INDOPOSCO.ID – Batik resmi diakui UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai warisan budaya tak benda 2 Oktober 2009 silam. Berbagai program terus digalakkan untuk menjaga warisan tersebut hingga saat ini.
Upaya pelestarian batik sekaligus pemberdayaan penyandang disabilitas terus berkembang melalui kehadiran Akademi Batik Tulis yang berkolaborasi dengan Rumah Batik Palbatu. Program ini tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga wadah inklusif untuk berkarya, berinteraksi, dan membangun kemandirian ekonomi bagi teman-teman tulis.
Didirikan oleh Budi Dwi Haryanto, Rumah Batik Palbatu telah lebih dari satu dekade menjadi pusat edukasi dan produksi batik di ibu kota. Melalui Akademi Batik Tulis, pihaknya ingin membuka akses yang lebih luas bagi lulusan sekolah luar biasa (SLB) yang kerap menghadapi keterbatasan dalam melanjutkan pendidikan.
“Kami ingin memberikan tempat yang nyaman bagi teman-teman tuli untuk berkarya. Tidak hanya belajar selama tiga semester, tetapi juga kami dampingi agar mereka bisa mandiri dan memiliki nilai ekonomi bagi keluarganya,” ujar Budi Dwi Haryanto, Kamis (16/4/2026).
Pria yang akran disapa Harry itu menambahkan bahwa program ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan, di mana banyak lulusan SLB kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena berbagai faktor, seperti akses, biaya, hingga keterbatasan fasilitas.
“Banyak dari mereka yang punya potensi, tapi bingung setelah lulus. Akademi ini hadir sebagai jawaban, agar mereka tetap bisa berkembang dan menciptakan sesuatu,” katanya.
Akademi Batik Tulis juga menekankan proses membatik yang autentik, mulai dari penciptaan motif, penggunaan malam panas, hingga tahap akhir produksi. Hal ini dilakukan untuk meluruskan pemahaman bahwa batik bukan sekadar motif pada kain, melainkan proses budaya yang memiliki nilai tinggi.
Di sisi lain, dukungan juga datang dari pihak PLN yang melihat program ini sebagai inisiatif strategis dalam pemberdayaan masyarakat.
Perwakilan PLN, Haris Andika, Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN UID Jakarta Raya menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang telah terjalin dan dampak yang dihasilkan.
“Kami melihat ini bukan sekadar pelatihan, tetapi sudah sampai pada level prestasi. Bahkan karya-karya dari sini sudah mendapatkan penghargaan tingkat provinsi hingga nasional,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas melalui sertifikasi bagi peserta.
“Ke depan, kami berharap ada peningkatan, termasuk sertifikasi bagi peserta. Jadi mereka tidak hanya pernah belajar, tetapi juga memiliki pengakuan kompetensi yang bisa dibawa ke tingkat yang lebih luas,” tambahnya.
Program ini juga membuka peluang kolaborasi lintas pihak, termasuk masyarakat umum, untuk belajar dan memahami budaya teman tuli melalui interaksi langsung. Dengan pendekatan inklusif dan berkelanjutan, Akademi Batik Tulis di Rumah Batik Palbatu diharapkan menjadi model pemberdayaan yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menciptakan kesetaraan dan peluang bagi semua.
“Harapan kami sederhana, mari bersama membangun kesetaraan. Dari batik, kita belajar saling memahami dan saling mendukung,” tutup Haris. (ney)










