INDOPOSCO.ID – Di tengah tantangan sumur migas yang kian menua, perwira Pertamina EP Rantau membuktikan bahwa inovasi sederhana dapat menghasilkan dampak luar biasa. Melalui teknologi Ultimate Sand Trap (USAT), perusahaan berhasil menekan risiko kehilangan produksi (loss production) akibat masalah kepasiran sekaligus mendongkrak pendapatan hingga miliaran rupiah.
Inovasi ini menjadi jawaban atas persoalan klasik di lapangan migas mature, di mana pasir kerap ikut terbawa bersama aliran fluida dan merusak kinerja pompa. Tak hanya menurunkan efisiensi, kondisi tersebut juga meningkatkan biaya perawatan dan potensi kehilangan produksi.
Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, menjelaskan bahwa permasalahan kepasiran menjadi tantangan utama di lapangan tersebut.
“Sumur-sumur migas yang telah mature di PEP Rantau sering mengalami kepasiran. Pasir yang ikut naik dapat merusak pompa dan menghambat pengangkutan minyak mentah,” ujarnya, dikutip Kamis (19/3/2026).
Sebelumnya, tim telah mengembangkan inovasi We Are Fines pada 2023. Namun, untuk menyempurnakan solusi, USAT mulai dikembangkan dan diaplikasikan sejak 2024.
“Dengan kombinasi dua inovasi ini, permasalahan kepasiran bisa diatasi dari berbagai aspek,” tambah Tomi.
Saat ini, metode We Are Fines telah diterapkan di seluruh sumur, sementara USAT telah diimplementasikan di tiga sumur utama yakni P-420, P-383, dan P-406 hingga September 2025. Sebelum inovasi diterapkan, risiko kepasiran bahkan sempat mencapai 62 persen.
USAT sendiri merupakan aksesoris tambahan yang dipasang di tengah tubing pada pompa Electric Submersible Pump (ESP). Fungsinya menahan pasir agar tidak masuk ke dalam pompa, melainkan terperangkap di sela tubing.
Dengan mekanisme ini, pompa tetap dapat beroperasi optimal dalam mengalirkan fluida ke permukaan, bahkan memiliki kemampuan melakukan reserve circulating saat terjadi penyumbatan.
Petroleum Engineering PEP Rantau, Andi Surianto Sinurat, menjelaskan bahwa biaya pembuatan USAT relatif murah, sekitar Rp3 juta per unit dengan masa pakai hingga satu tahun.
“Proses pembuatannya hanya membutuhkan waktu tiga hari dengan material sederhana seperti tubing, coupling, kawat, dan mata bor,” jelasnya.
Meski sederhana, dampak yang dihasilkan sangat signifikan. Sejak Januari 2024 hingga September 2025, inovasi ini berhasil menekan biaya rig hingga 50 persen dan mengurangi loss produksi sebesar 4 persen.
“Artinya, bukan hanya efisiensi yang meningkat, tetapi juga produksi dan pendapatan perusahaan ikut bertambah,” tegas Andi.
Lebih dari sekadar efisiensi biaya, inovasi USAT dan We Are Fines terbukti menjadi solusi efektif dalam mengatasi persoalan kepasiran di sumur-sumur migas PEP Rantau.
Atas keberhasilan tersebut, tim PC Prove Alumni Pasir PEP Rantau meraih penghargaan Platinum pada ajang Upstream Improvement & Innovation Award (UIIA) 2025 Subholding Upstream Pertamina, yang diikuti 108 delegasi terbaik dari seluruh unit.
Tomi pun mengapresiasi kontribusi seluruh tim yang terlibat dalam pengembangan inovasi ini.
“Inovasi USAT merupakan hasil karya internal perwira PEP Rantau. Ini menunjukkan komitmen kami untuk terus berinovasi dalam menjaga dan meningkatkan produksi migas nasional,” pungkasnya. (srv)








