INDOPOSCO.ID – Setelah satu jam naik speed boat dari pulau Banda, tibalah saya di pulau yang sudah begitu lama saya simpan namanya: Rhun.
Anda sudah tahu kehebatan Rhun. Ia terletak di tengah laut Banda nan luas tapi lebih berharga dari Pulau Manhattan yang sekarang jadi jantungnya kota New York di Amerika Serikat.
Itu dulu. Di tahun 1667. Siapa sangka di tahun itu Rhun lebih hebat dari Manhattan. Lebih mahal nilainya. Tahun itu pulau-pulau di Maluku Tengah sudah dikuasai Belanda. Tinggal satu Pulau Rhun yang masih dikuasai Inggris. Oleh Belanda itu dianggap jadi ancaman. Belanda tidak bisa memonopoli pala di Eropa. Masih ada pesaing: Inggris –yang masih bisa dapat pala dari Pulau Rhun.
Di samping menjajah Maluku, waktu itu Belanda memiliki Pulau Manhattan di Amerika Utara. Maka Belanda mengajak Inggris berunding. Bertukar pulau. Manhattan ditukar dengan Rhun. Inggris bersedia. Manhattan pun menjadi milik Inggris, Rhun menjadi milik Belanda.
Belanda puas: bisa memiliki pulau-pulau penghasil pala sepenuhnya. Perdagangan pala pun dimonopoli Belanda. Harga pala di Eropa dibuat sendiri oleh Belanda. Boleh dikata Belanda bisa makmur berkat pala dari Banda dan sekitarnya.
Kini, sekian ratus tahun kemudian, Manhattan berubah drastis jadi kota dengan ekonomi terbesar di dunia. Rhun tetap jadi Rhun apa adanya. Kelak di tahun 1776 Inggris kehilangan Manhattan. Amerika Serikat merdeka. Belanda di tahun 1945 kehilangan Rhun. Indonesia merdeka.
Tidak. Tidak hanya Manhattan yang berubah. Kini Rhun juga sudah berubah. Hanya berubahnya tidak banyak.
Pokoknya Rhun juga sudah berbeda dari Rhun tahun 1667. Dulu tidak ada penduduknya. Kini sudah ada satu kampung nelayan dengan semua rumah beratap seng.
Semua penduduk Rhun dari suku Buton –pendatang dari Sulawesi Tenggara. Tidak ada penduduk asli. Mereka hidup dari mencari ikan di laut dan dari pohon pala di kebun.
Kalau Manhattan kini punya jalan utama yang disebut fifth avenue yang gegap gempita dan penuh gedung pencakar langit, kampung di Rhun punya satu jalan utama: lebarnya 1,5 meter, terbuat dari semen.
Di Rhun tidak ada sumber air tawar. Semua rumah punya bak beton untuk menampung air hujan yang jatuh ke atap mereka.
Saya mampir ke rumah Pak Kamaruddin. Terlihat perahu ikan parkir di pantai di belakang rumahnya. Mesin perahu itu Yamaha 40 PK yang kelihatan masih bagus. Mesin itu seharga Rp 47 juta –dibeli dengan uang kontan. Uangnya dimasukkan tas kresek untuk dibawa ke toko mesin di Ambon sana –delapan jam naik kapal Pelni. “Saya masih punya mesin satu lagi ukuran 15 PK. Kadang saya pakai dua mesin sekaligus,” ujarnya.
Kami ngobrol di belakang rumah itu sambil melihat luasnya laut Banda. Kamaruddin tidak henti-hentinya merokok. “Satu hari satu pack,” ujarnya. “Kalau lagi melaut sehari dua pack,” tambahnya. Berarti pengeluarannya untuk beli rokok saja Rp 80.000 per hari.
“Rokok adalah teman satu-satunya di tengah laut,” ujar Kamaruddin seperti ingin agar saya memahami kesendiriannya. Ia selalu sendirian ke tengah laut. Pagi berangkat, sore pulang. Tuna besar hasil tangkapannya dijual ke Pulau Banda –45 menit dari Rhun. Tidak ada pedagang ikan yang punya cold storage di pulau Rhun.
