Ia menyatakan bahwa penderitaan korban konflik adalah penderitaan kemanusiaan secara universal sehingga sikap abai di tengah situasi tersebut tidak dapat dibenarkan.
“Kita tidak bisa berdiam diri di hadapan penderitaan begitu banyak orang, para korban tak berdaya dari konflik-konflik ini. Apa yang menyakiti mereka menyakiti seluruh umat manusia,” ujar Paus Leo.
Ia juga menyerukan konsistensi dalam doa sebagai upaya untuk menghentikan konflik dan membuka peluang bagi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.
“Saya dengan tegas memperbarui seruan saya agar kita tetap tekun dalam doa, sehingga permusuhan dapat berhenti dan jalan menuju perdamaian akhirnya dapat terbuka,” imbuh Paus asal Amerika Serikat tersebut.
Seruan Perdamaian dari Vatikan
Paus Leo sebelumnya menyatakan keprihatinan mendalam atas perkembangan konflik di Iran dan kawasan Timur Tengah yang terus memanas.
Dalam doa Angelus di Lapangan Santo Petrus di Vatikan pada Minggu (8/3/2026), ia mendesak agar kekerasan segera dihentikan dan ruang dialog kembali dibuka.
“Di tengah berbagai peristiwa kekerasan dan kehancuran serta suasana kebencian dan ketakutan yang meluas, muncul pula kekhawatiran bahwa konflik ini dapat menyebar dan negara-negara lain di kawasan, termasuk Lebanon yang kami kasihi, dapat kembali terjerumus ke dalam ketidakstabilan,” tutur Paus Leo XIV. (dan)










