INDOPOSCO.ID – PT Pertamina Drilling Services Indonesia kembali menunjukkan taringnya di level global dengan tampil di ajang Offshore Technology Conference Asia 2026 yang digelar pada 31 Maret hingga 2 April 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Dalam ajang industri migas kelas dunia tersebut, Pertamina Drilling mengangkat tema “Pertamina Drilling Capabilities Through Integrated Project Management” yang dipresentasikan langsung oleh Bidding & Business Performance Manager, Ahmad Burhan Noviaris.
Dalam pemaparannya, Burhan menjelaskan bahwa Pertamina Drilling saat ini mengoperasikan total 57 rig, terdiri dari 53 rig darat dengan kapasitas mulai dari 150 HP hingga 2.000 HP, serta dua jack-up rig dan dua offshore workover rig.
“Seluruh kapabilitas ini kami integrasikan untuk memastikan efisiensi dan kinerja operasi pengeboran yang optimal,” ujar Burhan dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).
Tak hanya mengandalkan rig, perusahaan juga memperkuat lini bisnisnya melalui layanan Non-Rig Services yang berperan penting dalam mendukung kelancaran operasional pengeboran secara menyeluruh.
Di bidang pengembangan sumber daya manusia, Pertamina Drilling memiliki Indonesia Drilling Training Center (IDTC), sebuah fasilitas pelatihan berstandar internasional yang dilengkapi simulator, rig nyata, serta peralatan lengkap.
Melalui IDTC, berbagai program pelatihan dan sertifikasi disiapkan untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus meningkatkan aspek keselamatan dan profesionalisme tenaga kerja migas.
Lebih jauh, perusahaan juga memperkenalkan konsep Integrated Project Management (IPM), sebuah pendekatan layanan terintegrasi yang menggabungkan keahlian, proses, dan teknologi dalam satu sistem terpadu.
Tak berhenti di situ, Pertamina Drilling juga mengembangkan Integrated Drilling Engineering Supervisory and Services (IDESS) sebagai solusi engineering dan supervisi yang lebih komprehensif.
Salah satu inovasi yang paling mencuri perhatian adalah teknologi Extended Reach Reservoir Access (ERRA), teknik pemboran terarah untuk meningkatkan perolehan minyak pada tahap Improved Oil Recovery (IOR) dan Enhanced Oil Recovery (EOR).
Teknologi ERRA bekerja dengan menciptakan saluran horizontal pendek sepanjang 45 hingga 80 kaki menuju reservoir, dengan arah yang terkontrol dan tervalidasi melalui survei.
“Keunggulan lainnya, ERRA dapat dioperasikan menggunakan peralatan yang lebih ringan seperti workover unit, hoist, atau snubbing unit, tanpa memerlukan rig besar. Desainnya yang modular juga memungkinkan mobilisasi lebih mudah karena dapat diangkut dalam kontainer 40 kaki,” jelas Burhan.
Dari sisi performa, teknologi ini terbukti mampu meningkatkan produksi minyak secara signifikan, bahkan hingga lima kali lipat pada reservoir karbonat dan mencapai sepuluh kali lipat pada reservoir sandstone.
“ERRA menjadi solusi inovatif yang efisien dan fleksibel untuk mengakses sisa cadangan minyak, sekaligus menekan biaya operasional dibanding metode pengeboran konvensional,” tambahnya.
Keikutsertaan Pertamina Drilling dalam OTC Asia 2026 menjadi langkah strategis untuk memperkuat eksistensi di pasar global sekaligus menegaskan komitmen perusahaan dalam menghadirkan solusi energi yang inovatif.
Sebagai bagian dari ekspansi internasional, perusahaan juga menggelar berbagai pertemuan bisnis dengan sejumlah perusahaan global seperti PTTEP Malaysia, SLB Asia Pacific, Halliburton Asia Pacific, UZMA Malaysia, Baker Hughes Asia Pacific, Weatherford Asia Pacific, dan Clarkson Plateu Global.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir jajaran pimpinan, mulai dari Direktur Utama Avep Disasmita, Direktur Pemasaran & Pengembangan Jufrihadi, VP Marketing & Commercial Firmansyah Arifin, hingga VP Rig Services Operation Komedi. (her)