Membeli bensin pun harus ke Pulau Banda. Saat jual ikan itu sekalian mampir beli Pertamax: satu liter Rp 18.000.
Nelayan di Pulau Rhun tidak ada yang miskin. Rumah mereka bata. Buatan sendiri. Batanya terbuat dari pasir dan semen. Harga semen Rp 110.000/sak.
Rumah Kamaruddin hanya berukuran sekitar 6×12 meter, tapi sangat baik. Keramiknya mengilap. Bersih. Catnya rapi. Pengerjaan rumah ini tidak asal-asalan. Plafonnya juga dikerjakan dengan sangat baik. Finishing-nya mengalahkan bangunan masjid Negara di IKN.
Hampir semua rumah di Rhun seperti itu. Tidak ada yang kumuh. Pekarangan rumah mereka meski sempit tapi rapi. Kelihatan selalu disapu.
Kamaruddin sudah 20 tahun di Rhun. Ia masih lahir di Buton. Istrinya yang sudah kelahiran Rhun. Mereka punya satu anak, wanita, yang baru lulus SMA. Dia akan kuliah di jurusan sejarah Sekolah Tinggi Banda Naira.
Nelayan di Rhun punya dua jenis penghasilan: suami cari ikan di laut, istri memetik pala di kebun.
Kalau sedang tidak musim pala –pohon pala berbuah tiga kali setahun– mereka mencari biji kenari yang berceceran di sekitar pohonnya yang menjulang tinggi.
Kenari tidak pakai musim. Selalu ada biji kenari yang jatuh ke tanah setelah dagingnya dimakan kelelawar. Kadang ketika kelelawar baru sedikit memakan dagingnya buah kenarinya sudah jatuh ke tanah.
Di kebun pala memang selalu ada pohon kenari. Disengaja seperti itu. Fungsi pohon kenari untuk menahan angin agar tidak merusak pohon pala. Juga sebagai pelindung panas untuk pohon pala yang masih kecil.
Maka banyak rumah di Rhun yang di halamannya ada jemuran pala dan kenari. Dua jam saya berada di ”Manhattan”-nya Maluku. Ternyata beginilah Rhun yang saya impikan itu.
Rhun yang di Kepulauan Banda itu kini memang tidak gegap gempita seperti Manhattan di New York. Tapi penduduk Rhun kelihatan damai, rukun, dan tidak perlu tergesa-gesa mengejar kereta bawah tanah untuk ke tempat kerja.
Bedanya hanya satu: penduduk Rhun bermimpi bisa ke New York, penduduk New York tidak bermimpi bisa ke Rhun. Ups…tidak. Penduduk Rhun tidak bermimpi ke New York. Mereka lebih bermimpi ke Makkah.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 16 Mei 2026: Lu Biau
Wilwa
@AgusS3. Menarik membandingkan kapitalisme dengan perang terbuka. Hmmmm. Menurut saya pribadi, kapitalisme adalah kelanjutan dari kolonialisme sedangkan kolonialisme adalah kelanjutan dari imperialisme. Atau kita bisa melihat kapitalisme sebagai feodalisme. Intinya adalah pertarungan kaya vs miskin. Entah itu orang kaya vs orang miskin. Atau negara kaya vs negara miskin. Dan tentu ada “spektrum” di antara kaya dan miskin yaitu menengah. Menengah pun ada spektrumnya: menengah atas dan menengah bawah. Kaya pun ada spektrumnya: kaya buangeeet dan kaya dan lumayan kaya. 🙂 Miskin pun juga ada spektrumnya. Demikian pula kapitalisme. Ada spektrumnya. Ada yang mendekati murni kapitalisme seperti USA, setengah kapitalisme seperti Tiongkok, atau menolak keras kapitalisme seperti Kuba. Kapitalisme adalah kelanjutan kolonialisme-imperialisme bukanlah teori yang baru. Pernah dengar istilah penjajahan ekonomi? Itulah kapitalisme. Memang tak lagi dijajah Belanda atau Inggris, dll namun secara ekonomi masih dijajah. Caranya? Bisa dengan utang. Lainnya? Bisa secara moneter seperti yang kini dilakukan USA terhadap seluruh negara di dunia melalui dominasi USD. Walaupun kini mulai terjadi fenomena de-dolarisasi. Namun bagaimanapun USD masih menguasai sekitar separuh transaksi ekspor impor global. Yang menarik adalah Kapitalusme seperti Imperialisme/Kekaisaran : ada siklus lahir tua sakit mati. Karena tiada yang kekal abadi di dunia ini. Dunia kini dilanda krisis ekonomi akibat USA/USD meredup.
