• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Headline

Tolak Instruksi Prabowo, P2G: Bahasa Prancis di Sekolah Bukan Prioritas dan Bebani Murid dan Guru

Nasuha Editor Nasuha
Jumat, 29 Mei 2026 - 21:45
in Headline
Siswa tengah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Foto: Dokumen INDOPOSCO

Siswa tengah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Foto: Dokumen INDOPOSCO

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menolak instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait rencana pengajaran Bahasa Prancis di sekolah-sekolah. P2G menilai kebijakan tersebut tidak jelas arah implementasinya dan bukan kebutuhan prioritas pendidikan nasional saat ini.

Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim mengatakan, para guru dan siswa terkejut dengan pernyataan Presiden Prabowo saat berada di Prancis yang meminta sekolah-sekolah di semua jenjang mempelajari Bahasa Prancis.

BacaJuga:

Di Hadapan Prabowo, Macron Sebut Posisi Indonesia Soal Palestina Sangat Berani

Prabowo dan Emmanuel Macron Tegaskan Dukungan untuk Solusi Dua Negara bagi Palestina

Temuan Kerugian Negara Rp40,99 Miliar dari Iuran BPJS Peserta Meninggal, Begini Respons BPJS Watch

“Tak ada angin atau hujan, tiba-tiba Pak Presiden memerintahkan sekolah di semua tingkatan mengajarkan Bahasa Prancis kepada murid,” kata Satriwan melalui gawai, Jumat (29/5/2026).

Menurut Satriwan, instruksi tersebut terkesan terburu-buru dan lebih bernuansa diplomatik ketimbang berdasarkan kebutuhan pendidikan nasional yang terencana matang.

Ia menilai kebijakan pendidikan tidak bisa dibuat mengikuti agenda kunjungan bilateral Presiden ke berbagai negara. “Kalau bertemu Jepang lalu Bahasa Jepang diwajibkan, bertemu Tiongkok lalu Mandarin diwajibkan, tentu mengelola pendidikan tidak bisa sebercanda ini,” ujarnya.

P2G menyebut setidaknya ada sembilan alasan penolakan terhadap rencana mewajibkan Bahasa Prancis dan Portugis di sekolah. Salah satunya, kata Satriwan, instruksi Presiden setahun lalu terkait pengajaran Bahasa Portugis saja belum terealisasi hingga kini.

Selain itu, lanjut dia, kebijakan tersebut juga dinilai tidak masuk dalam prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. “P2G juga menilai penambahan mata pelajaran baru akan memperberat kurikulum siswa dari tingkat SD hingga SMA. Di sisi lain, Indonesia masih mengalami kekurangan guru ASN dalam jumlah besar,” bebernya.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kekurangan guru ASN mencapai 374 ribu orang. Jika Bahasa Prancis dan Portugis diwajibkan di seluruh sekolah, diperkirakan diperlukan sekitar 480 ribu guru baru untuk mengajar dua bahasa tersebut.

“Dan kebutuhan 480 ribu guru tidak akan bisa terpenuhi oleh pemerintah,” kata Satriwan.

Ia khawatir nantinya guru mata pelajaran lain dipaksa mengajar Bahasa Prancis dan Portugis, sehingga menyalahi prinsip profesionalitas guru.

P2G juga menegaskan bahwa Bahasa Prancis sebenarnya sudah tersedia sebagai mata pelajaran pilihan di jenjang SMA/SMK bersama bahasa asing lain seperti Arab, Jepang, Korea, Mandarin, dan Jerman.

Bahkan, masih ujar dia, di SMK jurusan perhotelan dan pariwisata, bahasa asing non-Inggris sudah diajarkan untuk mendukung keterampilan kerja siswa. Pada Mei 2026, Kemendikdasmen juga disebut tengah menyiapkan program sertifikasi bahasa asing non-Inggris untuk sekitar 13 ribu siswa di lebih dari 120 SMK.

Hal senada diungkapkan Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri. Ia menilai pemerintah seharusnya lebih fokus memperbaiki kemampuan dasar siswa, terutama Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika.

Ia menyoroti hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) SMA 2025 yang menunjukkan rata-rata nilai Bahasa Inggris hanya 24,93, Matematika 36,10, dan Bahasa Indonesia 55,38.

“Ketimbang memaksakan Bahasa Prancis dan Portugis diajarkan di semua jenjang sekolah, justru lebih mendesak pemerintah membenahi buruknya kemampuan murid untuk matematika, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia,” kata Iman.

Selain itu, dikatakan dia, P2G menilai penggunaan Bahasa Prancis belum menjadi kebutuhan mendesak dalam konteks pendidikan maupun ekonomi Indonesia. Data UNESCO menunjukkan Prancis bukan tujuan utama pelajar Indonesia untuk studi luar negeri.

Sementara berdasarkan data BKPM 2025, Prancis juga tidak masuk dalam daftar 10 negara investor terbesar di Indonesia. “Sebagai solusi, kami mengusulkan agar Bahasa Prancis dan Portugis cukup dijadikan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah bagi siswa yang berminat,” katanya.

“Jadi bentuknya klub siswa, bagi yang berminat saja, tidak wajib,” ujar Iman. (dan)

Berita Terkait.

unifil
Headline

Di Hadapan Prabowo, Macron Sebut Posisi Indonesia Soal Palestina Sangat Berani

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:30
bowo
Headline

Prabowo dan Emmanuel Macron Tegaskan Dukungan untuk Solusi Dua Negara bagi Palestina

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:25
bpjs
Headline

Temuan Kerugian Negara Rp40,99 Miliar dari Iuran BPJS Peserta Meninggal, Begini Respons BPJS Watch

Jumat, 29 Mei 2026 - 06:06
habib
Headline

Ketua Komisi III DPR: Kurban Presiden dari APBN Sah Secara Hukum dan Syariah

Kamis, 28 Mei 2026 - 18:18
Kurban Prabowo dari APBN Disorot, Begini Respons Menag
Headline

Kurban Prabowo dari APBN Disorot, Begini Respons Menag

Kamis, 28 Mei 2026 - 15:25
Berikan Kepastian Hukum Dam Haji, Timwas DPR Minta Kajian Ulama dan Pemerintah Disegerakan
Headline

Efisiensi Anggaran, BGN Ubah Skema MBG Jadi 5 Hari dan Tak Ada Bundling

Kamis, 28 Mei 2026 - 15:15

BERITA POPULER

  • Pemain-Persib

    Ungkapan Kebahagiaan Trio Naturalisasi Usai Bawa Persib Juara Super League

    5691 shares
    Share 2276 Tweet 1423
  • Film “Pesta Babi” dan “Teman Tegar Maira”, DPD RI: Itu Suara Kesadaran tentang Papua

    3338 shares
    Share 1335 Tweet 835
  • Daftar Lengkap Timnas Indonesia: Diwarnai Debutan dan Kembalinya Pemain Lama

    3030 shares
    Share 1212 Tweet 758
  • Segel Trofi Pertama di Persib, Eliano Reijnders Sebut Atmosfer Bandung Lewati Eropa

    2533 shares
    Share 1013 Tweet 633
  • Menteri Trenggono: Hasil Panen BUBK Kebumen Menuju Kebangkitan Udang Indonesia Berkualitas Ekspor

    2319 shares
    Share 928 Tweet 580
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.