INDOPOSCO.ID – Kinerja hulu migas di kawasan timur Indonesia menunjukkan tren positif. Pertamina melalui Regional Indonesia Timur Subholding Upstream berhasil melampaui target produksi 2025 dan kini bersiap menggenjot eksplorasi serta pengembangan lapangan baru guna mengoptimalkan potensi minyak dan gas bumi (migas) di kawasan tersebut.
Direktur Regional Indonesia Timur Ruby Mulyawan menyampaikan, pencapaian target menjadi pijakan untuk akselerasi program peningkatan produksi pada 2026. Berbagai strategi disiapkan, mulai dari workover sumur, pemboran sumur pengembangan dan eksplorasi, hingga penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) seperti CO₂ flood yang tengah dikembangkan di Lapangan Sukowati. Digitalisasi operasi juga dilakukan secara agresif untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi produksi.
“Untuk mencapai target, diperlukan keseragaman tata nilai dan disiplin penerapan HSSE di seluruh wilayah operasi, baik di kantor regional maupun zona,” kata Ruby, dalam pemaparannya di Town Hall Meeting yang dikuti oleh seluruh perwira baik secara offline dan online pada Senin (9/3/2026).
Selain aspek keselamatan, perusahaan menekankan komitmen terhadap pencapaian Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) serta integritas dalam pengelolaan proses bisnis dan hubungan dengan para pemangku kepentingan di wilayah operasi.
Sepanjang 2025, Regional Indonesia Timur mencatat produksi migas sebesar 208,5 Mboepd atau 100,4% dari target RKAP, sementara lifting mencapai 171,0 Mboepd atau 102,9% dari target. Untuk menjaga keberlanjutan produksi, perusahaan juga melakukan aktivitas eksplorasi dan pengembangan secara masif, yakni pengeboran 6 sumur eksplorasi, 12 sumur pengembangan, serta 17 kegiatan workover sumur.
Komisaris Pertamina EP Cepu, Tri Winarno, menilai capaian tersebut menunjukkan performa operasional yang solid. Namun, ia mengingatkan bahwa dinamika geopolitik global tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi industri migas ke depan.
“Kinerja 2025 cukup baik, produksi dan lifting tercapai. Untuk 2026, kita perlu memperhatikan kondisi geopolitik global agar strategi yang ditetapkan tetap tepat,” ujarnya.
Regional Indonesia Timur mengelola wilayah operasi yang luas, meliputi Jawa Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, baik aset offshore maupun onshore. Salah satu aset strategis di kawasan ini adalah Donggi Senoro LNG yang menjadi simpul penting rantai pasok gas nasional.
Wilayah kerja regional ini terbagi dalam beberapa zona besar, yakni Zona 11 yang meliputi Alas Dara Kemuning, Cepu, WMO, Randugunting, Sukowati, Poleng, dan Tuban East Java; Zona 12 yang mencakup Jambaran Tiung Biru dan Banyu Urip; Zona 13 yang meliputi Donggi Matindok, Senoro Toili, Makassar Strait, dan Melati; serta Zona 14 yang mencakup Papua, Salawati, Salawati Basin, dan Binaiya.
Dengan potensi sumber daya yang masih besar dan belum sepenuhnya tergarap, kawasan timur Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung produksi migas nasional di masa depan.
Ruby menegaskan, berbagai penghargaan nasional dan internasional yang diraih sepanjang 2025 menjadi bukti kinerja optimal seluruh perwira regional sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kontribusi bagi ketahanan energi nasional. (srv)