Wilwa
Lú 卢 dan Lǔ 魯/鲁. 🙂 Yang satu nadanya naik dan yang satu lagi nadanya turun lalu naik. Dua-duanya bisa diuraikan simbol/gambarnya namun tidak maknanya yang masih menjadi perdebatan. 卢 terdiri dari simbol “above, upon, on” 上 di sebelah atas dan “corpse, carcass, dead body” 尸 di sebelah bawah (namun ada pula yang melihat yang di sebelah bawah adalah simbol dari “door, household” 户) yang digabung jadi satu. Jadi apakah maknanya “di atas mayat” atau “di atas pintu”? 魯 terdiri dari simbol “ikan” 魚 di sebelah atas dan “matahari” 日 di bawah (namun ada pula melihatnya sebagai “mouth opens, to call, to say” 曰). Jadi apakah maknanya “ikan kering yang dijemur dengan sinar matahari” atau “ikan yang mulutnya membuka” atau “suara ikan” ? Tak ada yang tahu pasti maknanya. Baik 魯 maupun 卢 dua-duanya memang menjadi nama marga walau bukan nama marga yang termasuk Top 20 alias tak banyak populasinya. Dan seringkali nama marga memang misterius maknanya atau memang sengaja dibikin misterius artinya. 🙂
Wilwa
鲁 adalah nama kerajaan di mana filsuf Khonghucu dilahirkan. Sedangkan 卢 kini dipakai sebagai singkatan dari negara Lusenbao 卢森堡 alias Luxemburg
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
MENGAPA ABAH KE PULAU RHUN DAN BANDA NAIRA? Saya punya beberapa tebakan. Salah tidak apa-apa. Kalau benar: Alhamdulillah. 1) Pertama, Abah sedang napak tilas “startup” paling kaya abad ke-17: bisnis pala. Dulu satu biji pala bisa bikin orang Eropa perang. Sekarang satu mangkok bakso malah lebih mahal. 2) Kedua, Abah ingin mengecek: benar tidak Manhattan dulu “ditukar” dengan pulau sekecil Rhun. Jangan-jangan kalau dulu nenek moyang kita ngotot, sekarang orang New York antre visa ke Banda. 3) Ketiga, Abah mungkin sedang mencari lokasi rapat kabinet paling sunyi. Tidak ada buzzer. Yang ada cuma ombak, burung laut, dan sinyal yang kadang lebih jujur daripada politik. 4) Keempat, jangan-jangan Abah sedang menghitung ulang geopolitik dunia. Dari Banda ternyata bisa dijelaskan mengapa Inggris memilih Manhattan, Belanda memilih pala, dan sekarang dunia memilih data center. 5) Atau alasan terakhir ini yang paling masuk akal: Abah hanya ingin duduk sore di Banda Naira. Minum kopi pala. Melihat matahari tenggelam. Lalu berkata dalam hati: “Dunia pernah ribut karena rempah dari sini.”
Liáng – βιολί ζήτα
CHDI : “….. Bahkan ada yang mengingatkan Trump: hati-hati dengan jebakan Thucydides.” Thucydides Trap (Perangkap Thucydides) itu kecenderungannya….. Established Power (kekuatan besar yang sudah mapan) yang menghantam Rising Power (kekuatan baru yang sedang bangkit), dikarenakan Established Power merasa terancam hegemoninya oleh Rising Power. Dan….. Perang Peloponnesos, antara Athena dan Sparta, dimulai oleh Sparta, sebagai Sang Established Power yang tidak mau hegemoninya berakhir dan beralih ke Athena sebagai Rising Power. Oleh karena itu, yang mesti hati-hati itu….. ya Presiden Xí Jìnpíng, karena Tiongkok sebagai Rising Power. Berikut ini, muatan berita yang sangat clear, yang saya kutip dari Euronews, mengenai Thucydides Trap di dalam pernyataan Presiden Xí Jìnpíng dan ditanggapi positif oleh Presiden Donald Trump….. Juga, riset Graham Tillett Allison Jr. (Harvard University) yang mecetuskan istilah Thucydides Trap….. [1/3]
Juve Zhang
Putin langsung OTW Minggu depan ke Beijing…..tentu ada pembicaraan serius yg gak bisa pake telpon….namanya ahli spy ..bos intelijen tahu hal terpenting harus empat mata … cukup sehari saja kunjungan nya ….entah apa topiknya….
