistem industri tersebut membuka peluang pengembangan energi terbarukan berbasis limbah dalam skala yang signifikan.
Saat ini PLN EPI telah menjalin kolaborasi dengan PT KIS Biofuels Indonesia yang mengembangkan teknologi pengolahan limbah cair sawit menjadi Bio-CNG. Energi hasil pengolahan tersebut direncanakan untuk mendukung kebutuhan bahan bakar PLTGU Belawan yang memiliki kapasitas terpasang 1.184 megawatt dan menjadi salah satu tulang punggung pasokan listrik di sistem Sumatera Bagian Utara.
Hokkop menilai potensi pengembangan Bio-CNG masih sangat luas, terutama jika semakin banyak pabrik kelapa sawit yang terlibat dalam rantai pasok energi hijau tersebut.
“Kami melihat peluang yang sangat besar untuk memperluas pemanfaatan Bio-CNG. Karena itu, PLN EPI terus membuka peluang kolaborasi dengan pabrik kelapa sawit (PKS) agar potensi limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat diubah menjadi energi bersih yang bernilai ekonomi,” tutur Hokkop.
Lebih dari sekadar menghadirkan sumber energi alternatif, pemanfaatan biometana juga menawarkan manfaat lingkungan yang nyata. Gas metana yang biasanya terlepas dari limbah cair sawit memiliki daya pemanasan global jauh lebih tinggi dibanding karbon dioksida. Dengan menangkap dan menggunakannya sebagai bahan bakar, emisi dapat ditekan sekaligus menghasilkan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
Di sisi lain, model bisnis ini juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi industri sawit. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini dapat menjadi komoditas energi yang memberikan tambahan manfaat finansial bagi pelaku usaha.
“Pengembangan Bio-CNG juga sejalan dengan komitmen PLN EPI dalam mendukung target transisi energi nasional dan pencapaian Net Zero Emissions melalui peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis sumber daya domestic,” tambahnya.
Dengan menghubungkan sektor perkebunan, industri pengolahan, dan ketenagalistrikan dalam satu rantai nilai yang terintegrasi, PLN EPI berupaya membangun fondasi ekonomi hijau yang lebih kuat. Transformasi limbah sawit menjadi Bio-CNG menunjukkan bahwa agenda transisi energi tidak hanya berbicara tentang pengurangan emisi, tetapi juga tentang menciptakan nilai ekonomi baru dari sumber daya yang selama ini terabaikan.(her)










