INDOPOSCO.ID – Langkah konkret menuju masa depan energi rendah emisi kembali diperlihatkan oleh PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Dua subholding PT Pertamina (Persero) ini menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk membangun ekosistem maritim yang mendukung pengangkutan dan infrastruktur energi rendah karbon.
MoU diteken oleh Direktur Utama PIS, Surya Tri Harto, dan Direktur Utama PGN, Arief Kurnia Risdianto, Jumat (10/4/2026), disaksikan jajaran direksi kedua perusahaan.
Kerja sama ini mencakup pembangunan dan pemanfaatan infrastruktur serta moda transportasi maritim untuk kargo Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair, amonia, hidrogen, dan produk bahan bakar rendah karbon lainnya.
“Kita bicara optimal value untuk Pertamina Group, bukan hanya PIS atau PGN. Dengan rencana memiliki infrastruktur transportasi gas, termasuk yang terapung, kita kaji opsi investasi jangka panjang agar tidak terekspos fluktuasi pasar,” ujar Surya.
Sinergi ini merupakan eskalasi dari kolaborasi yang telah berjalan. Sejak 2024, PIS tercatat telah melakukan 17 kali pengangkutan LNG untuk PGN menuju Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Lampung, Jawa Barat, dan Terminal Arun dengan skema spot charter.
Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto juga menyampaikan kerja sama ini merupakan pengembangan dari kerja sama PIS dan PGN yang telah berjalan sebelumnya. Di mana sejak 2024, PIS telah mengangkut sebanyak 17 kali angkutan LNG untuk PGN ke FSRU Lampung dan Jawa Barat, serta Terminal Arun dengan skema spot charter.
“Kerja sama yang terjalin kita eskalasi, kembangkan yang pada prinsipnya mencakup pengembangan kepemilikan, pembangunan, pengelolaan sektor midstream hingga downstream gas. Sehingga Pertamina Group memiliki infrastuktur yang matang dan menyiapkan Indonesia di era LNG. Di mana makin ke depan, porsi LNG akan makin besar, sehingga perlu infrastruktur tambahan. Kita coba kembangkan, sehingga nanti kita tidak hanya jadi penonton, tapi juga ada kepemilikan di infrastruktur ini,” ujarnya.
Kerja sama akan ditindaklanjuti melalui pembentukan tim kerja untuk menjajaki proyek konkret dan skema jangka panjang. Fokusnya meliputi penguatan armada, diversifikasi kargo, serta dukungan infrastruktur untuk komoditas energi rendah karbon.
Langkah ini diyakini memperkuat peran Pertamina Group sebagai penyedia solusi energi terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus menopang ketahanan energi nasional dari sisi logistik maritim.
Sinergi PIS dan PGN menjadi fondasi penting dalam membangun rantai pasok LNG, amonia, dan hidrogen berbasis maritim sebuah ekosistem yang diproyeksikan menjadi tulang punggung transisi energi Indonesia ke depan. (rmn)