Juve Zhang
Elon Musk dulu ketawa ngakak lihat mobil BYD….saat itu Elon bagaikan kaisar. Mobil listrik internasional….semua. Berebut beli Tesla…. sekarang dilupakan orang. .BYD Geely Chery bahkan xiomai eh xiau mi sudah lebih laku di sana….masih banyak merk lain aion Chang An…GWM dll….Tesla sejarah kelam teknologi yang ketingalan zaman….larinya teknologi gak bisa. Nunggu….yg nunggu cuma bengong bisa bisa nya Xio Mai jadi Raja mobil dari Raja handphone….. insinyur T emang tidak berhenti berinovasi….diejek diketawain mereka mikir….memang jelek layak diketawain…. akhirnya mereka inovasi terus menerus…sampai Elon Musk ketakutan setengah mati….wkwkw
Liáng – βιολί ζήτα
Perangkap Thucydides (Thucydides Trap). Thucydides, orang Yunani zaman dahulu, yang diperkirakan hidup tahun 460an SM – 400an SM. Thucydides mencatat, bahwa pemicu Perang Peloponnesos, antara Athena dan Sparta, adalah….. Munculnya Athena sebagai Rising Power (kekuatan baru yang sedang bangkit), sangat merisaukan Sparta sebagai Established Power (kekuatan besar yang sudah mapan). Sparta merasa terancam posisinya akibat kekuatan Athena yang tumbuh pesat. Sehingga, pada akhirnya memicu bentrokan. Di-kemudian hari, Graham Tillett Allison Jr. seorang ilmuwan politik Harvard University, mempopulerkan istilah Thucydides Trap (Perangkap Thucydides), yakni : kecenderungan struktural terjadinya perang ketika kekuatan baru yang sedang bangkit (Rising Power) menjadi semacam ancaman untuk menggantikan posisi kekuatan besar yang sudah mapan (Established Power). Risetnya terhadap 16 kasus sejarah dalam 500 tahun terakhir, terkait Rising Power dan Established Power, menunjukkan bahwa 12 di antaranya berujung perang, itu berarti tingkat risikonya mencapai 75%. Dalam konteks modern, Teori ini sering digunakan untuk menjelaskan tingginya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (sebagai Established Power dan Tiongkok (sebagai Rising Power). [3/3].
