INDOPOSCO.ID – Kinerja fiskal impresif ditorehkan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) TMP C Sumbawa pada awal 2026. Dalam kurun Januari-April saja, penerimaan negara yang dihimpun sudah mencapai Rp1,44 triliun setara 228,1 persen dari target tahunan, bahkan melampaui total capaian sepanjang 2025.
Kepala KPPBC TMP C Sumbawa, Sugeng Hariyanto, menjelaskan lonjakan tersebut terutama ditopang ekspor konsentrat mineral yang masih memperoleh relaksasi izin ekspor hingga April 2026. Kontributor terbesar berasal dari Bea Keluar senilai Rp1,43 triliun, disusul Bea Masuk Rp14,28 miliar dan Cukai Rp274 juta.
Kenaikan tajam ini juga dipengaruhi harga komoditas global, terutama konsentrat tembaga yang mengalami peningkatan Harga Patokan Ekspor (HPE) pada awal tahun.
Meningkatnya kebutuhan dunia terhadap energi terbarukan dan kendaraan listrik membuat permintaan tembaga global melonjak. Momentum ini dimanfaatkan PT Amman Mineral Nusa Tenggara untuk meningkatkan volume ekspor.
Dampaknya terasa luas di daerah: aktivitas pelabuhan meningkat, usaha jasa penunjang tumbuh, hingga perdagangan regional ikut terdorong. Data Badan Pusat Statistik mencatat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membukukan pertumbuhan ekonomi 13,64 persen pada triwulan I 2026 tertinggi di kawasan Bali-Nusa Tenggara ditopang lonjakan ekspor luar negeri hingga 827 persen.
Di balik capaian spektakuler ini, terdapat dinamika besar: pemerintah mendorong hilirisasi melalui optimalisasi smelter. Saat smelter beroperasi penuh, ekspor konsentrat akan berkurang dan pola penerimaan negara ikut berubah.
Kebijakan bea keluar emas yang diberlakukan sejak akhir 2025 juga menegaskan arah kebijakan tersebut mendorong nilai tambah di dalam negeri, bukan lagi bertumpu pada ekspor bahan antara.
Artinya, capaian Rp1,44 triliun ini merupakan windfall yang hadir di masa transisi menuju hilirisasi penuh industri tambang nasional.
Di tengah derasnya arus ekspor, pengawasan cukai tetap diperketat. Hingga April 2026, petugas menindak 626.816 batang rokok ilegal, hampir menyamai total penindakan sepanjang 2025 yang mencapai 689.204 batang.
Penguatan pengawasan dilakukan melalui pemanfaatan DBHCHT dengan tiga fokus: operasi pasar gabungan, edukasi pedagang, dan penguatan intelijen lapangan lintas instansi.
Sugeng menegaskan keseimbangan fungsi pelayanan dan pengawasan menjadi kunci.
“Di satu sisi kami mendukung kelancaran ekspor, namun di sisi lain pengawasan pelanggaran terus diperkuat agar penerimaan negara dan iklim usaha tetap terjaga,” ujarnya.
Ke depan, Sumbawa diproyeksikan tetap menjadi simpul penting industri tambang nasional dengan pengembangan Proyek Elang oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara serta potensi sumber daya emas sekitar 2 miliar ton yang dikelola PT Sumbawa Timur Mining.
Di tengah perubahan arah industri menuju hilirisasi, peran Bea Cukai tak lagi sekadar menghimpun penerimaan negara, tetapi juga menjaga transisi ekonomi agar tetap seimbang antara kepentingan fiskal, industri, dan masyarakat.(ipo)











