INDOPOSCO.ID – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Januari 2026 tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global. Pemerintah mencatat realisasi pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun atau 5,5 persen dari target APBN, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, realisasi belanja negara tercatat Rp227,3 triliun, sehingga terjadi defisit sebesar Rp54,6 triliun atau sekitar 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pengawasan Bea Cukai Diperkuat
Sejalan dengan kinerja fiskal tersebut, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga memperkuat fungsi pengawasan. Hingga Januari 2026, Bea Cukai telah melakukan 1.243 penindakan rokok ilegal serta 95 penindakan narkotika.
Dari penindakan tersebut, aparat berhasil mengamankan sekitar 249 juta batang rokok ilegal dan 0,21 ton narkotika, sebagai upaya melindungi masyarakat sekaligus menjaga penerimaan negara.
Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai Budi Prasetiyo mengatakan APBN memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“APBN menjadi instrumen utama pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat, serta membiayai berbagai program pembangunan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Ekonomi Tetap Tahan di Tengah Tekanan Global
Meski menghadapi berbagai tantangan global, perekonomian Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan.
Beberapa indikator ekonomi masih bergerak positif, seperti inflasi yang tetap terkendali, surplus perdagangan yang berlanjut, arus modal asing yang masih masuk ke pasar domestik.
Selain itu, indikator konsumsi masyarakat seperti penjualan ritel dan kendaraan bermotor juga masih tumbuh, menandakan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Penerimaan Negara
Dari sisi penerimaan negara, kinerja perpajakan hingga Januari 2026 mencapai Rp138,9 triliun atau 5,2 persen dari target APBN.
Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat Rp33,9 triliun atau 7,4 persen dari target APBN.
Pada sektor kepabeanan dan cukai, realisasi penerimaan mencapai Rp22,6 triliun atau 6,7 persen dari target APBN, meskipun mengalami kontraksi sekitar 14 persen secara tahunan (year on year).
Secara rinci, bea masuk: Rp3,7 triliun atau 7,4 persen dari target APBN (kontraksi 4,4 persen yoy). Bea keluar: Rp1,4 triliun atau 3,4 persen dari target APBN (turun 41,6 persen) akibat penurunan harga Crude Palm Oil. Cukai: Rp17,5 triliun atau 7,2 persen dari target APBN (kontraksi 12,4 persen).
“Realisasi cukai mencapai Rp17,5 triliun atau 7,2 persen dari target APBN, dengan kontraksi 12,4 persen yang dipengaruhi penurunan produksi pada akhir tahun 2025,” jelas Budi.
Penindakan Rokok Ilegal Melonjak
Selain fungsi penerimaan negara, Bea Cukai juga memperkuat pengawasan untuk melindungi masyarakat dari peredaran barang ilegal.
Hasil penindakan terhadap rokok ilegal meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Jumlah rokok ilegal yang berhasil diamankan mencapai sekitar 249 juta batang, meningkat 295,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Budi.
Sementara itu, penindakan terhadap narkotika menghasilkan barang bukti sekitar 0,21 ton, meningkat 111,7 persen secara tahunan.
Budi menegaskan keberhasilan tersebut tidak terlepas dari sinergi antarinstansi serta dukungan masyarakat.
“Kami mengapresiasi dukungan dan partisipasi masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan dalam membantu kami menjalankan tugas pengawasan dan pengamanan penerimaan negara,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan APBN sekaligus mendukung pembangunan nasional. (ipo)




