Liáng – βιολί ζήτα
Menarik untuk disimak pernyataan Presiden Tiongkok Xí Jìnpíng ketika bertemu dengan Presiden US Donald Trump, seperti yang dimuat oleh Euronews….. But Xi warned of how the meeting could be perceived from the sidelines, and asked his counterpart whether the two countries can transcend the ‘Thucydides Trap’ and “forge a new model for relations between major powers.” He was referring to the idea that when a rising power threatens to displace an established power, the result is often war. “It’s an honour to be with you. It’s an honour to be your friend,” Trump countered. (Namun Xi memperingatkan bagaimana pertemuan itu dapat dipandang dari luar, dan bertanya kepada rekannya apakah kedua negara dapat melampaui ‘Perangkap Thucydides’ dan ‘menciptakan model baru untuk hubungan antara kekuatan besar’. Ia merujuk pada gagasan bahwa ketika kekuatan yang sedang naik daun mengancam untuk menggantikan kekuatan yang sudah mapan, hasilnya seringkali adalah perang. ‘Suatu kehormatan berada bersama Anda. Suatu kehormatan menjadi teman Anda,’ balas Trump.) Kunjungan Presiden Donald Trump ke Tiongkok sepertinya cukup melegakan, untuk sedikit menurunkan ketegangan antara Barat dan Timur….. Namun, pernyataan Presiden Trump sebelum keberangkatannya ke Tiongkok “We’re the two superpowers,” cukup membuat Uni Eropa cemberut….. Dan….. Euronews menambahkan pada kalimat pernyataan Presiden Trump tersebut, menjadi….. ‘We’re the two superpowers’ – so, where is Europe? [2/3]
Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)
Baik visa turis ataupun diplomat asing yang masuk ke China, semua pakai huruf Latin. Tidak ada 1 huruf Hanzi pun yang tercetak di nama pemilik visa China. Jadi, visa China Marco Rubio yang masuk China kemarin dipastikan tetap terketik “MARCO RUBIO”. Tanpa embel-embel huruf Hanzi. Hanya, di data Kementerian Luar Negeri China, mereka memberikan semacam kode/catatan untuk internal China sendiri: Nama depan Rubio (marga kalau di Mandarin) diubah dari 卢 jadi 鲁. Supaya tanda merahnya berubah jadi hijau. Besok², kalau Rubio berulah lagi, kode itu dihapus, dan warna jadi merah lagi alias redlist. Tujuan dari semua ini untuk 保全面子, menyelamatkan muka USA (Trump dan Rubio). Orang China dan perantauannya concern ke hal-hal seperti ini.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
JALUR LINGKAP MANDARIN.. Pak Dahlan melihat akrobat visa Marco Rubio sebagai humor diplomatik. Namun, di balik permainan nada “Lú” menjadi “Lǔ”, ada pesan geopolitik yang jauh lebih dingin dari Beijing. Tiongkok sedang mendemonstrasikan supremasi birokrasi kebudayaan. Mereka mendikte identitas pejabat tertinggi Amerika Serikat lewat sapuan kuas kaligrafi. Bagi Xi Jinping, ini bukan sekadar meloloskan Rubio tanpa “kehilangan muka”. Ini adalah “penegasan posisi”. Barat boleh punya hukum internasional, tapi Tiongkok punya “kedaulatan bahasa”. Rubio, sang elang anti-Komunis, terpaksa menunduk dan menerima “nama baru” demi bisa menginjakkan kaki di Beijing. Ia tak berkutik. Demi mendampingi Trump, ia harus rela identitas lamanya “dihapus” sementara oleh “sistem imigrasi Tiongkok”. Ini adalah bentuk diplomasi pasca-modern. Ketika sanksi hukum formal menemui jalan buntu akibat kebutuhan pragmatis ekonomi, linguistik menjadi senjatanya. Para CEO raksasa teknologi Amerika yang mengekor di belakang Trump paham betul kode ini. Di Beijing, aturan main tidak tertulis di atas kertas hukum multilateral, melainkan diayunkan lewat “fleksibilitas ideogram Mandarin”. Perubahan satu “coretan huruf” terbukti lebih sakti daripada negosiasi protokol yang melelahkan selama berbulan-bulan.
Juve Zhang
Jensen Huang paling kecewa karena Chips Made in Tiongkok sudah mengganti chips Nvidia….dulu 95 % chips Nvidia merajai Pasar Tiongkok setelah digebuk Trumpet periode 2017 maka suhu Xi Jin Ping beri modal besar ke semua perusahaan untuk buat chips sendiri…. akibatnya anda tahu….chips Nvidia sekarang gak laku Jensen Huang kesal sama Trumpet dulu 2017….bagi suhu Xi Jin Ping Presiden Trumpet jelas pahlawan Chips Tiongkok…. sekarang maksa maksa beli Chips Nvidia pun percuma Huawei sudah mampu buat pun yg lain banyak yg sudah mampu buat….deep seek sudah beli chips Huawei dan jalan nya bagus cepat…. Jensen Huang kecewa dulu dia Raja chips di T ….dan kaya raya dari pasar T…. sekarang cuma nunggu bekas kasihan saja ….minta dibeli sedikit pun gak apa….T nampak sudah gak selera sama chips Nvidia….dari pabriknya di Taiwan TSMC harus kirim dulu ke Amerika kalau mau ekspor ke T….ini ada satu permainan yg aneh mungkin soal intelijen mungkin soal lain….ribet kata pembeli T….
