INDOPOSCO.ID – Di tengah derasnya arus informasi, cara publik menyikapi pendapat pengamat dinilai masih belum sepenuhnya tepat. Analisis kerap diperlakukan layaknya horoskop (ramalan), dipercaya hanya ketika terasa menyenangkan, dan diabaikan saat tak sesuai harapan.
Analis komunikasi politik, Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa, menilai pola pikir semacam itu perlu diluruskan. Ia menekankan bahwa analisis tidak bisa disamakan dengan horoskop yang sejak awal memang tidak berbasis pada data yang bisa diuji.
“Menurut saya, bedakan antara analisa pengamat dengan horoskop, kalau horoskop ya sudah dibaca saja, mau baik, mau benar, semuanya tuh enggak perlu terlalu dipercaya karena tak ada data pasti,” ujar Hensa melalui gawai, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, setiap analisis lahir dari proses yang tidak sederhana, mulai dari pengumpulan data, pembacaan konteks, hingga penilaian terhadap berbagai variabel yang saling berkaitan. Karena itu, menurutnya, tidak adil jika kualitas sebuah analisis hanya diukur dari apakah prediksinya terbukti di masa depan.
“Analisis dan pendapat pengamat itu, kalau pun enggak kejadian perkataannya, pada dasarnya itu sudah menggunakan data,” kata Hensa.
Lebih jauh, Hensa juga menyoroti kecenderungan publik yang cenderung reaktif dan selektif dalam merespons pandangan pengamat. Ia melihat, banyak orang hanya menerima analisis yang sejalan dengan ekspektasi mereka, sementara yang tidak sesuai langsung ditolak mentah-mentah.
“Sayangnya, terkadang orang tuh mendengarkan analisa pengamat seperti baca horoskop, kalau gak bagus ya gak dipercaya, dirobek-robek, kalau bagus dibilang ‘wah ini bener ini pengamat’,” tutur Hensa.
Menurutnya, pendekatan semacam itu justru menghambat ruang diskusi yang sehat. Ia mendorong agar setiap analisis diposisikan sebagai bahan kajian, bukan sekadar pembenaran atas preferensi pribadi.
“Nah, menurut saya seharusnya enggak usah begitu, jadi pernyataan pengamat itu ya dibaca saja sebagai analisa dan pendapat, dan baik buruknya justru harus dikaji oleh semua pihak, termasuk pemerintah,” tambahnya.
Pada akhirnya, Hensa mengingatkan bahwa analisis adalah bagian dari proses memahami realitas, bukan sekadar ramalan yang dicari kebenarannya semata. Dalam ruang publik yang semakin dinamis, kedewasaan dalam menyaring dan menilai informasi menjadi kunci utama. (her)










