INDOPOSCO.ID – Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) merespons cepat informasi mengenai kondisi kehidupan Suku Togutil di kawasan Hutan Tayawi, Tidore. Suku ini masih tergolong komunitas adat yang kuat mempertahankan tradisi, termasuk dalam sistem kepercayaan, kekerabatan, mata pencaharian, serta pola tempat tinggal.
Pada awalnya, masyarakat Suku Togutil hidup berpindah-pindah dengan mata pencaharian berburu dan meramu (food gathering economy), sehingga membutuhkan waktu untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Untuk menangani persoalan tersebut, Kementerian Sosial menugaskan Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil, unit kerja yang secara khusus menangani komunitas adat di Indonesia.
Direktorat ini telah memiliki data terukur mengenai berbagai komunitas adat serta mampu memetakan kebutuhan, harapan, dan potensi masyarakat setempat.
Selain itu, Kemensos juga memiliki unit teknis di daerah yang berfungsi mempercepat penanganan persoalan sosial. Salah satunya adalah Sentra Wasana Bahagia di Ternate, Maluku Utara, yang wilayah kerjanya mencakup Provinsi Maluku dan Maluku Utara.
Terkait penanganan Suku Togutil, Kepala Sentra Wasana Bahagia Ternate, Osep Mulyani, mengatakan bahwa setelah dilakukan pemetaan di lapangan, pihaknya memberikan berbagai bantuan kepada warga.
“Sentra Wasana Bahagia memenuhi kebutuhan warga terkait penguatan nutrisi, pemenuhan kebutuhan hidup sehat dan kebersihan diri, pemberian sandang, perlengkapan tidur, hingga pemeriksaan kesehatan,” ujarnya.
Selain bantuan fisik, Sentra Wasana Bahagia juga secara terjadwal memberikan penyuluhan sosial dan edukasi sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat Togutil.
Osep menjelaskan, bantuan tersebut disalurkan kepada warga Togutil di kawasan Hutan Tayawi, Desa Coli, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, yang hingga kini masih memegang kuat adat istiadat secara turun-temurun.
Penyerahan bantuan dilakukan bersama Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, pada Rabu (6/5/2026).
Gubernur Sherly mengatakan, “Suku Togutil harus kita dampingi dan diberdayakan sesuai potensi yang dimilikinya. Mereka harus maju mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi.”
Sementara itu, pemerhati adat di Ternate, Abdurahman Munim, menyebutkan bahwa saat ini banyak warga Suku Togutil yang telah memeluk agama Islam maupun Kristen berkat pendampingan yang dilakukan secara konsisten oleh berbagai pihak.
Perwakilan warga Togutil, Yosep, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah.
“Terima kasih atas perhatian Kemensos dan Pemerintah Provinsi. Ini kali pertama seorang gubernur datang ke suku kami. Terima kasih kepada Kemensos yang secara terjadwal membimbing dan mendidik kami hingga saat ini kami bisa berkomunikasi dengan warga di luar suku dan memiliki tempat tinggal menetap,” katanya. (srv)