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
LU BIAU, LU SIAPE: SAYA INI CUMA LAKYAT JELATA. CUMA TLANSIT, MAU CALI BAKPAO.. Humol Pak Hasyim ini belbahaya. Bisa bikin petugas imiglasi ikut ketawa sambil tetap nyetempel “ditolak masuk”. Bayangkan suasananya. Lu Biau sudah siap pidato panjang soal geopolitik, chip, dan pelang dagang. Eh, petugas imiglasi malah melotot sambil bilang: “Lu Biau? Lu siape?” Pakai logat Betawi pula. Dunia langsung telasa seperti film Walkop diplomatik. Memang kadang nasib pengamat itu unik. Saat lamalannya benar, olang bilang: hebat. Saat lamalannya meleset, imiglasi bisa pula-pula amnesia. Tapi justlu di situlah menaliknya dunia hali ini. Politik global makin selius. Netizen makin kleatif. Ketegangan antalegarla dibalas meme. Pelang talif dibalas pantun. Diplomasi dibumbui lecehan humol Dan biasanya humol paling tajam memang lahil dali komental lakyat biasa. Tidak pakai plotokol. Tidak pakai podium. Tapi langsung kena ulu hati. Kalau sampai suatu hali Lu Biau benal-benal dicegat, mungkin jawaban telbaik cuma satu: “Saya ini lakyat jelata, Pak. Cuma numpang tlansit, mau cali bakpao.”
Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)
Dari video Rubio mendongak ke atas plafon, dia tanya, “Lu udah cek semua kan atas plafon itu, yg itu, jg itu, ada penyadap atau ga?”
hoki wjy
Pak DI kelewatan membahas yg lagi viral saat Marco Rubio si Lu biau ketika berada di ruang balai pertemuan beberapa kali Lu Biau mendongakkan kepalanya memandang langit langit balai pertemuan dan dia merasa takjub sesekali terlihat dia mengangkat jempolnya sampai sampai mentri perang Pete Hegseth pun ikut melihat keatas.
Tiga Pelita Berlian
Mengapa Pemimpin Tiongkok cerdik & lihai? Apakah karena sering memainkan Mahjong? Pemimpin kok Rusia cerdik & cekatan ? Inikah efek positif main catur? Kenapa Pemimpin USA cerdas & ambisius? Apakah ini akibat permainan Monopoli? Kalo pemimpin Indonesia terkenal Krn luwes, lentur tp sesekali menghantam , apakah Krn dulunya suka permainan pencak silat & kasti . Hehe Seklangkong
hoki wjy
soal ganti nama ini ada cerita yg lain.Suatu hari seorang istri yg mulai curiga bahwa suaminya ada main dg wanita lain maka pada suatu hari pada saat ada kesempatan diapun meraih HP sumaminya yg memang tdk memakai pasword maka sang istri mulai melihat contact nama nama di HP suaminya ada satu nama yg bikin sang istri penasaran ada satu kontak nama yg tertulis KUNTILANAK! maka dengan iseng dan ingin tahu maka sang istri mencoba tlp ke KUNTILANAK betapa kagetnya sang istri karena yg berdering adalah HP nya.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
CHDI seharusnya dibuatkan aplikasi untuk di HP. Sehingga mempermudah Perusuh untuk komentar, hapus komentar, nge-tag Perusuh lain, dapat notifikasi, bagi foto, bagi link, dll, seperti ketika kita berkomentar di Facebook. Sekarang, kita sulit tahu apakah komentar kita dikomentarin Perusuh lain atau tidak karena tak ada notifikasi. Kita harus scroll panjang lebar dulu menemukan komentar kita. Di HP saya ada 3 aplikasi buatan mas Azrul Ananda yaitu: Persebaya, DBL Play, dan Main Sepeda. Sang anak punya 3 apps, tapi sang bapak nggak dibuatin. Tega banget sih mas Azrul ini. Aplikasi bisa dinamakan Disway. Tapi isinya ada CHDI, ada berita Disway lainnya, ada Disway daerah, dan bisa juga ada Happy Wednesday juga biar mas Azrul kembali aktif menulis juga. Kalau ada aplikasi Disway, menurut saya pengunjung aplikasi yang ke CHDI setiap harinya bakal mengalahkan pengunjung 3 apps mas Azrul digabung jadi satu.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Hasyim.. Membaca komentar ini tampil satu bulan full. Yang pusing bukan pak Dahlan. Tapi pak Tommy. He he.. Karena disposisi pak Dahlan ke pak Tommy singkat. >>pak Tommy. >>Saya tidak mau lihat ada komentar seperti ini lagi per 1 Juni 2026. He he..
Kujang Amburadul
Membaca nama Jimmy Lai, tokoh oposisi Hongkong yang dibela Rubio, saya jadi ingat sahabat Abah yang di Singapore, Robert Lai, apa kabarnya beliau Bah? Setelah Trump ketemu Xi Jin Ping, segera menyusul Vladimir Putin akan ke Tiongkok menyambangi Xi. Apakah pertemuan mereka akan lebih akrab mengingat negaranya bertetangga, seperti banyak digambarkan pada meme yang sering beredar, dimana mereka berdua tertawa-tawa mempermainkan Trump? Mungkin seperti itulah Thucydides.
Taufik Hidayat
Waduh artikel abah kali ini mencakup tentang waktu 2500 tahun. Mesti membaca kembali sejarah Yunani kuno yang dulu terdiri dari kota-kota seperti Sparta dan Athena yang digambarkan dalam perang Pelopenessus . Menarik sekali Konon Sparta pun akhirnya memenangkan perang dengan bantuan kekaisaran Persia yang kini menjadi Iran? Yunani memang menarik dengan sejarah panjang . Tapi akhirnya Yunani pun pernah jatuh di bawah kekuasaan Usmaniyyah sebelum akhirnya merdeka. Akibatnya sampai sekarang hubungan Yunani dan Turki tanpanya kurang harmonis . Dendam sejarah tidak dapat dihilangkan ? Sampai sampai untuk mencari masjid di Athena saya tidak ketemu dan ketemu nya adalah masjid rahasia di bawah tanah . Saya pun tidak tahu apa sekarang masih ada atau sudah ditutup.
Ima Lawaru
Masa SBY, calo listrik diberantas. Sebelum masa itu…di Pulau Tomia, untuk mendaftar & mendapatkan meteran listrik saja susah. Sudah susah, mahal pula. Mama mertua saya dapat meteran listrik dari petugas PLN Rp.10 juta. Tetangga-tetangga kami yg lain, ada yang lebih dari itu. Suka-suka calo. Sedangkan kami karena saking miskinnya, baru bisa mendaftar listrik di masa SBY. Kami hanya kena Rp.800.000. Gratis pasang. Saat kuliah di 2012, saya baru tahu bahwa itu karena kebijakan mantan sesuatu dulu. Di era Jokowi, calo CPNS diberantas habis. Saya ikut tes CPNS pada Desember 2018. Benar-benar tidak ada pungli. Lolos murni karena kemampuan akademik. Jauh sebelum masa Jokowi, di Wakatobi, sudah nyata lolos murnipun, dimintai uang. Kalau tidak sanggup bayar, namanya digeser orang yang mampu bayar tinggi. Tes hanya simbol. Di era itu pula, lewat kebijakan Mas Menteri Nadiem, PPG dipercepat. Ada yang baru beberapa tahun mengabdi, sudah bisa terpanggil PPG. Saya adalah guru yang merasakan dampak nyata kebijakan ini. Saya baru 6 tahun mengabdi sudah bisa PPG. Di masa sebelum Nadiem, PPG itu seperti menunggu lebaran monyet. Puluhan tahun guru-guru menunggu dalam ketidakpastian. Saya berterima kasih banyak untuk para pejabat di setiap era itu, yang mengambil kebijakan² baik itu. Dan saya berduka sangat pada Mas Nadiem. Kami guru² berduka. Kalaupun kebijakan laptop chromebook itu begitu buruk, karena terbengkalai tidak terpakai, coba lihat kebijakan² lain? Lihat IKN misalnya.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
LU BIAU.. Tiongkok memang sering menang bukan karena otot. Tapi karena aksara. Hanya dengan mengganti satu huruf Mandarin, Marco Rubio bisa berubah dari orang yang kena sanksi menjadi tamu negara. Seperti debt collector pindah nama kontak di HP: kemarin “Jangan Diangkat”. Hari ini “Om Marco”. Di situlah letak peradaban tua bekerja. Tidak gaduh. Tidak gebrak meja. Tapi lawannya sudah bingung sendiri. Amerika membawa Boeing, NVIDIA, Apple, Goldman Sachs, sampai Visa. Tiongkok cukup membawa kamus Mandarin. Selesai. Trump datang dengan gaya Mike Tyson. Xi menyambut dengan gaya pemain mahyong. Yang satu suka pukulan cepat. Yang satu sabar menyusun batu. Bedanya jauh. Tyson kalau kalah masih berkeringat. Pemain mahyong kalah pun mukanya tetap seperti habis minum teh melati. Saya jadi ingat petuah lama Tiongkok: perang terbaik adalah perang yang membuat lawan tidak sadar dirinya sedang dikalahkan. Rubio mungkin baru sadar saat visa sudah distempel. Namanya sama. Tapi orangnya ternyata “bukan dia”.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Mulyadi Pege.. Terima kasih. Iya. Aamiin.. Saya jam 4 pagi mulai olga jari tangan. Jam 7, saat matahari mulai agak pabas, saya olga jalan kaki. Minimal 30 menit. Lanjut senam kungfu kebugaran. Jam 10, baru mulai ngantor.. Olga otak.. Begitu rutinitas saya. Rutinitas sehat..
Kalender Bagus
Tidak ada musuh abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Demi kepentingan, nama pun bisa diubah.
Sugi
benar kata Abah, para pengusaha itu pilar negara yang utama, terlepas dari apa pun ideologi politik dan ekonomi yang dianut masyarakatnya. tanpa para pengusaha, apalah marwah seorang pemimpin negara. para pengusaha juga tidak bisa dihalangi batas negara, apalagi batas agama. Jatuh dan bangkitnya suatu negara sangat tergantung dari bagaimana pemimpin negara memperhatikan pengusahanya. Semoga Indonesia ke depan bisa melakukan hal yang sama. Investor kembali percaya pasar dalam negeri. Nilai rupiah kembali menguat dan stabil. Ekonomi kembali sehat dan menyehatkan. Aamiin.
xiaomi fiveplus
sebenarnya kapan batasan antara prinsip dan kompromi. apa di bukunya thucydides dijelaskan juga?
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Denik.. BERITA ITU CERMIN. BUKAN WAJAH ASLINYA.. Komentar Pak Denik menarik. Karena memang begitu cara media bekerja. Satu peristiwa bisa tampak seperti pesta persahabatan. Di media lain terlihat seperti perang dingin yang sedang libur sehari. Media memilih sudut pandang. 1) Ada yang fokus pada optimisme pasar. 2) Ada yang menyorot risiko geopolitik. 3) Ada pula yang lebih tertarik pada drama personal Trump dan Xi. Semua bisa benar. Semua juga bisa tidak lengkap. Itulah pentingnya literasi media. Jangan hanya membaca satu sumber. Bandingkan. 1) Lihat siapa narasumbernya. 2) Periksa data pendukungnya. 3) Bedakan antara fakta, opini, dan suasana hati penulisnya. Di era digital, berita bukan lagi sekadar informasi. Ia sudah menjadi industri perhatian. Judul dibuat agar diklik. Narasi dibuat agar diingat. Kadang emosi lebih laku daripada angka statistik. Karena itu pembaca modern tidak cukup hanya pintar membaca. Ia juga harus pintar menyaring. Kebenaran sering tidak tinggal di satu kanal YouTube. Tidak juga di satu grup WA. Biasanya ia tersebar di tengah-tengah. Di antara optimisme dan kecemasan. Di antara tepuk tangan dan tanda tanya.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Satria Selamat. Pertamax Turbo!!










